“…. ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’.”
Siapakah dua orang yang disebut oleh Allah ﷻ di dalam ayat tersebut?
Dua orang tersebut adalah Rasulullah ﷺ dan shahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa singgahnya Rasulullah ﷺ di Gua Tsur bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam rentetan perjalan hijrah beliau dari Makkah ke Madinah.
Saat itu Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memilih berjalan ke arah selatan, padahal jalan menuju Madinah adalah ke arah utara.
Hal itu dilakukan untuk mengecoh kafir Quraisy yang sedang mencari-cari Beliau. Di tengah perjalanan, Beliau kemudian bersembunyi di dalam gua yang terletak di puncak Gunung Tsur.
Beliau tinggal di sana selama tiga hari tiga malam, sambil memastikan kondisi teraman untuk melanjutkan perjalanan hijrahnya.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Suatu hari, para pencari jejak yang memandu orang-orang kafir Quraisy telah sampai di mulut Gua Tsur.
Posisi mereka benar-benar sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang ada di dalam gua. Hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu khawatir akan terlihat oleh mereka.
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bahwa saat itu beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sekiranya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua kakinya, maka kita akan kelihatan.”
“Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.” (HR. Bukhari, 4663)
Dengan kalimat ini, Rasulullah ﷺ menenangkan Sahabat terbaiknya.
Bahwa, Allah ﷻ akan membantu dan menolong hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada Allah ﷻ setelah hamba tersebut berusaha dengan benar.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Salah satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah, kita harus bertawakal kepada Allah ﷻ dalam segala hal.
Jika kita telah bertawakal kepada Allah ﷻ dengan benar, maka Allah ﷻ akan senantiasa bersama kita.
Lihatlah pernyataan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam kondisi genting tersebut.
Baik pernyataan Beliau ﷺ yang diabadikan oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an, yaitu ungkapan, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah ﷻ bersama kita.”
Maupun ungkapan Beliau ﷺ yang dituturkan oleh Abu Bakar, “Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah ﷻ.”
Dua pernyataan tersebut menunjukkan bahwa saat itu Rasulullah ﷺ telah bertawakal sepenuhnya kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ telah memasrahkan semua urusannya kepada Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ yakin betul bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya. Dan pada akhirnya tawakal itu mendatangkan ketenangan untuk diri Beliau ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Tawakal yang benar akan membuahkan hasil yang luar biasa.
Tawakal yang benar adalah kepasrahan kepada Allah ﷻ setelah melakukan usaha maksimal, dengan meyakini bahwa Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.
Mari perhatikan usaha yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.
Beliau ﷺ berusaha keras untuk menghilangkan jejak dari kejaran kafir Quraisy dengan memilih rute berlawanan dari jalan yang biasa dilalui.
Tak hanya itu, Beliau ﷺ juga bersembunyi beberapa hari memastikan waktu yang paling aman untuk melanjutkan perjalanan.
Jama’ah yang dirahmati Allah ﷻ.
Jika tawakal seorang hamba sudah benar, maka Allah ﷻ akan senantiasa membimbingnya.
Allah ﷻ akan mencukupi segala hajat dan kebutuhannya, Allah ﷻ akan menjaga dan melindunginya.
Allah ﷻ akan memberkahi hidupnya, dan Allah ﷻ akan senantiasa bersamanya.
Allah ﷻ berfirman;
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Kita harus banyak belajar, agar kita bisa bertawakal seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika Beliau ‘alaihissalam hendak dilemparkan ke dalam api yang berkobar, dengan tenang Beliau berkata,
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.” (HR. Bukhari)
Kita harus banyak belajar, agar bisa bertawakal seperti Nabi Musa ‘alaihissalam ketika dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya.
Saat Nabi Musa ‘alaihissalam dihadapkan pada laut merah, di belakang Beliau Fir’aun dan tentaranya semakin mendekat.
Seketika para pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam berkata, “Wahai Musa, sungguh kita akan tersusul oleh Fir’aun dan bala tentaranya.”
Dengan penuh keyakinan Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku,” (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Tawakal adalah perpaduan antara usaha yang maksimal dan penyerahan diri kepada Allah ﷻ.
Tawakal merupakan pilar penting dalam kehidupan seorang mukmin, yang memberikan ketenangan hati, rezeki yang tak terduga, dan kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Dengan bertawakal, seorang Muslim tidak hanya menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan kepada Allah ﷻ, tetapi juga memiliki landasan etika yang kuat dalam menghargai usaha dan menghadapi segala bentuk cobaan.
Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab.