Dosa adalah setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah ﷻ yang dapat mendatangkan hukuman di dunia maupun akhirat. Dosa sendiri, terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu dosa besar (al-kabair) dan dosa kecil (as-shaghair).
Dosa besar mencakup perbuatan yang mendapatkan ancaman hukuman berat. Seperti syirik, membunuh tanpa hak, zina, dan riba. Sedangkan dosa kecil mencakup kesalahan yang tidak memiliki ancaman langsung. Seperti berkata kasar atau menunda shalat tanpa alasan.
Dampak dosa dalam Islam sangat luas, baik secara spiritual, sosial, maupun psikologis. Dosa dapat menghalangi seseorang dari rahmat Allah ﷻ, mengeraskan hati, serta menjauhkan pelakunya dari ketenangan batin dan keberkahan hidup.
Dan puncak kerugian dari sekian banyak kerugian adalah, bahwa dosa bisa menyeret pelakunya ke dalam neraka.
Dari sekian banyak dosa yang ada, ada dua dosa yang paling banyak memasukan seseorang ke dalam neraka. Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh para Sahabat, tentang dosa-dosa tersebut.
Ada peribahasa yang menyebutkan bahwa, “lidah tak bertulang.” Peribahasa ini menggambarkan tentang manusia yang sangat rentan melakukan kesalahan dan kejahatan karena lidahnya.
Sifat lidah yang lentur seakan-akan mengabarkan bahwa ia mudah sekali berubah-ubah. Dalam Islam, kita mengenal banyak sekali maksiat dan dosa yang dilakukan oleh lidah.
Di antaranya; menggunjing, mengumpat, mencela, memfitnah, mengadu domba, berdusta, sumpah palsu, sum’ah (menceritakan kebaikan-kebaikannya dalam rangka pamer), menghardik anak yatim, menipu, dan masih banyak dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh lidah.
Para ulama menyebut hal ini dengan afatul lisan yang artinya bencana yang ditimbulkan oleh lidah.
Begitu banyak dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh lidah, sehingga Nabi ﷺ menyebutnya sebagai dosa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Mengingat besarnya peluang lidah untuk menyeret seorang hamba ke dalam neraka, maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa sejauh mana kita mampu menjaga lidah, sejauh itu kemungkinan kita untuk selamat dunia dan akhirat.
Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”
“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betah di rumah untuk beribadah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi, 2406)
Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah ﷺ memberikan tips jitu agar kita mudah mengendalikan lidah. Beliau bersabda;
“Siapa saja yang beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim)
Ternyata, salah satu solusinya sederhana tetapi kadang sangat sulit untuk dilakukan. Yaitu diam dan berkata di saat yang tepat.
Dosa Kemaluan
Selain lidah, kemaluan juga menjadi penyebab terbanyak masuk neraka. Adapun dosa kemaluan adalah zina, yaitu hubungan badan antara laki-laki dan perempuan tanpa hubungan yang sah.
Islam melarang umatnya untuk berbuat zina karena perbuatan tersebut termasuk dosa yang sangat besar. Pelakunya mendapat ancaman hukuman berat di dunia dan akhirat.
Saking beratnya dosa zina, Allah ﷻ menyejajarkannya dengan dosa syirik dan pembunuhan. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Furqan ayat 68.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui dosa yang paling besar setelah membunuh manusia melainkan zina.” (Ad-Da’ wad Dawa’, hlm. 230)
Mengingat begitu besarnya dosa zina, Allah ﷻ memberikan peringatan kepada hamba-hambanya untuk tidak mendekati zina.
“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ : 32)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan bahwa larangan untuk mendekati zina itu lebih dalam maknanya daripada sekedar larangan untuk berzina.
Sebab larangan mendekati zina maknanya adalah menjauhi hal-hal yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut. (Taisirul Karimir Rahman, 1/457)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Mari kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah ﷻ. Jaga lidah dan kemaluan kita, maka semoga Allah ﷻ menjamin keselamatan kita di dunia dan akhirat.
“Siapa yang dapat memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisannya) dan di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin surga untuknya.” (HR. Bukhari, 6474)