Khutbah Jum’at: Pertamax Naik, Shock Therapy Kemegahan
Oleh: Ilyas Mursito (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْخَلَّاقِ الْعَلِيمِ؛ خَالِقِ الْخَلْقِ، وَمَالِكِ الْمُلْكِ، وَمُدَبِّرِ الْأَمْرِ، لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَاهُ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ، وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ، نَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا وَاجْتَبَانَا، وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَعْطَانَا وَأَوْلَانَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ إِلَيْهِ الْمَرْجِعُ وَالْمَآبُ، وَعَلَيْهِ الْحِسَابُ وَالْجَزَاءُ، لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ، وَيُضَاعِفُ لِمَنْ أَتَى بِالْحَسَنَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ لَا خَيْرَ إِلَّا دَلَّنَا عَلَيْهِ، وَلَا شَرَّ إِلَّا حَذَّرَنَا مِنْهُ، تَرَكَنَا عَلَى بَيْضَاءَ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَأَطِيعُوهُ، وَرَاقِبُوهُ وَلَا تَعْصُوهُ؛ فَإِنَّ الْمَوْعِدَ قَرِيبٌ، وَإِنَّ الْحِسَابَ عَسِيرٌ. فهو القائل: ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1] ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [الحشر: 18]
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ [النحل: 18]
Download PDF
Khutbah Pertama
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Alhamdulillah dengan segala karunia-Nya, di siang hari ini kita masih berkesempatan untuk menikmati nikmat sehat, iman, dan Islam dengan ketaatan kepada Allah ﷻ.
Berupa kemudahan untuk melaksanakan shalat Jum’at secara berjamaah.
Semoga shalat Jum’at kali ini menjadi shalat Jum’at yang terbaik di antara shalat Jum’at yang kita lakukan selama ini, dan memberikan faedah yang banyak untuk keislaman kita serta penghambaan kepada Allah ﷻ.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada baginda Nabi, Rasulullah Muhammad ﷺ, berikut kepada para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan mereka yang senantiasa istiqamah mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya.
Tak lupa khatib wasiatkan kepada pribadi dan jamaah sekalian. Jangan lupa untuk merencanakan aktivitas kesalehan setiap harinya.
Agar kita tidak melewati hari dan kesempatan yang Allah ﷻ berikan nihil dari pertambahan iman dan takwa kepada-Nya.
Sebab tiada bekal hidup yang lebih berfaedah di akhirat nanti melebihi bekal takwa kepada Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Harga BBM mendadak naik, kondisi yang mengejutkan bagi banyak pihak. Tak ayal lagi harga kebutuhan yang lain pun juga pasti akan naik.
Banyak efek yang akan mempengaruhi cara berpikir bahkan pola hidup manusia. Dari perkara ekonomi hingga kehidupan sosial.
Dari bagaimana memutar otak untuk menyelamatkan dompet dan pundi-pundi harta, hingga saling mencela dan menyalahkan.
Hingga pada akhirnya, pihak yang disalahkan pun berupaya dengan berbagai cara untuk membela diri, meskipun dengan cara yang tidak masuk akal dan bahkan menerjang ketentuan syari.
Dari fenomena tersebut kemudian muncul satu pertanyaan menarik, apakah mungkin sebuah kondisi yang serba kekurangan menjerumuskan orang dalam lingkup apa yang difirmankan oleh Allah ﷻ dalam surat At-Takatsur?
Surat yang seringkali diartikan dengan bermegah-megahan.
Penerjemahan literal yang acap kali dikaitkan dengan mereka yang berharta.
Apakah memang seperti itu, atau bukan?
Atau adakah makna lain yang seharusnya kita pahami?
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Mari kita mencermati bagaimana para mufassir membahas hakikat “التكاثر” (at-takatsur) dalam firman Allah ﷻ
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan dan berlomba-lomba memperbanyak (urusan dunia) telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)
Jamaah yang dimuliakan Allah ﷻ
-
Tafsir Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa at-takatsur adalah
التَّفَاخُرُ وَالتَّكَاثُرُ بِالأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ وَالأَعْوَانِ
“Berbangga-bangga dan saling memperbanyak harta, anak, serta pengikut.”
Beliau juga menukil pendapat Ibn Abbas dan ulama salaf bahwa manusia disibukkan oleh perlombaan jumlah kekayaan dan kedudukan sampai lupa ketaatan kepada Allah ﷻ.
Bahkan sebagian Arab jahiliyah dahulu saling membanggakan jumlah kabilahnya sampai menghitung penghuni kuburan mereka.
Menurut Al-Qurthubi, at-takatsur adalah kesibukan memperbanyak sesuatu yang dibanggakan sehingga melalaikan ketaatan dan persiapan akhirat.
-
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
شَغَلَكُمْ حُبُّ الدُّنْيَا وَنَعِيمُهَا وَزَهْرَتُهَا
“Kalian dilalaikan oleh kecintaan kepada dunia, kenikmatannya dan perhiasannya.”
Beliau menghubungkan ayat ini dengan hadis Nabi ﷺ:
النبي ﷺ قال: يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Anak Adam berkata: hartaku, hartaku. Padahal hartamu hanyalah yang engkau makan lalu habis, yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu tersimpan untuk akhirat.” (HR. Muslim)
Dari sini dapat dipahami bahwa menurut Ibnu Katsir, at-takatsur adalah cinta dunia yang membuat manusia lupa tujuan hidup dan lupa akhirat.
-
Tafsir Ruhul Ma’ani
Imam Mahmud Al-Alusi memandang ayat ini lebih mendalam secara ruhani.
Beliau menjelaskan bahwa takatsur bukan hanya harta, tetapi: Berlomba dalam kedudukan, kemasyhuran, pengikut, ilmu yang dicari untuk kebanggaan, bahkan segala sesuatu yang menyibukkan hati dari Allah ﷻ.
Menurut Al-Alusi, takatsur adalah keterikatan hati kepada selain Allah melalui perlombaan duniawi.
Dalam pandangan beliau, penyakit utamanya bukan benda yang dimiliki, tetapi kelalaian hati (ghaflah) yang ditimbulkan olehnya.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,
-
Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir
Imam Muhammad al-Tahir Ibn Ashur menyoroti aspek sosial. Beliau menjelaskan bahwa kata التكاثر berasal dari:
طَلَبُ الكَثْرَةِ وَالمُغَالَبَةِ فِيهَا
“Keinginan memperbanyak sesuatu dan mengalahkan orang lain dengannya.”
Menurut beliau, yang dicela bukan memiliki banyak harta, tetapi: menjadikan banyaknya harta sebagai standar kemuliaan dan menjadikan kuantitas sebagai tujuan hidup.
Maka dalam pandangan beliau, at-takatsur adalah peradaban yang mengukur nilai manusia dengan jumlah dan prestise duniawi, bukan dengan ketakwaan.
Ini sangat relevan dengan budaya modern yang mengukur manusia melalui: kekayaan, jabatan, followers, popularitas, pencapaian material.
-
Tafsir As-Sa’di
Imam Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan secara ringkas:
أَلْهَاكُمُ التَّفَاخُرُ بِالأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ وَالدُّنْيَا
“Kalian dilalaikan oleh kebanggaan terhadap harta, anak-anak dan urusan dunia.”
Beliau menegaskan bahwa kelalaian itu berlangsung:
حَتَّى جَاءَكُمُ الْمَوْتُ
“Sampai kematian datang kepada kalian.”
Menurut As-Sa’di, takatsur adalah kesibukan dunia yang terus berlangsung sampai maut datang sebelum seseorang sempat memperbaiki akhiratnya.
-
Tafsir Al-Maraghi






