Minggu, Mei 24, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Khutbah

Khutbah Idul Adha: Menghayati Makna Patuh dan Berkorban

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
23/05/2026
in Khutbah, Kolom Mahasantri
0
Khutbah Idul Adha: Menghayati Makna Patuh dan Berkorban

Photo by Fatih Kopcal

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Khutbah Jum’at: Pentingnya Selalu Menyucikan Jiwa

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

Khutbah Idul Adha: Menghayati Makna Patuh dan Berkorban
Oleh Muhammad Sidik Al-Fata (Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

نَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْا بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقَائِمُ بِأَمْرِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالشُّكْرِ وَهَذَا الدِّيْنِ مَتِيْنٌ فَأَوْثِقُوْا عُرَاهُ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ, فَأَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Download PDF di sini. 

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Tidak ada perkara yang lebih penting dalam memaknai pertemuan kita pada pagi yang mulia ini, ketika menyambut panggilan suci yang berkumandang sejak awal bulan Dzulhijjah, selain memperbanyak rasa syukur kepada Allah ﷻ.

Allah Maha Sempurna dalam zat-Nya, Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya, dan Maha Sempurna dalam seluruh ketetapan takdir serta syariat-Nya. Siapa pun yang bersandar kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ tidak akan pernah mengecewakannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Sesungguhnya banyak air mata yang jatuh, banyak penyesalan yang muncul, dan banyak kekecewaan yang dirasakan manusia, semua itu berawal ketika hati lebih menggantungkan harapan kepada makhluk daripada kepada Allah ﷻ.

Karena itu, pada kesempatan yang mulia ini, kita bersyukur kepada Allah ﷻ atas seluruh nikmat dan ketaatan yang Allah ﷻ anugerahkan kepada kita.

Sebab sesungguhnya, kemampuan kita hadir di majelis Idul Adha ini bukan karena hebatnya iman kita, bukan pula karena kuatnya ketakwaan kita. 

Akan tetapi semata-mata karena pertolongan Allah ﷻ kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki untuk berada di atas keimanan dan ketakwaan.

Maka kepada Allah sajalah seluruh syukur kita panjatkan.

Karena hakikatnya, bukan kebahagiaan yang menjadikan seseorang bersyukur. Tetapi justru dengan bersyukur Allah ﷻ akan menghadirkan kebahagiaan hadir di dalam hidup kita.

Betapa banyak orang yang memiliki harta namun tidak bahagia. Betapa banyak orang yang memiliki kedudukan namun hidupnya gelisah. Bahkan tidak sedikit orang yang memiliki ilmu dan kehormatan, namun hatinya tetap sempit dan penuh kegundahan.

Sesungguhnya akar dari banyak kegelisahan hidup adalah kurangnya rasa syukur kepada Allah ﷻ atas takdir dan syariat yang Allah ﷻ tetapkan dalam kehidupan ini.

Jamaah yang dimuliakan Allah ﷻ.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, manusia terbaik pilihan Allah, pemimpin seluruh orang beriman, penghuni surga yang paling mulia.

Allah ﷻ menghidupkan Rasulullah ﷺ selama enam puluh tiga tahun di tengah umat manusia; bukan sekadar agar kisah hidup beliau menjadi cerita yang kita sampaikan kepada anak-anak sebelum tidur, tetapi agar beliau menjadi teladan hidup yang menyempurnakan keimanan kita kepada Allah ﷻ.

Karena hakikat iman kepada Allah tidak akan sempurna sampai seseorang beriman dan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Hakikat cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar fasih melantunkan shalawat dengan lisan, tetapi juga bagaimana kita berusaha mengikuti sunahnya, meneladani akhlaknya, dan menyelaraskan kehidupan kita dengan tuntunan beliau ﷺ semaksimal kemampuan kita.

Karena itulah hakikat cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. 

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Tahukah kita, bahwasanya dalam rotasi satu tahun yang Allah ﷻ berikan waktunya kepada kita, ada tiga waktu yang sangat Allah cintai dan ridhai melebihi waktu-waktu yang lain, tidak ada yang mampu untuk menandingi keutamaan tiga waktu ini. 

Pertama, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Hari-hari ini sangat istimewa karena bulan Ramadhan identik dengan Nabi Muhammad ﷺ, dan pada malam-malam terakhirnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Di dalamnya terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Kedua, sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Hari-hari ini identik dengan perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Pada bulan inilah disyariatkan ibadah haji dan kurban, sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah ﷻ.

Ketiga, sepuluh hari pertama di bulan Muharram. Bulan ini identik dengan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam, ketika Allah ﷻ memberikan kemenangan kepada beliau dan menyelamatkan Bani Israil dari kezaliman Fir’aun yang ditenggelamkan di Laut Merah dengan izin Allah ﷻ.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang sangat dicintai Allah ﷻ. Pada bulan inilah disyariatkan ibadah haji dan kurban, sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah ﷻ. Kemuliaannya, sebagaimana kemuliaan bulan Ramadhan di sisi Allah ﷻ.

Bulan ini merupakan madrasah pendidikan bagi orang-orang beriman. Jika Ramadhan mendidik kita dengan puasa, sabar, dan tilawah Al-Qur’an, maka Dzulhijjah mendidik kita melalui keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam; tentang  keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan kepatuhan kepada Allah ﷻ.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. 

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Marilah kita bersama menjadi hamba yang mau belajar dari pelajaran besar yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebab teladan bagi orang-orang beriman bukan hanya Rasulullah Muhammad ﷺ, tetapi juga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. 

Allah ﷻ menegaskan hal itu dalam Surah Al-Mumtahanah ayat ke-4:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada ibrahim dan orang orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dari ayat ini kita mendapati bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah tokoh sentral yang memberikan kita pelajaran pada bulan Dzulhijjah ini.

Bahkan saking kuatnya keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, para Ulama mengatakan bahwa salah satu Nabi dan Rasul (selain Rasulullah Muhammad ﷻ) yang paling dekat derajatnya dengan Allah ﷻ nanti ketika di surga adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Berkumpulnya kita pada pagi hari ini juga merupakan bagian dari mengikuti jejak perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena itu, kita tidak boleh membiarkan madrasah bulan Dzulhijjah berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Bulan Dzulhijjah mengajarkan banyak pelajaran melalui kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Jika kita membaca kitab-kitab tafsir dan sirah, seperti kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, maka kita akan menemukan banyak pelajaran besar dari kehidupan Beliau ‘alaihissalam.

Jamaah sekalian, di antara sekian banyak pelajaran itu, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang perlu menjadi renungan bagi kita sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ dan sebagai orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Pelajaran Pertama: Keteguhan di atas Kebenaran

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdakwah di negeri Babilonia, beliau berhadapan dengan Raja Namrud, seorang penguasa yang memiliki kerajaan besar dan makmur.

Namun karena kesombongannya, Namrud mengaku sebagai tuhan dan mengajak manusia menyembah patung-patung yang dibuat menyerupai benda-benda langit.

Saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mulai berdakwah, dakwah beliau menghadapi tantangan yang sangat berat. Hampir tidak ada yang beriman kepada beliau. Bahkan, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada awalnya yang mengikuti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hanyalah istri Beliau, Sarah.

Meski demikian, Nabi Ibrahim tetap mengajak kaumnya untuk sadar bahwa patung-patung yang mereka sembah tidak mampu memberi manfaat maupun menolak mudharat sedikit pun.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Ketika nasihat dan dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak didengarkan oleh masyarakat Babilonia, maka dengan petunjuk dari Allah ﷻ beliau menghancurkan patung-patung sesembahan mereka dan menyisakan satu patung yang paling besar.

Hal itu dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam agar kaumnya sadar bahwa patung-patung tersebut tidak mampu memberi manfaat apapun, bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri.

Peristiwa itu, pada akhirnya justru membuat Raja Namrud dan masyarakat Babilonia semakin marah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman dengan dibakar hidup-hidup.

Raja Namrud lantas mengajak penduduk Babilonia mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bahkan, Ibnu Katsir menceritakan bahwa ada seorang wanita tua yang buta dan tinggal jauh di pinggir hutan. 

Ketika ia mendengar bahwa Nabi Ibrahim akan dibakar, ia tampak sangat sedih. Keluarganya pun bertanya, “Wahai nenek, mengapa engkau begitu sedih atas peristiwa ini?”

Ternyata wanita tua itu berkata, “Bukan karena aku sedih kepada Ibrahim, dan bukan pula karena kebutaanku. Tetapi aku sedih karena dengan keadaanku yang buta ini, aku tidak mampu mengumpulkan kayu untuk aku sumbangkan agar dipakai membakar Ibrahim.”

Maka kita dapatkan kayu-kayu yang dikumpulkan untuk membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam disusun sangat tinggi. Api pun dinyalakan dari bawah hingga asapnya membumbung sangat tinggi.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika ada burung melewati asap tersebut, burung itu akan hangus karena panasnya api.

Namrud melakukan semua itu karena ia ingin melihat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam takut dan menyerah. Sementara masyarakat Babilonia berkumpul menyaksikan peristiwa itu dengan sorak-sorai dan kegembiraan.

Mereka menganggap hari itu sebagai hari kemenangan karena merasa telah berhasil mengalahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Mari perhatikan ujian pertama yang Allah ﷻ berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di Babilonia. Tidak ada seorangpun yang membelanya, tidak ada seorangpun yang beriman kepadanya selain istrinya, Sarah.

Tidak ada air mata kesedihan yang menetes saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan dibakar, kecuali air mata Sarah. Dalam keadaan sendirian di atas tumpukan kayu itu, Nabi Ibrahim hanya mengucapkan:

“Hasbunallah wa ni’mal wakil.” Cukuplah Allah ﷻ yang menjadi penolong kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.

Jamaah sekalian, itulah kalimat tawakal yang lahir dari hati yang bersih dan penuh keyakinan kepada Allah ﷻ. Kalimat itulah yang kemudian diabadikan oleh Allah ﷻ sepanjang sejarah, hingga terus memberikan kekuatan dan keteguhan kepada orang-orang beriman sampai hari ini.

Dari kisah ini kita belajar bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibenci bukan karena akhlaknya buruk, tetapi karena kebenaran yang beliau bawa. Sebab para Nabi dan Rasul dimusuhi bukan karena perilaku mereka, tetapi karena dakwah tauhid yang mereka sampaikan.

Di sinilah kita memahami, jika seseorang dibenci karena akhlaknya buruk, maka itu adalah musibah.

Tetapi jika seseorang dibenci karena mempertahankan kebenaran, sementara ia sudah berusaha berakhlak baik, berbicara lembut, menghormati orang lain, tidak mudah menghina, tidak gampang menyalahkan, tidak mudah membid’ahkan dan mengkafirkan orang, lalu tetap dibenci karena kebenaran yang ia pegang, maka itulah bagian dari jejak perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Dari kisah ini pula kita memahami bahwa pertarungan antara yang hak dan yang batil akan selalu ada sepanjang zaman. Karena itu, setiap orang beriman harus memilih: apakah ia akan berdiri di pihak kebenaran atau justru sebaliknya.

Inilah pelajaran penting yang pertama bagi kita.

Maka pada hari yang penuh dengan lantunan takbir ini, hendaknya kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah kita memegang kebenaran yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya?

Dan ketika kita memegang kebenaran itu, sudahkah kita menghiasinya dengan akhlak yang baik sebagaimana akhlak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. 

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Pelajaran Kedua: Kelembutan Akhlak dalam Menghadapi Ujian Keluarga

Salah satu ujian berat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah ketika beliau harus berhadapan dengan ayahnya sendiri, Azar.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajak manusia meninggalkan penyembahan terhadap patung, sementara ayahnya justru seorang pembuat patung-patung sesembahan itu.

Azar membuat patung yang menyerupai matahari, bulan, dan bintang untuk disembah oleh masyarakat. Karena itulah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam harus menghadapi ujian yang sangat berat: berdakwah kepada ayahnya sendiri demi menegakkan tauhid dan kebenaran.

Di sinilah kita memahami bahwa orang-orang beriman terkadang mendapatkan ujian dari orang-orang terdekat mereka sendiri. Tidak terkecuali kehidupan para Nabi dan Rasul juga orang-orang shalih terdahulu. 

Bagaimana kemudian Nabi Luth ‘alaihissalam yang diuji dengan istrinya. Nabi Nuh ‘alaihissalam yang diuji dengan anaknya. Asiah binti Muzahim yang diuji dengan suaminya yaitu Fir’aun.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diuji dengan ayahnya. Dan Rasulullah ﷺ yang diuji dengan pamannya sendiri.

Semua itu Allah ﷻ tunjukkan agar kita memahami bahwa tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti memiliki ujian masing-masing dalam kehidupannya.

Kita bisa membayangkan betapa berat ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau harus berhadapan dengan ayahnya sendiri, Azar, yang merupakan pembuat patung-patung sesembahan.

Namun yang luar biasa, ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menghadapi ujian dari ayahnya sendiri, beliau tetap berbicara dengan lembut dan penuh adab. Tidak keluar dari lisannya kata-kata kasar sedikit pun.

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Terkadang seseorang sudah berada di jalan kebenaran, tetapi ketika diuji melalui keluarga baik dari suami, istri, orang tua, ataupun kerabat ia tidak mampu menjaga ucapan dan sikapnya hingga akhirnya bersikap kasar kepada orang terdekatnya.

Karena itu, marilah kita meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Walaupun ayahnya berada di atas kesyirikan, beliau tetap berdakwah dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

Beliau tidak membentak dan tidak merendahkan ayahnya. Bahkan Allah mengabadikan bagaimana lembutnya ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya:

يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, dan tidak pula dapat memberi manfaat sedikitpun kepadamu?” (QS. Maryam: 42)

Lihatlah, jamaah sekalian, bagaimana seorang anak yang saleh tetap menjaga adab kepada orang tuanya meskipun sang ayah berada di atas kesyirikan.

Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melanjutkan nasihatnya dengan penuh rasa kepedulian dan kasih sayang kepada ayahnya:

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” (QS. Maryam: 45)

Subhanallah… Seorang anak yang hatinya dipenuhi iman tidak sibuk memusuhi orang tuanya, tetapi justru takut apabila ayahnya mendapat azab dari Allah ﷻ. Inilah akhlak para Nabi: berdakwah dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Ini menjadi pembelajaran bagi bahwa meskipun mungkin ada di antara kita yang sedang diuji dengan keluarganya, maka mari tetap perlihatkan kebaikan pada diri kita sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam contohkan.

Beliau ‘alaihissalam memperlihatkan kelembutan tutur katanya ketika menghadapi Sang Ayah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mencontohkan kepada kita bahwa ketegasan itu tidak harus selalu berbanding lurus dengan segala hujatan dan celaan.

Dan inilah pelajaran kedua yang kita dapatkan dari kisahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau menyelesaikan ujian itu dengan keimanan dan ketakwaan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. 

Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati dan diberkati Allah ﷻ.

Pelajaran Ketiga: Kepatuhan Tanpa Syarat, Ketaatan Tanpa Tapi

Puncak pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah ketaatan penuh kepada perintah Allah ﷻ, meskipun terkadang sulit dipahami oleh akal manusia.

Ketika Nabi Ibrahim pindah dari Babilonia menuju Palestina, beliau sudah lama menginginkan keturunan, tetapi Allah belum juga memberikannya.

Hingga kemudian Sarah meluluhkan hatinya dan membantu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menikah dengan Hajar, seorang wanita salehah. Dari ibunda Hajar inilah Allah ﷻ menganugerahkan seorang anak laki-laki bernama Ismail.

Namun setelah itu, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membawa Hajar dan bayi Ismail ke Makkah, yang saat itu masih berupa lembah tandus, gersang, dan belum ada kehidupan.

Ibunda Hajar tidak mengeluh dan tidak marah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hendak kembali ke Palestina dan meninggalkan mereka hanya dengan sedikit bekal air di tengah padang pasir yang tandus.

Hajar hanya bertanya singkat, “Apakah ini perintah dari Allah?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Iya.”

Maka Hajar pun berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau begitu, Allah ﷻ tidak akan menelantarkan kami.”

Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim kembali mengunjungi Ismail pada bulan Dzulhijjah. Pada malam tanggal 7 Dzulhijah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail.

Ketika pagi hari tanggal 8 beliau bangun, Nabi Ibrahim masih memikirkan mimpi tersebut. Beliau bertanya dalam hatinya, “Apakah ini benar-benar perintah dari Allah atau hanya bisikan setan?”

Karena Nabi Ibrahim terus memikirkan mimpi itu sepanjang hari, maka tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari Tarwiyah, dari kata روى – يروي yang bermakna memikirkan dan merenungkan.

Kemudian Nabi Ibrahim memohon petunjuk kepada Allah ﷻ. Pada malam berikutnya beliau kembali bermimpi yang sama. Ketika bangun pada tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akhirnya yakin bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah ﷻ, bukan dari setan.

Karena itulah hari tersebut dinamakan hari Arafah, dari kata عرف – يعرف yang berarti mengetahui atau menyadari. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tanggal 9 Dzulhijjah adalah hari yang sangat berat bagi iblis.

Karena iblis mengetahui bahwa Allah ﷻ telah menurunkan perintah besar kepada Nabi Ibrahim, sebuah perintah yang nantinya akan menjadi sebab lahirnya banyak kebaikan bagi manusia.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Karena itu, iblis berusaha menggagalkan perintah tersebut dengan menggoda tiga orang.

Pertama, iblis datang kepada ibunda Hajar. Iblis mencoba membangkitkan rasa sedih dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu agar ia melarang Nabi Ibrahim menyembelih Ismail. Namun Hajar tetap teguh karena sudah terbiasa taat kepada perintah Allah. Akhirnya iblis gagal menggodanya.

Kemudian iblis mendatangi Ismail ‘alaihissalam agar ia menolak perintah Allah. Tetapi Ismail adalah anak yang saleh dan taat kepada Allah ﷻ, sehingga ia pun berhasil menolak godaan iblis.

Terakhir, iblis datang menggoda Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga tetap teguh menjalankan perintah Allah ﷻ.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau melempari iblis dengan batu, dan peristiwa itulah yang kemudian dikenang dalam ibadah jumrah di Mina sampai hari ini.

Maka Nabi Ibrahim pun berusaha menenangkan hati dan menguatkan jiwanya. Anak yang telah lama beliau nantikan setelah bertahun-tahun penantian, kini harus dihadapkan pada perintah Allah ﷻ yang sangat besar dan berat untuk dijalankan.

Dengan penuh ketundukan kepada Rabb-nya, Nabi Ibrahim berkata kepada putranya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat: 102

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku harus menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?”

Perhatikanlah, jamaah sekalian, bagaimana seorang anak yang lahir dari keluarga saleh dan dibesarkan dalam ketaatan menjawab perintah itu. Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Allahu Akbar… betapa agung iman seorang anak yang saleh.

Sebelum Nabi Ismail ‘alaihissalam menyerahkan dirinya untuk disembelih, ada beberapa pesan yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Kisah ini disebutkan dalam sebagian kitab tafsir dan kitab sirah.

Pesan pertama, Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata:

“Wahai ayahku, singkapkanlah lengan bajumu ketika engkau menyembelihku. Jangan sampai darahku mengenai pakaianmu, lalu terlihat oleh ibuku. Aku khawatir jika ibuku melihat bekas darah itu, hatinya akan sangat terguncang.”

Pesan kedua, beliau ‘alaihissalam berkata:

“Ikatlah tangan dan kakiku dengan kuat. Jangan biarkan aku bergerak bebas. Aku khawatir jika tubuhku bergerak saat disembelih, hal itu dianggap sebagai tanda ketidakrelaanku terhadap perintah Allah ﷻ.”

Pesan ketiga, Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata:

“Wahai ayahku, jangan engkau memandang mataku ketika menyembelihku. Aku khawatir rasa kasih sayangmu kepadaku akan membuatmu merasa berat melaksanakan perintah Allah ﷻ.”

Inilah puncak ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Nabi Ibrahim pun menerima semua pesan itu dengan penuh keridhaan dan keteguhan iman. Keduanya berjalan menuju sebuah batu besar, tempat pelaksanaan perintah Allah ﷻ tersebut. Maka Allah ﷻ mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan Ismail di atas pelipisnya…” (QS. Ash-Shaffat: 103)

Ketika kepala Nabi Ismail ‘alaihissalam telah dibaringkan dan pisau mulai didekatkan, saat itulah pertolongan Allah ﷻ datang. Allah ﷻ menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang besar sebagai bukti bahwa keduanya telah lulus dalam ujian keimanan dan ketakwaan.

Di sinilah kita memahami hakikat syariat yang sebenarnya. Seandainya peristiwa penyembelihan Nabi Ismail ‘alaihissalam terjadi pada zaman hari ini, di tengah derasnya media dan opini manusia, niscaya banyak orang akan menyudutkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. 

Akan tetapi, karena peristiwa itu terjadi ribuan tahun sebelum zaman internet dan sebelum maraknya orang-orang yang membenci syariat Islam, maka kisah itu justru dikenang sebagai simbol ketaatan dan penghambaan kepada Allah ﷻ.

Namun seringkali ketika kisah itu dikenang, manusia hanya mengingat peristiwanya tanpa menangkap makna besar yang terkandung di dalamnya.

Padahal Idul Adha sejatinya adalah perayaan besar bagi orang-orang beriman; perayaan tentang kepatuhan total kepada Allah ﷻ, sekalipun akal belum mampu menjangkaunya secara sempurna.

Karena sesungguhnya, tidak semua syariat Allah ﷻ dapat diukur dengan logika manusia. Ada perkara-perkara dalam agama ini yang berada di luar jangkauan akal. Di situlah letak fungsi iman, menjangkau apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal.

Setiap tahun Allah memperingati kita dengan Idul Adha agar mata orang-orang beriman terbuka bahwa syariat Allah ﷻ tidak selalu tunduk kepada logika manusia. Syariat membutuhkan kepatuhan tanpa syarat dan ketaatan tanpa tapi.

Karena itu, ketika seorang mukmin mendapati suatu syariat, maka sikap pertama yang harus ia pastikan hanyalah satu, apakah syariat itu benar-benar datang dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah ﷺ atau tidak.

Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  memastikan bahwa perintah itu benar-benar datang dari Allah ﷻ. Jika telah nyata berasal dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada sikap lain kecuali tunduk, patuh, dan taat sepenuhnya.

Maka orang-orang yang selalu mengedepankan akal dan logika di atas wahyu seharusnya merenung ketika datang hari raya Idul Adha. Sebab kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  mengajarkan bahwa wahyu berada di atas akal manusia.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak mempertentangkan perintah Allah ﷻ dengan logikanya ketika diperintah menyembelih putranya. Beliau mendahulukan iman dan kepatuhan.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.

Di sinilah kita memahami bahwa tidak setiap orang yang berbicara tentang Islam benar-benar tunduk kepada syariat. Ada orang yang mampu berbicara panjang tentang agama, menulis tentang Islam, bahkan menafsirkan Al-Qur’an berjilid-jilid, tetapi belum tentu hatinya siap untuk patuh tanpa syarat dan taat tanpa tapi.

Ujian penyembelihan Nabi Ismail  ‘alaihis salam adalah ujian besar bagi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Mengapa Allah ﷻ menguji beliau dengan ujian seberat itu? 

Yaitu agar menjadi pelajaran bagi seluruh orang beriman sepanjang zaman bahwa siapapun yang bersama syariat Allah ﷻ, maka pada akhirnya ia akan memperoleh kemuliaan dan keberuntungan.

Maka setidaknya ada tiga pelajaran besar yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Pertama, siapa pun yang dibenci karena mempertahankan kebenaran, maka itu adalah anugerah dari Allah ﷻ. Tetapi siapa pun yang dibenci karena buruk akhlaknya, maka itu adalah musibah.

Kedua, siapa pun yang hari ini sedang diuji melalui pasangan, anak, mertua, menantu, atau keluarganya, maka bersabarlah. Ingatlah kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika menghadapi ayahnya sendiri, Azar.

Ketiga, inilah saatnya menundukkan akal di hadapan syariat. Karena syariat Allah ﷻ tidak pernah salah. Jika ada yang berkata bahwa syariat Allah ﷻ tidak cocok atau tidak benar, maka pertanyaannya sederhana: kalau syariat Allah ﷻ saja dianggap salah, lalu syariat siapa yang dianggap paling benar?

Semoga bulan Dzulhijjah ini menjadi madrasah besar bagi keimanan kita, sebagaimana Ramadhan menjadi madrasah bagi ketakwaan kita.

Dan semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tunduk kepada syariat-Nya dengan penuh keimanan, kepatuhan, dan keikhlasan.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah Kedua

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلا

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْن

إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Related

Tags: khutbahKolom Mahasantri
Previous Post

Hari Arafah, Wukuf, dan Perbedaan Mathla’ Hilal

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Khutbah Jum'at: Pentingnya Selalu Menyucikan Jiwa
Khutbah

Khutbah Jum’at: Pentingnya Selalu Menyucikan Jiwa

by Satrio Kusumo
23/04/2026
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan
Khutbah

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

by Satrio Kusumo
16/03/2026
Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu
Khutbah

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

by Satrio Kusumo
15/01/2026
Khutbah Jum'at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar
Khutbah

Khutbah Jum’at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar

by Satrio Kusumo
08/01/2026
Khutbah Jum'at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik
Khutbah

Khutbah Jum’at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik

by Satrio Kusumo
25/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist