Pengalaman Dakwah Ramadhan 1447 H Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur
Oleh: I`tishom Najmuddin
Ramadhan tahun 1447 H/2026 M menjadi pengalaman tersendiri bagi kami, pasalnya kami diberi amanah untuk berdakwah di suatu tempat yang baru.
Bukan kali yang pertama bagi kita untuk tugas berdakwah, karena di pondok kami, setiap santri diberi tugas untuk berdakwah di sekitar pondok.
Tepat satu hari sebelum Ramadhan, kami diberangkatkan dari pondok menuju tempat dakwah. Jarak pondok dengan tempat tugas kurang lebih 1 jam.
Kami jauh hari di brifieng oleh para asatidz serta Yayasan yang menaungi kami dalam berdakwah, Karena memang kami berdakwah di bawah naungan Yayasan yang berbeda dengan Yayasan pondok.
Sesampainya kami di suatu tempat. Kami dikumpulkan di masjid untuk transit sebelum kami disebar di desa-desa. Satu persatu dari kami dipanggil dan menemui penanggung jawab masing-masing. Hingga tiba giliran saya (penulis) dipanggil.
Ternyata penanggung jawab saya belum datang dan akhirnya harus menunggu kedatangan beliau.
Tak membutuhkan waktu lama penangung jawab saya pun datang. Kemudian beliau memperkenalkan diri begitu pula saya.
Dengan menaiki motor, saya diajak berkeliling desa sambil sedikit berbincang-bincang. Sebelum akhirnya diarahkan ke salah satu rumah warga yang nantinya menjadi tempat tinggal sementara selama satu bulan.

Rumah tersebut tampak sederhana dengan bentuk rumah joglo, rumah khas Jawa. Saya pun segera memperkenalkan diri kepada pemilik rumah.
Penghuni rumah berjumlah 4 orang terdiri dari ibu, bapak, dan orang tua mereka yang sudah sepuh.
Di desa tempat saya tinggal, saya berusaha beradaptasi dengan keadaan, masyarakat, dan kegiatan-kegiatan baru.
Banyak kegiatan yang saya jalani, seperti: menjadi imam shalat lima waktu, imam tarawih, kultum, kulsub (kultum subuh), tpa.
Selain itu, saya juga membaur dengan kegiatan masyarakat mulai dari ikut bertani, gotong royong, kumpul pemuda, dan juga memimpin doa dalam kegiatan-kegiatan tertentu.
Sesekali jika waktu kosong, saya ikut membantu pemilik rumah menjemur padi, karena kebetulan pemilik rumah adalah petani.
Lika-Liku Dakwah di Masyarakat
Hingga suatu ketika saya sedang mengajar tpa, salah satu murid diejek oleh temannya dengan sebutan yatim. Sayapun bertanya kepada murid tersebut apakah yatim atau tidak, ia pun menjawab tidak.
Dia mengelak ketika saya tanya, sembari menunjukkan salah seorang yang sudah tua ketika hendak shalat jamaah, yang dia akui sebagai bapaknya. Tetapi bapak itu sudah tua dan jika dilihat, lebih mirip kakeknya daripada bapaknya.
Benar saja ketika saya tanya ke ibu tempat saya tinggal. Ibu menjelaskan bahwa anak tersebut adalah anak hasil hubungan gelap. Sehingga tidak mengetahui bapaknya.
Hal lain yang membuat saya shock sekaligus prihatin, ternyata kasus seperti itu bukan kali pertama, banyak anak murid tpa saya lahir dengan kondisi tanpa mengetahui dengan pasti siapa bapaknya.
Selama tugas menjadi dai Ramadhan satu bulan penuh, saya mendapati ada 6 anak yang lahir tanpa bapak. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Di tempat tugas Ramadhan kali ini, ternyata minim sekali tentang pengetahuan agama. kehidupan sehari-hari masyarakat masih perlu banyak pendampingan. Untuk memperbaiki akhlak, ibadah, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bersinergi dalam Kebaikan
Oleh karena itu, tugas dakwah bukan hanya tugas seorang dai saja. Perlu adanya andil dari seluruh kaum muslimin. Karena dakwah adalah kewajiban.
Rasulullah bersabda: ballighu ‘anni walau ayatan artinya: sampaikan kepadaku walau satu ayat, walau hanya satu kebaikan.
Kaum muslimin mengambil andil masing-masing dalam hal ini, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Bagi seorang yang mempunyai ilmu, bisa langsung menyampaikan ilmunya.
Bagi yang mempunyai jabatan, gunakanlah jabatan untuk membantu dakwah. Bagi seorang yang mempunyai harta, bisa menggunakan hartanya untuk memperlancar kegiatan dakwah.
Sebab kegiatan dakwah tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak dan kalangan.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita semua dalam dakwah, baik bagi para dai secara khusus maupun bagi kaum muslimin secara umum yaitu:
-
Dakwah adalah tugas bagi seluruh kaum muslimin. Dakwah tidak hanya terbatas pada tempat, waktu maupun profesi seseorang. Dakwah tidak hanya dilakukan di masjid karena seorang muslim yang tidak pandai beretorika dalam berbicara pun bisa melakukan dakwah dengan akhlak yang baik.
-
Bagi dai maupun Ustadz, niat ketika dakwah adalah hal terpenting, niat dakwah adalah menyampaikan ajaran Rasulullah ﷺ dan menyadarkan umat, tanpa ada tendensi duniawi maupun mencari pengikut semata. Sehingga para dai harus bersatu saling membantu, tidak saling menyalahkan maupun menjatuhkan. Karena dakwah adalah proyek besar untuk izzul islam wal muslimin.
-
Menyadarkan umat akan pentingnya ilmu. Mencari ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga masyarakat terdorong untuk belajar, atau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah agama. Tidak tergantung pada seorang ustadz atau dai yang bertugas berdakwah di tempat itu. Sebagaimana pengalaman kami, bahwa masyarakat hanya mengandalkan dai ataupun ustadz yang bertugas di tempat itu.
-
Saling menasihati di jalan dakwah, nasihat sangat penting dan sangat diperlukan dalam dunia dakwah. Karena dengan saling menasihati, akan memperkuat dalam mengemban amanah dakwah.
-
Bagi seorang dai, ikut berkecimpung dalam kegiatan masyarakat adalah hal terpenting. Kegiatan dakwah tidak terbatas hanya pada tausiyah di atas mimbar, menjadi imam shalat, atau mengisi kajian saja. Akan tetapi seorang dai dituntut untuk bisa menjadi bagian dari masyarakat. Yaitu dengan ikut berkecimpung dalam kegiatan masyarakat. Dengan hal tersebut, seorang dai bisa lebih mengetahui keluhan masyarakat, mengetahui masalah-masalah yang beredar di masyarakat, sehingga mampu menjadi problem solver untuk masyarakat.
-
Menjalin silaturrahmi dengan warga setempat. Dengan silaturrahmi, masyarakat akan merasa dekat dai, sehingga akan terjalin kedekatan antara dai dan masyarakat itu sendiri. Dengan terjalinnya kedekatan antara dai dan masyarakat, permasalahan yang tidak bisa dijangkau di forum umum, akan tersampaikan secara personal. Sehingga bisa dicari jalan keluarnya bersama-sama.







