Jumat, Januari 16, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Khutbah

Khutbah Jum’at: Dengan Cinta Nabi, Tetap Bersyukur Saat Tersungkur

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
19/12/2025
in Khutbah
0
Khutbah Jum’at: Dengan Cinta Nabi, Tetap Bersyukur Saat Tersungkur

Photo by fahri tokcan

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

Khutbah Jum’at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar

Khutbah Jum’at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik

Khutbah Jum’at: Dengan Cinta Nabi,
Tetap Bersyukur Saat Tersungkur
Penulis: Ilyas Mursito (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur)

 

ٱلْحَمْدُ لِلهِ، ٱلْحَمْدُ لِلهِ ٱلْوَلِيِّ ٱلْحَمِيدِ، ذِي ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدِ، فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ وَعَدَ ٱلشَّاكِرِينَ بِٱلْمَزِيدِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةَ ٱلْإِخْلَاصِ وَٱلتَّوْحِيدِ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ ٱللهِ وَرَسُولُهُ، أَفْضَلُ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَأَشْرَفُ ٱلْعَبِيدِ، صَلَّى ٱللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ ٱلسَّادَةِ ٱلْأَطْهَارِ، وَأَصْحَابِهِ ٱلْبَرَرَةِ ٱلْأَخْيَارِ، ذَوِي ٱلْقَوْلِ ٱلسَّدِيدِ وَٱلنَّهْجِ ٱلرَّشِيدِ، وَٱلتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْوَعِيدِ، وَسَلَّمَ ٱلتَّسْلِيمَ ٱلْكَثِيرَ ٱلْمَزِيدَ، أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ، ٱتَّقُوا ٱللهَ وَرَاقِبُوهُ، فَهُوَ ٱلْقَائِلُ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ (النساء: ١). عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل: ١٨)

Download PDF di sini.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Mengawali khutbah Jum’at di kesempatan yang penuh berkah ini, kami berwasiat terutama kepada diri pribadi, dan juga jamaah sekalian, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. 

Yaitu dengan tidak melewatkan waktu 24 jam setiap harinya tanpa melakukan, merencanakan, dan mengamalkan ketaatan kepada Allah ﷻ, sehingga tidak merugi.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ dan kepada sahabat, tabiin dan tabiut tabiin, serta mereka yang senantiasa istiqomah dalam mengikuti petunjuk dari Allah Ta’ala dan RasulNya.

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Kali ini bertepatan dengan bulan Rabiul Awal, bulan ketika Nabi ﷺ dilahirkan dan diwafatkan. 

Bulan yang mengingatkan kita arti kebahagiaan yang sesungguhnya karena lahirnya seseorang yang harus kita cintai, dan arti kehilangan yang sebenarnya karena wafatnya orang yang patut kita cintai melebihi yang lain. 

Yaitu Rasulullah ﷺ.

Cinta kepada Nabi bukanlah sembarang cinta, karena cintanya merupakan syarat kesempurnaan iman. 

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, no. 14)

Kecintaan kepada Rasul termasuk salah satu sebab seseorang mampu meraih manisnya keimanan, Nabi ﷺ bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.” (HR. Bukhari, no: 16 dan Muslim, no: 43).

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Mencari alasan untuk mencintai Rasul seharusnya tidak sulit bagi seorang muslim. Namun, cara untuk mengekspresikan cinta kepada beliau hendaknya kita kembalikan kepada ketentuan syariat dalam mengaktualisasikannya. 

Sebab Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

ٱلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai.” (HR. Bukhari no. 6169 dan Muslim no. 2741).

Terkait hal ini ada sebuah penjelasan menarik yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri rahimahullah.

Beliau menyebutkan bahwa, “Jika seseorang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka, meskipun amalannya tidak sebanding dengan amalan kaum tersebut. 

Hal itu, disebabkan karena keterkaitan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar berbuat yang serupa.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 53)

Allah ta’ala mengingatkan dalam firmanNya, bahwa perwujudan cinta itu harus memuat kepatuhan dan ketundukan dengan mengikuti yang dicintai.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ * قُلۡ أَطِیعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَۖ فَإِن تَوَلَّوۡا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ ٱلۡكَـٰفِرِینَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. # Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Taatilah Allah dan Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali-ʿImran: 31-32)

Kesesuaian dalam beramal menjadi kunci kecintaan yang sebenarnya. Bahkan dalam ayat tadi disebutkan dapat mendatangkan maghfirah atau ampunan dari Allah ﷻ. 

Jadi bukan semata ungkapan cinta yang terkadang justru jauh dari ajaran Rasul. Beliau ﷺ bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Bukhari no. 3093, Muslim no. 1759, dan Abu Daud no. 2970)

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Salah satu bentuk kecintaan kita kepada Rasul yang dapat dilakukan adalah merealisasikan nasihat yang beliau sampaikan untuk bersyukur meskipun dalam kondisi tersungkur.

Satu ketika Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَيْهِ فَوَجَدْتُ حَرَّهُ بَيْنَ يَدَيَّ فَوْقَ اللِّحَافِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَشَدَّهَا عَلَيْكَ قَالَ: إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ، وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ الصَّالِحُونَ، إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ، حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يَحُوبُهَا، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ، كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

“Aku pernah menjenguk Nabi ﷺ ketika beliau sedang sakit panas, aku meletakkan tanganku dan aku mendapati panasnya terasa hingga di atas selimut. 

Aku lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah panasnya sakit yang menimpa dirimu.’ 

Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya begitulah kita. Ketika dilipatgandakan cobaan bagi kita maka akan dilipatgandakan pula pahalanya.’ 

Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?’

Beliau menjawab, ‘Para Nabi.’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa?’ 

Beliau menjawab, ‘Kemudian orang-orang shalih. Salah seorang di antara mereka yang diuji dengan kefakiran sehingga tidak menemukan kecuali mantel untuk dia pakai.

Ada salah seorang dari mereka yang senang dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian senang dengan kemewahan’.” (HR. Ibnu Majah,1404)

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Dalam hadits tersebut, ternyata peringkat di bawah para Nabi adalah orang-orang shalih. 

Artinya, umat beliau yaitu kita, berpotensi mendapat derajat orang shalih lewat mensyukuri ujian atau cobaan yang dihadapi.

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Sesungguhnya orang yang beriman ialah orang yang tidak pernah kehabisan cara untuk bersyukur. Orang yang bersyukur berada pada posisi mulia dan tinggi. 

Lantas, kenapa seseorang bisa bersyukur ketika mengalami musibah? 

Abdurrahman Al-Qasimi rahimahullah menyebutkan 5 alasan,

Pertama, setiap musibah dan penyakit yang ada, sangat mungkin ada yang lebih besar dibanding apa yang menimpanya. Sebab ketentuan Allah ﷻ tidak terbatas. 

Seandainya Allah ﷻ melipatgandakan dan menambahkannya, siapa yang bisa menolaknya dan menghalanginya? 

Maka hendaklah ia bersyukur karena musibah yang menimpanya tidak lebih besar dari yang lain.

Kedua, musibah yang menimpanya bisa saja terjadi pada agamanya. 

Maka disebutkan dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.”

Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Selanjutnya Ketiga, harus dipahami bahwa hukuman atau balasan atas dosa sangat mungkin ditangguhkan hingga akhirat. 

Oleh sebab itu bisa jadi adanya musibah dunia adalah sebagai penghibur yang meringankan. 

Daripada hukuman tersebut ditimpakan di akhirat, yang kekal dan tentunya lebih menyakitkan.

Keempat, musibah dan ujian yang dialami sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh dan pasti akan dialami. 

Maka dengan terjadinya musibah atau ujian tersebut, dirinya telah terbebas dari sebagian takdir atau bahkan seluruhnya, sehingga hal seperti ini bisa juga disebut nikmat.

Kelima, pahala atas musibah lebih besar dibandingkan musibah itu sendiri. 

Sesungguhnya musibah dunia adalah jalan menuju akhirat, dan setiap ujian dalam urusan dunia ibarat obat: memang terasa sakit saat ini, tetapi bermanfaat pada akhirnya. (Tahdzib Mau’idzatul Mukminin, 287-288)

Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kepada diri kita cinta dan ekspresi cinta yang benar kepada Rasulullah ﷺ serta menghadirkan rasa syukur yang senantiasa ada dalam menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan kita, sehingga kita menjadi ash-shalihun (orang-orang shalih) sebagaimana yang disabdakan Rasul.

بَارَكَ ٱللَّهُ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِ، وَقُلْ رَبِّ ٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّاحِمِينَ.

Khutbah Kedua

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ ٱلْخَلَائِقِ وَٱلْبَشَرِ

ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ حَبِيبِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ ٱللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّ ٱلْعَالَمِينَ
إِنَّ ٱللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّىٰ بِمَلَائِكَتِهِ ٱلْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهَ بِكُمْ أَيُّهَا ٱلْمُؤْمِنُونَ مِن جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ قَوْلًا كَرِيمًا: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

ٱللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَلِجَمِيعِ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُّجِيبُ ٱلدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ ٱلْحَاجَات
ٱللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا، وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Related

Tags: Khutbah Jum'atma'had 'aly an-nuur
Previous Post

Penjelasan dan Aplikasi Tentang Hadits Iftiraqul Ummah

Next Post

Khutbah Jum’at: Peran Orang Tua Terhadap Keluarga

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu
Khutbah

Khutbah Jum’at: Berpindah Waktu, Waspada Selalu

by Satrio Kusumo
15/01/2026
Khutbah Jum'at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar
Khutbah

Khutbah Jum’at: Kebaikan Kecil Yang Bernilai Besar

by Satrio Kusumo
08/01/2026
Khutbah Jum'at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik
Khutbah

Khutbah Jum’at: Menuai Pahala Dengan Menjadi Tetangga Baik

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Khutbah Jum'at: Hikmah Di Balik Musibah
Khutbah

Khutbah Jum’at: Tiga Hikmah Di Balik Musibah

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Khutbah Jum'at: Kepedulian terhadap Mereka yang Tertimpa Banjir di Sumatera Utara
Khutbah

Khutbah Jum’at: Kepedulian terhadap Mereka yang Tertimpa Banjir di Sumatera Utara

by Satrio Kusumo
25/12/2025
Next Post
Khutbah Jum'at: Peran Orang Tua Terhadap Keluarga

Khutbah Jum'at: Peran Orang Tua Terhadap Keluarga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist