Jumat, Oktober 2, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Khutbah

Khutbah Jum’at: Tawakal dan Menjemput Rezeki

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
01/10/2026
in Khutbah, Kolom Mahasantri
0
Khutbah Jum’at: Tawakal dan Menjemput Rezeki

Photo by Burak Arlı

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Khutbah Jum’at: Panas Dunia Tak Sebanding Dengan Siksa Akhirat

Khutbah Jum’at: Hamba Yang Disebut Namanya Oleh Allah

Khutbah Jum’at: Harta dan Jiwa Manusia

Khutbah Jum’at: Menjemput Rezeki Dengan Kaki, Menyerahkan Hasil Dengan Hati
Oleh Rizky Djaya Putra
(Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

 فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقوْنَ، فَقَالَ الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَقَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

أَمَّا بَعْدُ

Download PDF di sini.

Khutbah Pertama

Jama’ah sidang Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah ﷻ.

Bersyukur kepada Allah ﷻ yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita semua.

Salah satunya adalah nikmat sehat dan waktu luang; dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

نِعمَتَانِ مَغبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ ِمنَ النَّاسِ : الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia (adalah) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Sudah semestinya pula kita mensyukuri dua nikmat besar yang lain, yaitu iman dan Islam; dua nikmat yang tidak Allah ﷻ berikan kecuali kepada orang-orang pilihan-Nya saja.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda kita, nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga beliau, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah-sunah beliau hingga akhir zaman.

Beliau adalah nabi yang diutus oleh Allah ﷻ untuk menyempurnakan akhlak dan juga mengajarkan tentang keesaan-Nya kepada seluruh umat manusia.

Jama’ah sekalian, di awal khutbah ini, tak lupa khatib mewasiatkan kepada diri khatib pribadi khususnya dan juga kepada jama’ah pada umumnya untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman

وَ تَزَوَّدُوا فَاِنَّ خَيرَ زَادِ التَّقْوَى

“Dan berbekal-lah kalian (semua), sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (kepada Allah)…” (QS. Al-Baqarah : 197)

Takwa dengan senantiasa melaksanakan segala yang diperintah oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai seorang muslim; baik dalam setiap aktivitas yang kita lakukan maupun ibadah yang kita jalankan tidak akan lepas dari dua pilar penting:

Ikhtiar yang maksimal dan tawakal yang tulus kepada Allah ﷻ.

Secara sederhana, ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh fisik dan akal manusia.

Seperti seorang pedagang yang membuka warungnya, seorang petani yang mencangkul sawahnya, atau seorang pelajar yang belajar dengan tekun.

Sedangkan tawakal adalah urusan hati. Yaitu kepasrahan dan rasa percaya penuh kepada Allah ﷻ.

Kita sadar bahwa sejago apa pun kita berusaha, yang menentukan hasil akhirnya tetaplah Allah ﷻ.

Namun jama’ah sekalian, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang salah paham.

Ada orang yang rajin bekerja dari pagi sampai malam, tapi hatinya lupa pada Allah—ia menyangka rezeki itu murni karena keringatnya sendiri.

Sebaliknya, ada juga orang yang hanya mau berdoa dan beribadah di masjid, tapi malas bekerja—dengan alasan “sudah tawakal dan percaya Allah pasti kasih rezeki”.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara berikhtiar dan bertawakal yang benar dalam menjemput rezeki Allah ﷻ?

Untuk memahami hal ini, ada sebuah kisah luar biasa yang diabadikan di dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Imam Ibnu Asakir.

Kisah ini menceritakan tentang nasehat dan teguran mendalam dalam pertemuan dua ulama besar, yaitu Ibrahim bin Adham dan Syaqiq al-Balkhi.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Suatu ketika, saat mereka bertemu di Makkah, Ibrahim bin Adham bertanya kepada Syaqiq yang dahulu merupakan seorang pedagang muda yang sangat kaya.

“Wahai saudaraku, apa kejadian yang membuat mata hatimu terbuka, lalu kamu bertobat dan fokus mendekatkan diri kepada Allah hingga menjadi orang yang tidak terikat atau gila pada harta dan kemewahan dunia seperti ini?”

Syaqiq pun menceritakan alasannya.

Suatu ketika, Syaqiq al-Balkhi sedang berjalan di tengah gurun pasir yang tandus. Di sana, ia melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya dan dalam kondisi buta.

Syaqiq pun heran dan membatin di dalam hatinya: ‘Aku ingin tahu, dari mana burung cacat ini bisa mendapatkan makanan di tengah gurun yang gersang begini?’

Karena heran, Syaqiq-pun memutuskan untuk melihat dan memperhatikan burung tersebut dari dekat. Tidak lama kemudian, keajaiban terjadi.

Tiba-tiba ada seekor burung lain yang sehat, terbang ke arah burung yang cacat tadi sambil membawa seekor belalang di paruhnya, dan langsung menyuapi burung yang patah sayapnya tadi.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Melihat kejadian menakjubkan itu, Syaqiq spontan mengambil kesimpulan.

Dia berkata di dalam hatinya: ‘Subhanallah, Allah yang telah mendatangkan burung sehat ini untuk memberi makan burung yang cacat di tengah gurun, pasti sanggup juga memberiku rezeki kapan pun dan di mana pun aku berada tanpa harus capek-capek bekerja.

Maka sejak saat itu aku meninggalkan usaha dagang dan menyibukkan diri dengan beribadah.’

Detik itu juga, Syaqiq memutuskan untuk membatalkan seluruh rencana dagangnya.

Dia pulang ke rumah, berhenti bekerja, dan memilih untuk mengurung diri di masjid hanya untuk fokus beribadah.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Syaqiq dengan bangga menceritakan kisah tersebut sebagai alasan mengapa sekarang dia berhenti bekerja dan hanya  memilih untuk totalitas beribadah.

Namun, apa respons dari Ibrahim bin Adham? Beliau justru memberikan teguran yang sangat mengena.

Ibrahim bin Adham menatap Syaqiq dan berkata:

يَا شَقِيقُ! وَلِمَ لَا تَكُونُ أَنْتَ الطَّيْرَ الصَّحِيحَ الَّذِي أَطْعَمَ الْعَلِيلَ حَتَّى يَكُونَ أَفْضَلَ مِنْهُ؟

“Wahai Syaqiq! Mengapa engkau justru rida menjadikan dirimu seperti burung yang cacat dan buta, yang hanya pasif menunggu belas kasihan orang lain?

Mengapa engkau tidak mau menjadi burung yang sehat, yang terbang bekerja keras mencari nafkah, lalu memberi makan burung-burung yang lemah di luar sana?”

Bukankah engkau tahu bahwa Nabi ﷺ telah bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas (yang memberi) itu jauh lebih baik daripada tangan di bawah (yang menerima)?”

Ia melanjutkan, “Dan di antara ciri mukmin sejati adalah ia selalu mengejar derajat tertinggi dalam segala urusannya.”

Mendengar teguran keras tersebut, seketika mata hati Syaqiq al-Balkhi langsung terbuka.

Beliau sadar bahwa konsep tawakal yang selama ini dia pahami ternyata keliru.

Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah.

Kekeliruan Syaqiq al-Balkhi ini mirip sekali dengan cara banyak orang dalam memahami hadits Nabi ﷺ tentang tawakal.

Rasulullah ﷺ bersabda

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.

Ia keluar di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Banyak orang keliru memahami hadits ini karena mengira tawakal berarti pasrah total tanpa melakukan apapun atau hanya duduk diam di rumah atau berdiam di dalam masjid tanpa usaha, lalu rezeki akan jatuh dari langit begitu saja.

Padahal, kalau kita perhatikan kata per kata dalam hadits tersebut: burung itu tidak diam di dalam sarangnya!

Burung itu ‘تَغْدُو’ (keluar terbang di pagi hari) mengepakkan sayapnya, menerjang angin, dan berikhtiar mencari makan.

Prinsip pergerakan dan ikhtiar ini ditegaskan langsung oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah.

Tawakal bukanlah alasan untuk malas atau pasif.

Tawakal adalah perbuatan hati yang bersandar penuh pada Allah, disertai ikhtiar atau usaha dengan anggota tubuh kita.

Kita tetap wajib bergerak dan berusaha, karena Islam mendidik kita untuk menjadi pribadi yang bermentalkan burung yang sehat (yaitu burung yang memberi manfaat seperti dalam kisah di atas).

Bukan hanya menjadi pribadi yang bermentalkan seperti burung yang cacat, yang menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain.

Namun di sisi lain, kita juga harus berhati-hati. Jika hanya berdiam diri, beribadah dan berdoa tanpa ikhtiar adalah bentuk kelalaian.

Maka sebaliknya, berikhtiar dan bekerja tanpa tawakal serta doa adalah bentuk kesombongan.

Orang yang merasa bahwa keberhasilan, rezeki, dan kelancaran usahanya semata-mata karena kecerdasan, keringat, dan kekuatannya sendiri, sesungguhnya telah terjebak ke dalam sifat ujub dan sombong sebagaimana Qarun di masa lalu.

Ikhtiar adalah kewajiban fisik kita, namun penentu keberhasilan dan pemilik rezeki tetaplah Allah ﷻ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَا عِبَادَ الله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقٌوْنَ أَمَّا بَعْدُ

Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah.

Dari kisah tadi kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal adalah kunci kehidupan seorang muslim.

Kita tidak boleh menjadi pribadi yang berdiam diri menanti nasib, tidak pula menjadi pribadi yang sombong mengandalkan kemampuan diri semata.

Mari kita senantiasa menjemput rezeki dengan kaki, menyerahkan hasil dengan hati.

Bekerja, belajar, dan berusaha adalah bentuk ikhtiar kita kepada Allah ﷻ. Berdoa dan menyerahkan hasil adalah bentuk tawakal kita kepada-Nya.

Mari kita berdoa kepada Allah ﷻ agar senantiasa dibimbing dalam ketakwaan, diberikan rezeki yang halal dan berkah, serta dijauhkan dari sifat malas maupun sombong.

 إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ

اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا قَضَيْتَهَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Related

Previous Post

Khutbah Jum’at: Panas Dunia Tak Sebanding Dengan Siksa Akhirat

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Khutbah Jum’at: Panas Dunia Tak Sebanding Dengan Siksa Akhirat
Khutbah

Khutbah Jum’at: Panas Dunia Tak Sebanding Dengan Siksa Akhirat

by Satrio Kusumo
17/09/2026
Khutbah Jum'at: Hamba Yang Disebut Namanya Oleh Allah
Khutbah

Khutbah Jum’at: Hamba Yang Disebut Namanya Oleh Allah

by Satrio Kusumo
10/09/2026
Khutbah Jum'at: Harta dan Jiwa Manusia
Khutbah

Khutbah Jum’at: Harta dan Jiwa Manusia

by Admin
20/08/2026
Khutbah Jum'at: Mengusahakan Perubahan, Menjemput Kebaikan
Khutbah

Khutbah Jum’at: Mengusahakan Perubahan, Menjemput Kebaikan

by Admin
13/08/2026
Khutbah Jum'at: Pertamax Naik, Shock Therapy Kemegahan
Khutbah

Khutbah Jum’at: Pertamax Naik, Shock Therapy Kemegahan

by Satrio Kusumo
11/06/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist