Jumat, April 17, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
16/03/2026
in Ramadhan
0
Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Photo by Sami Aksu

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

Kultum Ramadhan #27: Dua Macam Mayit
Oleh Satrio Kusumo

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Kematian akan selalu menghadirkan kesedihan bagi orang yang ditinggalkan dan ketakutan bagi sebagian besar manusia. 

Fenomena yang tak mungkin dihindari ini menjadi pemutus segala kenikmatan dunia dan pintu kesedihan bagi yang ditinggalkan

Namun demikian, kematian bisa jadi merupakan pintu ketenangan bagi yang menjalaninya. 

Rasulullah ﷺ telah menunjukkan cara pandang yang mendalam tentang kematian. Bahwa tidak semua kematian memiliki makna yang sama. 

Sebagian bermakna istirahat bagi dirinya. Sebagian lain justru menjadi waktu rehat bagi orang lain darinya. 

Salah seorang Sahabat Rasulullah ﷺ, Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i mengabarkan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ melewati iring-iringan jenazah. 

Kemudian Beliau ﷺ bersabda

مُسْتَرِيحٌ ومُسْتَرَاحٌ منه

“Ada yang beristirahat dan ada pula yang orang lain beristirahat darinya.”

Para Sahabat bertanya, 

يا رَسولَ اللَّهِ، ما المُسْتَرِيحُ والمُسْتَرَاحُ منه؟

“Wahai Rasulullah, apa maksud orang yang beristirahat dan yang orang lain beristirahat darinya?”

Beliau menjawab, 

العَبْدُ المُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِن نَصَبِ الدُّنْيَا وأَذَاهَا إلى رَحْمَةِ اللَّهِ، والعَبْدُ الفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ منه العِبَادُ والبِلَادُ، والشَّجَرُ والدَّوَابُّ.

“Seorang hamba yang beriman akan beristirahat dari keletihan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah ﷻ. 

Sedangkan seorang hamba yang durhaka, para hamba, negeri, pepohonan, dan hewan-hewan beristirahat dari (kejahatan) dirinya.” (HR. Muslim, 950)

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. 

Mayit yang Beristirahat (Mustarihun)

Seorang hamba yang telah diwafatkan oleh Allah ﷻ dalam kondisi beriman dan banyak melakukan amal kebaikan maka kematian baginya berarti sebuah peristirahatan. 

Ia beristirahat dari keletihan dunia dan hiruk pikuknya menuju kepada rahmat Allah ﷻ. Demikian karena dunia pada hakikatnya adalah tempat ujian. 

Padanya terkumpul kelelahan, kesedihan, tanggung jawab, dan berbagai kesulitan hidup. Meskipun terselip juga kenikmatan dan keindahan. 

Hanya saja, bagi seorang muslim, kenikmatan dan keindahan itu hanyalah sesaat saja dan bahkan kadang justru menjadi tipu daya. 

Allah ﷻ telah memberikan gambaran kehidupan manusia di bumi ini dengan firman-Nya

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Sehingga siapapun tanpa terkecuali, termasuk para Nabi ‘alaihimussalam, dalam masa hidupnya pasti menemui kepayahan, sejak dalam kandungan sampai masa dewasa. 

Kita semua berletih lesu, bersusah payah mencari nafkah, mengalami sakit, dan mati. Kita mengisi kehidupan di dunia dengan amal saleh agar tidak menemukan kepayahan lagi di akhirat.

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Kesabaran dan ketaatan menjadi kunci dalam menghadapi beratnya kehidupan dunia. 

Orang-orang yang beriman, akan tetap bangun untuk menegakkan shalat meski orang lain masih terlelap. Ia akan berusaha menahan diri dari dosa walau kesempatan terbuka. 

Ujian hidup yang seringkali datang menghimpit, dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah ﷻ pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik. 

Maka saat kematian itu tiba. Meski akan menyisakan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan orang di sekitarnya, tetapi itulah saat ketika ia akan benar-benar beristirahat. 

Bagi orang beriman, kematian bukanlah kehancuran dan bukan pula pintu kesedihan. Ia justru menjadi pintu ketenangan. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Imam Hasan Al-Bashri. 

لَا رَاحَةَ لِلْمُؤْمِنِ إِلَّا فِي لِقَاءِ اللَّهِ

“Sungguh tiada ketenangan bagi seorang mukmin kecuali ketika berjumpa dengan Allah ﷻ.”

وَمَنْ كَانَتْ رَاحَتُهُ فِي لِقَاءِ اللَّهِ تَعَالَى فَيَوْمُ الْمَوْتِ يَوْمُ سُرُورِهِ وَفَرَحِهِ وَأَمْنِهِ وَعِزِّهِ وَشَرَفِهِ

“Barang siapa menjadikan pertemuannya dengan Allah ﷻ sebagai tempat ketenangannya, maka hari kematian baginya adalah hari kegembiraan, kebahagiaan, keamanan, kemuliaan, dan kehormatannya.”

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. 

Mayit yang Membuat Selainnya Beristirahat (Mustarahun minhu)

Jika kematian bagi seorang yang beriman dan gemar beramal shalih adalah sebuah peristirahatan yang hakiki, tidak demikian bagi orang fajir atau durhaka. 

Ia tidak beristirahat dengan kematian itu, sabda Nabi ﷺ justru menegaskan bahwa manusia yang lain, negeri, pepohonan, bahkan hewan-hewan di sekitarnya yang akan beristirahat darinya.

Inilah hakikat kematian bagi orang yang selama hidupnya dipenuhi dengan tindak kezaliman. Ia gemar menyakiti manusia dengan lisannya. 

Ia mungkin menzalimi sesama dengan kekuasaannya. Atau mungkin ia senang menyebarkan keburukan dengan laku perbuatannya. 

Orang lain merasa terganggu dengan keberadaannya meski kadang tak berani untuk mengungkapkannya. Ia seperti yang digambarkan dalam firman Allah ﷻ 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Orang seperti itu mungkin tidak selalu menyadari dampak perbuatannya. Kadang justru ia merasa ucapannya adalah hal yang biasa saja, padahal menyakiti orang lain. 

Ia mengira hidupnya berjalan seperti orang lain pada umumnya tanpa mau mempertanyakan apakah kehadirannya justru menjadi beban atau tidak. 

Bahkan, ada sebagian golongan justru dengan sangat percaya diri menyatakan tindakan buruknya sebagai suatu bentuk perbaikan. 

Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat Al-Baqarah Ayat 11

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.”

Oleh sebab itu, ketika orang yang zalim meninggal, Rasulullah ﷺ menggambarkan kematian itu bukan istirahat baginya. 

Kematiannya menjadi kelegaan bagi makhluk di sekitarnya. Tidak ada lagi yang ditakutkan dari lisannya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari tindak kezalimannya. 

Hadirin yang dirahmati Allah ﷻ. Sabda Nabi ﷺ tersebut tentu tidak sekedar menjelaskan dua kematian manusia. Petunjuk itu sekaligus mengajak kita semua untuk bertanya pada diri sendiri. 

Jika suatu saat nanti kematian datang, termasuk yang manakah kita?

Apakah kita termasuk dalam golongan mereka yang kematian menjadi pintu peristirahatan dari dunia menuju rahmat Allah ﷻ?

Ataukah termasuk dari golongan yang justru membuat orang lain beristirahat dari gangguan kita?

Islam, telah mengajarkan kepada para pemeluknya, kepada kita semua untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda 

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” (HR. Thabrani, 5787)

Mereka yang hidup dengan dipenuhi kebaikan, niscaya akan meninggalkan jejak kebaikan pula. Meski mungkin akan selalu saja ada orang yang tidak suka, tetapi ketulusan yang ada di dalam hati itulah kenyataannya. 

Maka saat kita bisa menjadi sosok yang terbaik itulah, kematian akan menjadi peristirahatan yang sesungguhnya. Ia akan meninggalkan kenangan yang menenangkan bagi siapapun yang pernah mengenalnya. 

Sebaliknya, mereka yang fajir, egois, sombong, dan berperilaku buruk akan meninggalkan luka bagi hati banyak orang. Dan kematian menjadi akhir dari gangguan yang mereka timbulkan. 

Dunia bernapas lega saat mereka tiada

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Di sisa kehidupan kita ini, kesempatan untuk memilih jalan yang mana masih terbuka lebar. Mari manfaatkan dengan sebaik-baiknya. 

Jangan sampai kita mati-matian mengejar istirahat di dunia dengan harta dan kemewahan, tapi justru kematian kita yang menjadi waktu istirahat bagi orang lain karena kita terlalu menyesakkan hidup mereka.

Semoga Allah ﷻ memudahkan kita untuk menjadi insan bermanfaat dan semoga kematian menjadi peristirahatan dari dunia menuju rahmat-Nya ﷻ. Wallahu a’lam bish-shawab.

Related

Tags: Kultum Ramadhan
Previous Post

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Next Post

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

by Satrio Kusumo
18/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

by Satrio Kusumo
17/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

by Satrio Kusumo
15/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua

by Satrio Kusumo
14/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 

by Satrio Kusumo
13/03/2026
Next Post
Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist