Keutamaan dan Keajaiban Istighfar
Penulis: Danil Rahman Bintang (Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)
Suatu hal yang lumrah dalam kehidupan bahwa kita tidak akan pernah terluput dari kekeliruan atau kesalahan. Tidak ada satupun sosok manusia di dunia ini, dari zaman Nabi Adam ‘alaihi wasallam hingga akhir zaman melainkan mereka pasti berbuat kesalahan.
Akan tetapi, Allah membuka pintu taubat serta peluang istighfar untuk memohon ampun bagi manusia dan menganugerahkan keajaiban-keajaiban di dalamnya.
Rasulullah ﷺ bersabda
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak keturunan Adam pasti akan melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat.” (Hadits hasan; diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, dan Ahmad)
Hadits ini menunjukkan bahwa Manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan, karena tabiatnya diciptakan dalam keadaan lemah, serta sering tidak patuh kepada Tuhannya dalam melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
Akan tetapi, Allah ﷻ membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya, dan mengabarkan bahwa sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.
Termasuk tipikal orang beriman adalah jika melakukan kesalahan dan berbuat kezaliman, maka mereka bersegera untuk beristighfar atau meminta ampun kepada Allah ﷻ. Hal tersebut berdasarkan firman Allah ﷻ
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan dalam kitabnya, yakni apabila mereka melakukan suatu dosa, maka mereka mengiringinya dengan taubat dan istighfar (memohon ampun kepada Allah).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang bersabda, “Sesungguhnya ada seorang lelaki melakukan suatu dosa, lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa, maka berikanlah ampunan bagiku atas dosa itu’.”
Maka Allah ﷻ berfirman, “Hamba-Ku telah melakukan suatu dosa, lalu ia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan yang menghukumnya, sekarang Aku memberikan ampunan kepada hamba-Ku.”
Kemudian si hamba melakukan dosa yang lain, dan mengatakan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan dosa lain, maka ampunilah dosa(ku) itu.”
Makna Istighfar
Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah ﷻ, dengan lafaz doa atau permohonan apa pun.
Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Al-Bukhari (10/76) berkata, “Istighfar dalam bahasa Arab adalah memohon ampunan kepada Allah ﷻ, dan memohon kepada-Nya untuk mengampuni dosa-dosa yang telah lalu serta pengakuan terhadap segala perbuatan keliru yang telah diperbuat.
Setiap doa yang mengandung makna ini adalah istighfar.”
Istighfar adalah salah satu bentuk ibadah agung yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an, dan Dia memuji orang-orang yang melakukannya.
Lafadz Istighfar
Lafaz-lafaz Istighfar yang Dianjurkan:
-
أسْتَغْفِرُ اللهَ (astaghfirullah). Nabi Muhammad ﷺ biasa mengucapkannya tiga kali setelah selesai shalat. (HR. Muslim)
-
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ (astaghfirullah al-azhim alladzi la ilaha illa huwal-hayyul-qayyum wa atubu ilaih).
Artinya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkannya, maka dosanya akan diampuni meskipun ia pernah lari dari medan perang.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani).
-
سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ (sayyidul istighfar) yaitu lafaz istighfar yang paling utama. Lafaznya adalah:







