Jama’ah sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah ﷻ …
Di awal khutbah pada hari yang mulia ini, mari kita bersama-sama menghaturkan rasa syukur kita kepada Allah Jalla Jalaluhu, Rabb semesta alam, karena kasih sayangnya, Ia menurunkan kepada manusia Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang akan membimbing mereka dalam menghadapi berbagai persoalan di dalam hidupnya.
Al-Qur’an adalah ruh, dan tanpanya, dunia ini akan menjadi porak poranda disebabkan perbuatan manusia yang sering berbuat semena-mena tanpa aturan. Maka Allah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai bentuk rasa sayang dan cinta kepada keadaan para hamba-Nya.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Baginda kita, suri tauladan umat ini, nabi penutup para nabi, rasul penutup para rasul, yakni Nabiyullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Nabi serta Rasul terbaik yang Allah utus untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bagi segenap manusia, yang ditugaskan memberi penjelasan terhadap makna terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an kepada umatnya.
Tidak lupa, kami selaku khatib mewasiatkan kepada diri kami pribadi dan umumnya kepada para jama’ah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada bekal terbaik yang bisa kita bawa untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala selain daripada amal ketakwaan yang kita kerjakan selama di dunia.
Tidak ada yang bisa membela kita di hadapan Allah, dan tidak ada yang bisa menjadi teman setia di alam kubur, selain daripada amalan ketakwaan yang kita kerjakan.
Jama’ah sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan oleh ﷻ …
Di antara karakter dasar yang ada pada diri kita sebagai manusia, adalah ingin selalu mencari apa yang bisa membuat dirinya nyaman sekaligus bisa membuat hatinya menjadi tenang. Berbagai cara ditempuh demi mendapatkannya.
Ada yang berusaha sekuat tenaga mengumpulkan harta berharap dengannya ketenangan bisa dibeli. Ada yang mencoba menukarnya dengan waktu, serta ada pula yang berusaha mendapatkannya sembari mengorbankan kepentingan lain yang ia miliki.
Namun, di balik usaha manusia di dalam mencari ketenangan itu, seringkali usaha yang diberikan hanya didasari oleh rasio akal untuk menimbang baik-buruk serta hubungan sebab-akibat yang akan terjadi sesudahnya.
Dengan terlalu menomorsatukan akal itu, manusia menjadi sering lupa, hingga menganggap bahwa usahanya ada di atas segalanya. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang masih menganggap bahwa harta dan tahta adalah adalah jalan terbaik untuk meraih ketenangan itu.
Perihal usaha mencari ketenangan ini, di dalam Al-Qur’an, ternyata Allah sendiri ﷻ sudah memberikan sebuah kabar kepada kita, bahwa ada sebuah jalan yang bisa ditempuh agar bisa menjadi wasilah atau sarana di dalam meraih ketenangan itu.
Jama’ah sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah ﷻ …
Kabar tersebut ada di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat yang ke-28, Allah berfirman terkait keadaan orang yang beriman:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”
Dalam penggalan terakhir ayat tersebut, tampaklah sebuah kalimat penting:
أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
Yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”
Para jama’ah sekalian yang dimuliakan Allah ﷻ …
Ya, inilah jalan yang Allah kabarkan kepada kita semua, bahwa hanya dengan berdzikir mengingat-Nya lah hati akan akan menjadi tentram, hati akan merasakan ketenangan, dan hati akan menemukan sebuah oase keimanan.
Mengingat permasalahan di pekerjaan akan menjadikan hati semakin gundah, mengingat permasalahan hutang akan semakin menambah rasa gelisah, memikirkan nasib di masa depan hanya akan semakin membuat berkeluh kesah, tapi dengan mengingat Allah ﷻ, hati akan merasakan ketenangan yang merekah.
Pada ayat lainnya, dalam surat Thaha ayat yang ke-14, yang menceritakan tentang kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika Allah ﷻ akan menurunkan wahyu kepadanya, Allah ﷻ berfirman:
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku”
Makna kalimat “Laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku” adalah laksanakanlah sholat agar kamu mengingatku di dalamnya, sebagaimana pendapat Imam Mujahid yang mengatakan, “Jika seorang hamba melaksanakan shalat, maka ia mengingat Rabbnya”, yaitu Allah ﷻ.
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk melaksanakan sholat sebagai sarana untuk mengingat-Nya. Dari sini, jika kita cermati, hal tersebut akan memunculkan sebuah pertanyaan, “Lalu kenapa Allah ﷻ mengkhususkan sholat sebagai sarana dalam berdzikir mengingat-Nya?”
Jawaban dari pertanyaan tersebut, disebutkan dalam kitab At-Tafsir Al-Wasith Lil Qur’anil Karim, bahwa mengapa sholat disebutkan secara khusus sebagai sarana berdzikir kepada Allah, adalah karena sholat memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lainnya.
Shalat terkait dengan mengingat Dzat Yang Disembah, yaitu Allah ﷻ, serta di dalamnya, hati dan lisan disibukkan dengan dzikir kepada-Nya. Karena mengingat Allah sebagaimana mestinya, tidak akan terwujud kecuali dalam ibadah dan juga shalat.
Dengan demikian, maka sholat merupakan sebuah ibadah terbaik yang bisa digunakan untuk berdzikir mengingat Allah ﷻ, di dalamnya tergabung tiga bentuk dzikir, yaitu dzikir dengan hati, dzikir dengan lisan, serta dzikir dengan anggota badan.
Jama’ah sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah ﷻ …
Maka dari itu, ini merupakan sebuah kabar penting bagi kita semua, bahwa dalam usaha mencari ketenangan, hendaknya terlebih dahulu kita kembalikan semuanya kepada Allah, karena Dia lah Dzat yang memiliki kuasa atas segalanya.
Kemudian kita cari sarana itu melalui cara yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu dengan berdzikir mengingat-Nya, dan sebaik-baik dzikir kepada Allah adalah dengan mendirikan shalat, karena sholat menggabungkan tiga bentuk dzikir, yaitu dzikir dengan hati, dzikir dengan lisan, serta dzikir dengan anggota badan.
Mari kita bersama-sama untuk berusaha menjadikan shalat sebagai sebuah sarana berdzikir untuk meraih ketenangan di dalam hidup kita, walau memang terasa sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk bisa mewujudkannya.
Semoga dengan dzikir dan mengingat Allah ﷻ, hati ini akan bisa tetap hidup, agar hidayah yang Allah berikan bisa masuk meresap ke dalam kalbu kita, sehingga ketaatan serta ketakwaan akan semakin tumbuh subur mengiringi perjalanan hidup kita.
Dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa ia mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?”
Di khutbah yang kedua ini, mari kita bersama-sama berdoa kepada Allah ﷻ, agar Allah senantiasa memberikan limpahan taufik serta maghfirah-Nya kepada kita semua.