Khutbah Jum’at: Luasnya Kasih Sayang Allah ﷻ Kepada Hamba-Nya
Oleh: M. Tsaqif Al-Ghozi
(Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَه
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
أَمَّا بَعْدُ
Download PDF di sini.
Khutbah Pertama
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur kita panjatkan kepada Allah ﷻ atas segala nikmat yang telah Allah ﷻ sempurnakan kepada kita selaku hamba-Nya.
Dan yang kita syukuri, tentu tak hanya kenikmatan berupa sandang, pangan, dan papan saja.
Sebab siapa yang menggantungkan rasa syukurnya pada kenikmatan berupa sandang, pangan, dan papan, maka ketika hal tersebut dikurangi atau bahkan hilang dari dirinya maka ia akan mudah putus asa dalam mensyukuri nikmat lain yang telah Allah ﷻ berikan.
Dan ada sebuah kenikmatan yang Allah tidak berikan kepada setiap manusia, yaitu nikmat yang paling agung di antara sekian banyak nikmat.
Hal itu adalah nikmat keimanan dan keislaman.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Sungguh kita mampu mengerjakan shalat, mampu mengerjakan zakat, sedekah, puasa, dan ibadah-ibadah yang lainnya, tak lain dan tak bukan adalah karena pertolongan dari Allah ﷻ kepada hamba-Nya.
Inilah yang dimaksud dalam surat Al-Fatihah ayat keenam
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Kepada-Mu kami menyembah, dan kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
Ulama ahli tafsir menerangkan bahwa ketika Allah ﷻ menempatkan kalimat meminta pertolongan setelah kata ibadah itu mengingatkan bahwa “Sungguh tidak akan tegak ibadah manusia kecuali diberikan pertolongan oleh Allah.”
Maka mari bersyukur karena Allah ﷻ masih memberikan kesempatan untuk menghadiri shalat Jum’at pada siang hari ini dengan keimanan kepada-Nya.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Shalawat serta salam senantiasa kita berikan kepada Rasulullah ﷺ. Suri teladan kita di dunia ini.
Sosok yang menyelamatkan kita dari jilatan api neraka menuju surga, dengan risalah kenabian yang ia bawa untuk menuntun hidup kita.
Kemudian, tak lupa khatib mewasiatkan untuk diri khatib dan kepada jama’ah yang berbahagia, agar selalu mengingat tentang kehidupan setelah kematian.
Sebuah hari yang ketika itu tak akan berguna hati kita, tak akan berguna harta kita, tak berguna anak, cucu, kerabat, bahkan keluarga kita sendiri.
Pada hari itu yang akan selamat hanyalah orang yang membawa hati yang lembut, hati yang selamat dari kekufuran.
Barangsiapa yang membawa hati yang salim, hati yang penuh dengan ketakwaan, penuh dengan keimanan, maka kelak ia akan memetik buah yang manis di surga.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Pada perjalanan beribadah kepada Allah ﷻ, manusia hendaknya memperhatikan tiga hal yang biasanya menjadi kekurangan.
Kekurangan pertama, adalah ketidaktahuan kita sebagai manusia.
Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita bahwasanya manusia pada dasarnya adalah makhluk yang tidak mengetahui.
Allah ﷻ berfirman dalam surat-Nya
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 78)
Inilah hakikat manusia, kekurangan pertama yang dimiliki manusia adalah ketidaktahuan.
Maka penting bagi kita untuk mendasari segala sesuatu dengan ilmu.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Kekurangan berikutnya yang dimiliki manusia dalam beribadah kepada Allah adalah hawa nafsu, yang sangat sulit dikendalikan.
Selama napas masih keluar dari hidung, darah masih mengalir dalam tubuh, maka selama itu pula nafsu akan terus mendorong pada keburukan.
Adapun nafsu, ia memiliki dua sifat yaitu lawwamah atau tercela, dan juga ammaratu bissu’ atau mendorong pada keburukan.
Nafsu hanya akan hilang ketika kita sudah berkalang tanah dan terbungkus kain kafan.
Maka dari itu, kita diperintahkan untuk terus menahan hawa nafsu, terutama ketika beribadah.
Perkara ketiga yang perlu diperhatikan adalah bahwa setan senantiasa menggoda dari setiap arah yang ada.
Sungguh setan berkata “Aku akan mendatangi manusia dari kanannya, kiri, depan, dan juga belakang.”
Demikianlah godaan setan kepada manusia.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Oleh sebab kekurangan tersebut, maka sungguh lembaran-lembaran kehidupan kita tidak ada satu pun yang putih bersih tanpa setitik noda.
Coba kita renungkan bersama, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan karena tidaktahuan kita.
Berapa banyak dosa yang kita lakukan karena nafsu kita.
Berapa banyak dosa yang telah kita lakukan karena mengikuti bujuk rayu setan yang selalu menggoda.
Sungguh tak ada satu pun manusia yang bersih dari noda kecuali para Nabi dan Rasul.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Setelah sekian banyak kekurangan dan maksiat yang kita lakukan, tahukah kita bahwasanya Allah ﷻ tidak pernah mencari manusia yang lembaran kehidupannya putih bersih tanpa titik hitam?
Allah ﷻ tak pernah mencari hamba yang bebas dari dosa, karena sesungguhnya kalaulah Allah hanya mencari hamba-Nya yang bersih dari dosa, maka cukuplah malaikat saja yang Allah ciptakan.
Kita telah ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang selalu taat pada Allah ﷻ tanpa ada nafsu satu pun dalam malaikat.
Bahkan saat manusia hendak diciptakan oleh Allah ﷻ mereka tahu bahwa manusia akan berbuat dosa dan kemaksiatan. Mereka berkata
قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Ya Allah, apakah Engkau akan ciptakan manusia, yang pada dasarnya mereka akan berbuat kerusakan di atas bumi dan mengalirkan darah?
Sungguh kami selalu menyebut dan mengagungkan nama-Mu di setiap kesempatan kami.”
Jika Malaikat saja telah mengetahui bahwa manusia berpotensi untuk membuat kerusakan di bumi, apalagi Allah ﷻ , dzat yang menciptakan semua yang ada di dunia ini. Tentu lebih mengetahui.
Namun tetap saja, Allah ﷻ menciptakan kita sebagai manusia.
Itulah bukti bahwa Allah ﷻ tidak mencari hamba yang lembaran kehidupannya putih bersih, tapi Allah ﷻ mencari hamba yang ketika berbuat salah ia senantiasa bertaubat kembali kepada Allah ﷻ.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Allah adalah dzat yang menyifati dirinya sebagai Al-Ghafur.
Dan kita tidak mendapati bagaimana ghafurnya Allah kecuali ketika Allah mengampuni kesalahan hamba-Nya.
Sebuah kisah dari seorang ulama bernama Fudhail bin ‘Iyadh.
Dahulu ketika ia akan pergi ke masjid untuk shalat Asar, ia mendapati dari kejauhan seorang ibu yang marah kepada anaknya.
Sang anak membuat ibunya marah hingga suaranya tinggi dan murka.
Dalam hati Fudhail bin ‘Iyadh berkata “Apakah kesalahan dari anak ini sampai ibunya marah dengan hebatnya?”
Selang beberapa lama kemudian anak itu dikeluarkan ibunya dari rumah dan mengunci pintu.
Anak tersebut menangis dan memohon pada ibunya untuk dimaafkan dan dibolehkan masuk.
Kemudian Fudhail bin ‘Iyadh meninggalkan rumah itu dan pergi shalat.
Seusai shalat ia kembali dan melihat anak itu masih di luar.
Namun, tak lama kemudian sang ibu keluar, memeluk anaknya, dan memaafkannya.
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Dari kisah tersebut kita mengetahui bahwa seorang ibu akan selalu memaafkan kesalahan anaknya.
Kalaulah seisi dunia memusuhi anaknya, ibu akan ada di sisinya dan membela anaknya, karena ibu memiliki hati yang lebih besar daripada orang lain.
Maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata “Kalaulah seorang ibu punya hati yang begitu besar pada anaknya, apalagi Allah, Rabb semesta alam yang menciptakan seorang ibu.”
Jama’ah yang dirahmati Allah.
Betapa banyak Allah mengampuni kita dalam kebodohan kita. Dalam nafsu kita. Dalam terjerumusnya kita pada bisikan setan.
Maka dari itu, mari bertaubat kepada Allah.
Sungguh, Allah mencintai kita. Bukan saja ketika kita sujud dan rukuk, tetapi Allah juga tetap membuka pintu cinta dan ampunan-Nya ketika kita terjatuh dalam kemaksiatan.
Karena itu, kita perlu menyadari bahwa setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan harus segera ditebus dengan bertaubat kepada Allah.






