Jumat, April 17, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
18/03/2026
in Ramadhan
0
Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

Photo by Susanne Jutzeler, suju-foto

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

Kultum Ramadhan #29: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka
Oleh Ashabul Yamin

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Di antara anggota tubuh manusia, mata termasuk anggota tubuh yang kecil bentuknya tapi punya pengaruh cukup besar dalam menentukan masa depan manusia di dunia, bahkan akhirat.

Ia memang hanya sepasang organ tubuh berbentuk bola kecil.  Namun dari sanalah lahir banyak keputusan hati; kagum, cinta, iri, dengki, bahkan taubat. 

Bahkan, banyak dosa lahir disebabkan karena kedua bola mata. 

Bisa dikata, mata adalah jendela jiwa, yang menghubungkan antara dunia luar dengan dunia batin.  Karena apa yang dilihat mata sejatinya tidak berhenti di retina, tapi turun ke dalam hati, lalu membentuk perasaan, keinginan, bahkan keputusan. 

Karena besarnya pengaruh mata, tak heran jika Al-Qur’an menempatkan perintah menjaga pandangan sebagai langkah awal menjaga kesucian diri. 

Allah ﷻ berfirman

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Dalam ayat ini, Allah ﷻ tidak langsung memerintahkan menjaga kehormatan, tetapi terlebih dahulu memerintahkan untuk menjaga sarananya, yaitu pandangan mata. 

Demikian karena pandangan yang dibiarkan bebas tidak dijaga menjadi pintu masuk banyak kemaksiatan. 

Contohnya, sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits berikut

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan mata adalah salah satu anak panah beracun dari setan, dan barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan memberinya pahala berupa keimanan yang manis di dalam hatinya.” (HR. al-Hakim) 

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Namun Islam tidak hanya memperingatkan tentang bahaya mata. 

Rasulullah ﷺ juga telah menunjukkan bahwa mata, selain bisa menjadi penyebab dosa, ia juga bisa menjadi sebab keselamatan.

Rasulullah bersabda:

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah ﷻ, dan mata yang berjaga di jalan Allah ﷻ.” (HR. at-Tirmidzi, 1639)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ tidak menyebut dua manusia. Padahal yang masuk surga atau neraka adalah manusia secara keseluruhan, tidak hanya mata saja.

Penyebutan sebagian anggota tubuh itu, tentu bukan untuk membatasi keselamatan hanya pada organ tersebut. 

Melainkan sebagai ungkapan simbolik (majaz) yang mewakili keadaan pemiliknya. 

Penyebutan mata hanyalah bentuk penekanan terhadap amal yang sangat menentukan keadaan seseorang.

Menangis Karena Allah ﷻ

Hadirin yang dirahmati Allah ﷻ. Jenis pertama adalah mata yang menangis karena takut kepada Allah ﷻ. Tangisan ini lahir dari kelemahan dan kesadaran. 

Kesadaran bahwa manusia sering lalai, sering tergoda oleh dunia, dan sering merasa ujub dengan diri sendiri.

Ketika kesadaran itu hadir, hati menjadi lembut. Saat sedang membaca atau mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, misalnya.

Atau saat teringat dosa-dosa yang telah diperbuat lalu ada penyesalan yang dalam. Pada saat seperti itu, tanpa sadar dan dibuat-buat air mata tiba-tiba menetes.

Firman Allah ﷻ: 

وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

“Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.”  (QS. Al-Isra: 109) 

Tangisan semacam ini, seringnya tidak dilihat siapapun. 

Ia terjadi dalam kesunyian, pada sujud yang panjang, teriring dengan doa yang lirih, atau di malam ketika seseorang benar-benar merasa kecil di hadapan Tuhannya.

Tangisan seperti inilah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ. Sebab ia menunjukkan bahwa hati tersebut masih hidup, masih peka, dan masih memiliki rasa takut kepada-Nya.

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Terjaga di Jalan Allah ﷻ

Kemudian jenis mata kedua adalah mata yang berjaga di jalan Allah ﷻ. Fi sabilillah dalam makna hadits di atas secara bahasa terdiri dari tiga kata, yaitu fi yang artinya pada, sabil yang artinya jalan, dan Allah. 

Jika diterjemahkan secara bebas maksudnya adalah untuk segala kepentingan pada jalan Allah ﷻ. Jalan Allah ﷻ artinya segala cara untuk bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Sedangkan makna fi sabilillah menurut para ulama fikih adalah jihad.

Maksudnya mereka yang berjihad atau berperang secara sukarela demi membela Islam dengan harta dan jiwanya, dan mereka tidak mendapatkan gaji secara khusus.

Dalam jihad ada istilah namanya ribath, artinya orang yang selalu berjaga di perbatasan daerah kaum muslimin. 

Mereka menjaga kehormatan dan keselamatan kaum muslimin dari kejahatan orang kafir yang memerangi. Merekalah yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ  dengan ‘ainun batat tahrusu fi sabilillah.

Secara lebih spesifik Rasulullah ﷺ bersabda: 

رِبَـاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ

“Berjaga sehari semalam di jalan Allah ﷻ lebih baik daripada puasa selama sebulan beserta shalatnya.”  (HR. Muslim) 

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Demikian, dalam makna sosial yang lebih luas, ‘ainun batat tahrusu fi sabilillah bisa kita maknai dengan orang yang rela tidak tidur demi menjaga kaum muslimin dari bahaya. 

Ia rela lelah agar orang lain bisa merasa aman. 

Agaknya, makna yang terakhir adalah makna yang relevan dengan konteks kita saat ini, yang belum mendapat anugerah, kesempatan, kelapangan, dan keberanian untuk berjihad di jalan Allah ﷻ dalam makna qital (perang).

Orang yang begadang ronda demi menjaga keamanan kampung, yang rela tidak tidur demi merawat orang sakit, mengantar tetangga yang butuh bantuan, para relawan sosial bencana alam, bisa juga orang tua yang terjaga memikirkan anak-anaknya. 

Termasuk juga seorang ayah yang lelah bekerja mencari harta halal demi memastikan keluarganya hidup dengan layak. 

Atau bahkan seorang pemimpin, pejabat, petinggi negara yang rela lembur pada malam semata agar rakyatnya tidak menderita dan mendapat keadilan. 

Semua itu jika dilakukan dengan ikhlas, semata karena Allah ﷻ, mudah-mudahan juga termasuk kategori ‘ainun batat tahrusu fi sabilillah.

Mata yang terjaga di jalan Allah ﷻ, yang kelak diharamkan neraka untuk menyentuh tubuhnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Related

Tags: Kultum Ramadhan
Previous Post

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

by Satrio Kusumo
17/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

by Satrio Kusumo
16/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

by Satrio Kusumo
15/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua

by Satrio Kusumo
14/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 

by Satrio Kusumo
13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist