Jumat, April 17, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Khutbah

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
16/03/2026
in Khutbah
0
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Photo by Konevi

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

Khutbah Jum’at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar

Khutbah Jum’at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik

Khutbah Spesial Idul Fitri 1447 H:
Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan
Oleh Haidar Fathin Al Anshory
(Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)

Download PDF di sini.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هو الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ

أَمَّا بَعْدُ

Khutbah Pertama

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Pada pagi yang penuh berkah dan suka cita ini, marilah bersama kita mensyukuri segala kenikmatan yang telah Allah ﷻ karuniakan dengan mengucap tahmid kepada-Nya.

Atas izin-Nya, kita masih digerakkan untuk bersimpuh dalam iman, meyakini bahwa hanya Allah ﷻ sajalah satu-satunya Rabb yang berhak disembah. 

Hadirin sekalian, mari kita menatap wajah-wajah di samping kanan dan kiri kita pagi ini. Lihatlah binar yang tersirat di mata mereka. 

Mereka adalah saudara yang mungkin tak kita kenal namanya, tapi sujudnya sama dengan kita. Di tempat yang penuh dengan berkah ini, kita sedang menyaksikan bukti nyata dari sebuah keajaiban iman, yaitu umat yang satu. 

Di tempat ini, kita duduk dalam shaf yang sama, tanpa menanyakan berapa harta yang kita miliki. Kita bersujud ke arah yang sama, tanpa mempedulikan warna kulit atau suku sebagai identitas diri. 

Dan kita hadir di sini, semata-mata karena ingin mendekap perintah suci dari Sang Ilahi. 

Jama’ah rahimakumullah.

Inilah Ummah Wahidah. Kita adalah bangunan yang kokoh karena disatukan oleh satu detak jantung keimanan. Rabb yang satu, Nabi dan Rasul yang sama, serta keimanan yang serupa di dalam dada. 

Oleh karena itu, nikmat persaudaraan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan anugerah yang harus senantiasa kita jaga.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan  kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ. Kebersamaan yang kita rasakan pagi ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Keindahan ini bermula dari sentuhan tangan sang arsitek agung peradaban, baginda Nabi Muhammad ﷺ. 

Beliau bukan sekadar penyampai risalah, Beliau ﷺ juga adalah pendidik yang membangun peradaban di atas pondasi kasih sayang. Menyatukan hati yang sebelumnya saling bermusuhan, mengubah dendam menjadi rindu, dan meleburkan ego menjadi pengorbanan. 

Dari keluhuran Beliau lah lahir generasi terbaik yang mencintai saudaranya melebihi cinta pada dirinya sendiri. Bagi mereka, iman bukan sekadar kata, melainkan pengabdian yang memberikan bukti nyata.

Kemudian tak lupa, kami selaku Khatib berwasiat kepada diri kami pribadi dan umumnya kepada para hadirin sekalian, mari senantiasa meningkatkan kualitas serta kesungguhan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. 

Ketakwaan adalah lentera yang tidak akan pernah padam. Rambu-rambu yang mengingatkan kita bahwa dosa hanyalah fatamorgana, nikmat di awal namun menyisakan luka dan penyesalan yang mendalam di akhir kehidupan.

Jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Sebagai orang yang mengaku pengikutnya Nabi Muhammad ﷺ, sudah selayaknya bagi kita untuk selalu meneladani jejak langkah yang telah beliau contohkan. Demikian pula kepada para sahabat dan para pengikut di zaman setelah mereka. 

Para sahabat dan pengikut terdahulu adalah manusia-manusia ideal yang patut kita teladani. Bukan karena megahnya istana yang mereka bangun atau tingginya pangkat yang mereka duduki. Bukan pula karena garis keturunan yang mereka miliki. 

Melainkan karena ketulusan iman mereka, yang menjadikan layak dan patut kita teladani. 

Rasulullah Muhammad ﷺ, adalah Sang Tokoh Agung pembangun peradaban umat manusia yang telah menjadikan keimanan sebagai dasar bagi pondasinya. Begitu besar jasa Beliau, sehingga nilai-nilai keimanan itu bisa benar-benar diresapi oleh para Sahabat dan pengikutnya. 

Tidak sebatas hanya pada untaian kata di lisan, tapi mereka selalu memberikan bukti nyata dalam amal. 

Selain keimanan yang ditanamkan, Beliau ﷺ juga menanamkan dalam diri para Sahabat arti dari sebuah persaudaraan. Ukhuwah islamiyah, yaitu persaudaraan yang dipersatukan karena keimanan. Beliau memahami betul tentang arti persaudaraan bagi bangunan peradaban. 

Peradaban suatu bangsa akan terbentuk saat manusia di dalamnya bisa saling bahu-membahu. Mereka bekerja sama menciptakan keseimbangan hubungan yang harmonis. Tanpa adanya keseimbangan itu, suatu umat atau bangsa hanya akan menghabiskan energinya untuk mengatasi konflik internal yang berkepanjangan. 

Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ sangat memperhatikan perkara ini. 

Hadirin sekalian yang dimuliakan oleh Allah ﷻ.

Mari sejenak kita berkaca pada sebuah peristiwa yang terjadi dalam peperangan di masa Nabi ﷺ. Kala itu, sebuah kejadian yang menunjukkan bahwa Beliau ﷺ tidak menginginkan sebuah konflik timbul karena adanya sebuah percikan fanatisme yang bisa menyulut api perpecahan.

Perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar terjadi begitu peliknya. Dalam keadaan demikian, salah seorang dari kaum Anshar berseru memanggil kaumnya, “Wahai kaum Anshar!”, dan begitu juga dari salah seorang kaum Muhajirin juga membalasnya dengan berseru, “Wahai kaum Muhajirin!”. 

Mereka mulai terjebak dalam fanatisme golongan yang memecah belah. Melihat seruan fanatisme yang memicu perpecahan itu, sontak Nabi ﷺ bersabda dengan tegas

أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Apakah kalian berseru dengan seruannya orang-orang Jahiliyyah sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian? Tinggalkan seruan itu, karena sungguh, ia adalah sesuatu yang busuk lagi menjijikkan.”

Begitu tajam teguran beliau ini kepada para Sahabatnya, sehingga seruan fanatisme golongan itu disebut Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang busuk dan menjijikkan. 

Mengapa demikian? Sebab dari seruan seperti itulah kebencian dan perpecahan akan bermula.

Hadirin yang dirahmati Allah ﷻ.

Jika fanatisme dan kebencian adalah bau busuk yang harus kita buang, maka cinta kepada sesama adalah keharuman iman yang harus kita tebarkan. Inilah standar keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada umatnya. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya (seperti) apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, 13)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Hadits ini adalah cermin bagi kita semua. Dengan jelas, hadits ini menyampaikan bahwa kecintaan kepada sesama saudara muslim lainnya merupakan indikator atau tanda dari adanya keimanan dalam diri seseorang.  

Sebuah penjelasan dari Imam Ath-Thufi dalam kitabnya at-Ta’yin fi Syarhil Arbain menerangkan bahwa seseorang tidak akan dikatakan sebagai mukmin yang memiliki keimanan sempurna kecuali dengan ia mencintai saudara muslim lainnya. 

Mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri bukan sekedar teori, melainkan seni memperlakukan manusia dengan kemuliaan. Hal itu karena diri ini suka jika diperlakukan baik dan tidak suka disakiti. 

Ketika perbuatan mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri dilakukan, rasa cinta pun akan timbul pada diri orang lain. 

Hadirin sekalian.

Perilaku mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri ini akan menciptakan rantai kebaikan yang nyata dalam kehidupan. Ketika kita memperlakukan orang lain dengan baik karena kita pun ingin diperlakukan dengan hal yang serupa, maka rasa saling mencintai akan tumbuh dan menyebar di lingkungan kita. 

Energi positif ini akan secara otomatis mengangkat keburukan dan menggantinya dengan kebaikan. Dan pada akhirnya, hal ini akan memperbaiki kondisi lingkungan kita serta menciptakan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih dalam lagi hadirin sekalian, mari kita renungkan bersama pilihan kata yang Allah ﷻ gunakan dalam Al-Qur’an terkait hubungan sesama muslim. Dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-10, Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Ada sebuah rahasia indah di balik ayat ini hadirin sekalian. Jika kita cermati potongan awal dalam ayat yang mulia ini, kita akan mendapati kalimat إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ , “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. 

Dalam tafsirnya, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyebutkan tentang ayat ini, bahwa siapapun orangnya, baik di belahan bumi timur maupun barat, jika ia memiliki iman kepada Allah ﷻ, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka ia adalah saudara bagi kaum mukmin lainnya.

Allah ﷻ menggunakan kata ikhwah, bukan ikhwan. Dalam Bahasa Arab, kata ikhwan biasa digunakan untuk menunjukkan persaudaraan yang tidak senasab, sedangkan kata ikhwah biasa digunakan untuk menunjukkan persaudaraan kandung. 

Sehingga, penggunaan kata ikhwah dibanding ikhwan bertujuan untuk menekankan kedalaman makna, yang berarti: ikatan persaudaraan yang didasari oleh keimanan berkedudukan sebagaimana persaudaraan kandung. Maka dari sini, Allah ﷻ ingin kita menyadari, bahwa kita bukan sekadar ‘teman seiman’, tapi kita adalah ‘saudara sekandung’ dalam rahim Islam.

Seseorang belumlah bisa dikatakan sebagai seorang mukmin manakala di dalam dirinya belum tertanam rasa persaudaraan pada sesama muslim lainnya. Menyakiti saudara seiman berarti menyayat nadi kita sendiri. 

Membenci saudara seiman berarti membenci saudara kandung sendiri. Mengolok-olok saudara seiman berarti mengolok-olok saudara sendiri. Keimanan seseorang belumlah dikatakan sempurna manakala ia belum menjiwai persaudaraan yang kental ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Jama’ah sidang Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Bayangkan jika hari ini adalah Idul Fitri terakhir kita. Bayangkan jika setelah sujud ini, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah kita lukai hatinya. Akankah kita membiarkan lisan ini berseru takbir mengagungkan Allah ﷻ, namun di saat yang sama hati kita masih menyimpan ‘bangkai busuk’ perpecahan? 

Jangan biarkan ibadah puasa sebulan penuh menguap begitu saja hanya karena ego yang enggan merunduk. Hari ini bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang siapa yang lebih dulu membuka pintu maaf. Karena sungguh, tidak ada kemenangan sejati bagi jiwa yang masih terbelenggu oleh dendam kepada saudaranya sendiri.

Oleh karena itu para hadirin sekalian.

Pada penghujung khutbah ini, mari bersama kita sadari bahwa ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam,  bukanlah sekadar pelengkap iman, namun ia adalah syarat mutlak kesempurnaan iman itu sendiri. Kita adalah ikhwah, yaitu saudara kandung dalam satu rahim keimanan. 

Jika satu bagian tubuh kita sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya pun akan merasakannya. 

Dan marilah kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai titik balik untuk meruntuhkan tembok pembatas fanatisme golongan maupun kepentingan pribadi, demi membangun peradaban umat yang kokoh dan bermartabat. 

Jadikan perbedaan sebagai warna dan bukan sebagai jurang pembatas yang memisahkan antar saudara. Jadikan perbedaan sebagai ajang toleransi pendapat, dan bukan sebagai ajang saling menghujat. Berdiri sama tegak, duduk sama rendah, dan merangkul tanpa membeda-bedakan.

Sebagai bekal pulang, izinkan kami menitipkan satu pesan singkat untuk kita semua, yaitu: Jadilah yang pertama. Jadilah yang pertama menyapa, jadilah yang pertama tersenyum, dan jadilah yang pertama memaafkan tanpa menunggu diminta. 

Ingatlah, bahwa tangan yang di atas untuk memberi maaf jauh lebih mulia di hadapan Allah ﷻ daripada hati yang keras menunggu permohonan maaf. Mari kita pulang membawa keharuman ukhuwah dan bukan bau busuk perpecahan. 

Setelah ini, dekap pundak saudara kita, jabat erat tangannya, dan tanamkan dalam jiwa kita bahwa kita adalah saudara, kita adalah ummah wahidah, kita adalah umat yang satu.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ بِتِلاَوَتِهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

أَمَّا بَعْدُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah ﷻ.

Mengakhiri rangkaian khutbah pada pagi yang mulia ini, mari kita sekali lagi meneguhkan hati. Ramadhan telah berlalu, namun jangan biarkan bekas-bekas kebaikannya ikut berlalu. Jika di khutbah pertama tadi kita diingatkan tentang betapa buruknya perpecahan, maka di khutbah kedua ini, mari kita buktikan bahwa hati kita telah benar-benar bersih.

Jangan keluar dari tempat ini, jangan beranjak dari sajadah ini, kecuali kita telah membawa satu tekad, bahwa tidak akan ada lagi dendam yang kita simpan, dan tidak ada lagi sapaan yang kita abaikan.

Hadirin sekalian, mari kita menundukkan kepala sejenak. Merendahkan hati kita di hadapan Dzat Yang Menggenggam segala jiwa. 

Membayangkan wajah kedua orang tua kita, wajah anak-istri kita, dan wajah saudara-saudara kita di samping kanan dan kiri. Mari kita bersama-sama mengetuk Arsy Allah dengan untaian doa tulus yang kita panjatkan.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Related

Tags: khutbah idul fitri
Previous Post

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

Next Post

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu
Khutbah

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

by Satrio Kusumo
15/01/2026
Khutbah Jum'at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar
Khutbah

Khutbah Jum’at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar

by Satrio Kusumo
08/01/2026
Khutbah Jum'at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik
Khutbah

Khutbah Jum’at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Khutbah Jum'at: Hikmah Di Balik Musibah
Khutbah

Khutbah Jum’at: Tiga Hikmah Di Balik Musibah

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Khutbah Jum'at: Kepedulian terhadap Mereka yang Tertimpa Banjir di Sumatera Utara
Khutbah

Khutbah Jum’at: Kepedulian terhadap Mereka yang Tertimpa Banjir di Sumatera Utara

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Next Post
Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist