Kultum Ramadhan: Mulia dalam Kemandirian dan Kedermawanan
Oleh Ammar Syarifuddin (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur)
Download PDF di sini.
Para sahabat Rasulullah ﷺ adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka tidak hanya belajar ilmu dari Rasulullah ﷺ, tetapi juga belajar bagaimana cara mengamalkannya.
Oleh sebab itu, ketika para Sahabat mendapat pelajaran dari Nabi, mereka akan bersungguh-sungguh dalam mengamalkannya.
Mereka belajar dan menyaksikan langsung teladan terbaik dari manusia terbaik; baginda Rasulullah ﷺ. Baik dalam kemandirian maupun kedermawanan.
Kedermawanan Rasulullah ﷺ
Diriwayatkan bahwa Hakim bin Hizam pernah berkata, “Suatu hari aku meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Aku meminta lagi pada beliau, beliau pun memberiku lagi. Aku meminta lagi, lalu beliau pun memberiku.
Selanjutnya beliau bersabda, ‘Wahai Hakim. Sesungguhnya harta ini sesuatu yang hijau dan manis. Siapa mengambilnya dengan jiwa kedermawanan, maka ia mendapatkan keberkahan dalam hartanya.
Siapa mengambil harta dengan ketamakan, niscaya tidak akan mendapatkan keberkahan. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.’”
Hakim melanjutkan, “Wahai Rasulullah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak ingin lagi menerima apapun dari orang sepeninggalmu nanti, sampai aku menutup mata.”
Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu padanya, tapi Hakim menolak untuk menerima pemberian itu.
Umar pun pernah memanggilnya untuk memberinya sesuatu, tapi ia juga enggan menerimanya.
Lantas Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin. Aku mempersaksikan kalian semua atas diri Hakim, bahwa aku memberikan kepadanya harta rampasan perang yang telah Allah ﷻ bagi untuknya, tetapi ia menolak untuk mengambil haknya.”
Dikabarkan bahwa Hakim memang tidak pernah menerima suatu pemberian pun setelah Nabi wafat hingga ia meninggal dunia.
Hikmah dalam Kedermawanan dan Kemandirian
Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits di atas;
Pelajaran pertama: Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita bermurah hati ketika memberi dan tidak bakhil.
Berdasarkan keterangan dari Hakim bahwa dia meminta kepada Nabi ﷺ sebanyak tiga kali, dan Nabi ﷺ tetap memberinya.
Kedermawanan Rasulullah ﷺ tak tertandingi, suatu hari beliau pernah memberi pemberian yang mencengangkan; beliau memberi salah seorang sahabat kambing yang sangat banyak.
Laki-laki tersebut sangat kagum dengan kedermawanan Rasulullah ﷺ, hingga ia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian. Demi Allah, jika Muhammad sudah memberi sesuatu, maka ia tidak takut miskin.” (HR. Muslim)
Beliau ﷺ juga pernah berpesan kepada Bilal, “Berinfaklah wahai Bilal! Jangan takut diberi sedikit (harta) oleh Dzat Yang memiliki Arsy.” (HR. Al-Bazzar)
Pelajaran kedua: Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan Allah ﷺ dan tidak meminta-minta kepada manusia.
Beliau berpesan, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”
Nabi ﷺ mendidik para sahabat dengan akhlak mulia yang disebut at-ta’afuf, yaitu sikap untuk menjaga harga diri dari perkara haram.
Termasuk di dalamnya adalah menjaga kehormatan, tidak bergantung kepada manusia dan tidak gampang meminta-minta sekalipun tengah butuh.
Rasulullah menjelaskan pahala dan balasan bagi siapa saja yang menahan diri dari meminta-minta.
Beliau bersabda, “Penghuni surga itu ada tiga macam (yaitu); penguasa yang berlaku adil, jujur dan dikaruniai taufik — yakni pertolongan Allah ﷻ untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, seorang penyayang dan lemah lembut kepada kerabatnya dan kepada sesama muslim, dan seorang fakir yang menahan diri dari meminta-minta, meskipun ia mempunyai keluarga banyak (yang harus dinafkahi).” (HR. Muslim).
Islam menganjurkan umatnya untuk menahan diri dari meminta-minta kepada sesama manusia. Sebab, bergantung dan meminta-minta pada manusia dapat merendahkan harga diri seseorang.
Seberapa besar ketergantungan seseorang kepada manusia, sebesar itu pula harga dirinya berkurang di mata manusia dan semakin sedikit rasa cinta yang ada di hati mereka.
Sebaliknya, ketika kita hanya butuh kepada Allah ﷻ, maka manusialah yang akan merasa butuh dengan kita.
Sa’id bin Al-Musayyib berkata, “Barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah ﷻ, maka manusia akan butuh kepadanya.”
Oleh karena itu Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berdoa memohon kepada Allah akhlak mulia ini dengan doa berikut;
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk dalam ilmu dan amal, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim)
Bagaimana jika ada orang yang memberi sesuatu kepada kita, padahal kita tidak memintanya?
Menerima pemberian bukan hal yang tercela. Justru menerima pemberian orang yang ikhlas sejatinya adalah menjunjung tinggi adab sehingga tidak akan mengecewakan si Pemberi.
Rasulullah ﷺ sendiri mau menerima hadiah dan memanfaatkannya.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan bagian zakat kepada Umar bin Al-Khaththab, maka Umar pun berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah kepada orang yang lebih fakir dariku.”
Rasulullah ﷺ pun bersabda kepadanya, “Ambil dan pergunakanlah untuk keperluanmu, atau sedekahkan! Apabila kamu diberi orang sesuatu pemberian tanpa kamu idam-idamkan dan tanpa meminta-minta, terimalah pemberian itu. Tetapi ingat, sekali-kali jangan meminta.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah).
Pelajaran ketiga: Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk bekerja dan berusaha.
Islam menuntun umatnya untuk bekerja. Jadi Islam bukan agama yang menjadikan pemeluknya hanya beribadah dan tidak bekerja.
Banyak ayat dan hadits tentang bekerja dan berusaha.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat juga menunjukkan keteladanan yang luar biasa dalam bekerja dan berjuang hingga umat Islam menjadi pembangun peradaban dan meraih kejayaan.
Allah ﷻ berfirman, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.” (QS. At-Taubah: 105)
Pelajaran keempat: Teladan dari para sahabat.
Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadikan akhlak mulia ini sebagai jalan hidup mereka. Sebagaimana dijelaskan hadits Hakim di atas, bahwa setelah Rasulullah wafat beliau tidak pernah meminta-minta kepada manusia.
Bahkan dipanggil oleh khalifah Abu Bakar di masanya, dan juga khalifah Umar di masanya untuk diberi harta rampasan perang, beliau tetap tidak mau.
Teladan lain adalah Abu Hurairah, sahabat yang terkenal dengan periwayatan hadis paling banyak itu pernah bertutur, dirinya tidak akan menolak pemberian hadiah.
Tetapi, ia paling pantang jika harus meminta-minta atau bahkan menjilat.
Demikian, semoga kita bisa meneladani Baginda Nabi ﷺ dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam kedermawanan, kemandirian, dan akhlak yang mulia.







