Kultum Ramadhan #24: Dua Macam Celupan di Akhirat Oleh Ashabul Yamin
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Di akhirat nanti, Rasulullah ﷺ menerangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, akan didatangkan orang yang hidupnya paling nikmat di dunia, tetapi ia termasuk ahli neraka.
Lalu ia dicelupkan sekali saja ke dalam neraka.
Setelah itu Allah ﷻ bertanya terkait segala gelimang kemewahan yang dia banggakan di dunia dahulu. Namun di di luar dugaan, ternyata dia menjawab bahwa dia tidak sedikitpun merasakan kebahagiaan itu dulu di dunia.
Sebaliknya, didatangkan orang yang hidupnya paling susah di dunia, tetapi ia termasuk ahli surga. Ia dicelupkan sekali saja ke dalam surga.
Lalu ditanyakan kepadanya terkait segala penderitaan yang dialaminya di dunia. Lalu dia mengatakan, rasanya dia seperti tidak pernah merasakan penderitaan itu sama sekali.
“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka.
Lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’
Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’
Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga.
Lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’
Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.”
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Hadits tersebut menggambarkan dahsyatnya kenikmatan surga dan kesengsaraan neraka, yang membuat manusia melupakan penderitaan atau kesenangan duniawi mereka secara total.
Ada makna mendalam yang cukup menarik untuk kita renungkan. Dunia yang kita anggap panjang ini ternyata di akhirat seperti kilatan yang sangat singkat.
Satu “celupan” saja sudah mampu menghapus seluruh memori kenikmatan atau penderitaan puluhan tahun.
Allah ﷻ menggambarkan betapa singkatnya dunia di hadapan akhirat:
“Pada hari mereka melihatnya (hari kiamat), mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya satu sore atau satu pagi.” (An-Nazi‘at: 46)
Dalam konteks hadits di atas, ayat tersebut menjelaskan tentang perspektif dan ukuran waktu yang berubah. Puluhan tahun terasa seperti satu pagi saja.
Maknanya, ukuran bahagia dan sengsara yang kita pakai hari ini sangat sementara. Rumah, jabatan, popularitas, pujian, semua itu terasa besar karena kita masih berada di dalamnya.
Kita menilainya dari jarak yang terlalu dekat. Padahal dari perspektif akhirat, semuanya bisa lenyap hanya dalam satu momen.
Orang yang paling mewah hidupnya bisa sampai pada titik di mana ia benar-benar lupa pernah bahagia. Sebab pengalaman azab yang sesaat itu begitu dominan hingga menenggelamkan seluruh rasa kenikmatan dunia.
Sebaliknya, orang yang paling berat ujiannya di dunia, mungkin hidupnya penuh keterbatasan, tekanan. Harta tidak punya.
Hari-harinya diisi dengan kebingungan mencari makan untuk sekadar menyambung hidup. Pekerjaan tidak tetap, kadang kerja serabutan, kadang sama sekali tidak ada yang bisa dikerjakan.
Rumah pun tak punya, sepanjang usia hanya mampu mengontrak, tidak jarang untuk bayar kontrakannya saja harus berhutang kanan dan kiri, dan seterusnya, dan seterusnya.
Kelak di akhirat ketika Allah ﷻ masukkan dia ke dalam surga, semua derita itu seperti tak pernah ada. Kenikmatan satu celup surga mampu menghapus derita sepanjang hidupnya.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Hadits ini juga mengajarkan tentang daya tahan iman. Ketika seseorang bersabar dalam kesempitan, dan beriman terhadap janji Allah ﷻ, sebenarnya dia sedang menabung kebahagiaan.
Saat ini mungkin ia menangis, karena hidupnya susah terus, tapi sebenarnya dia sedang menyiapkan jawaban saat Allah ﷻ bertanya nanti di akhirat, “Aku tidak pernah merasakan kesusahan ini sedikit pun.”
Karena bagi orang mukmin, dunia ini hakikatnya adalah penjara, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, 2956)
Maknanya bukan bahwa orang beriman harus selalu menderita, tetapi bahwa ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Ia menahan diri, membatasi syahwat, bersabar dalam ujian, karena ia tahu ada fase berikutnya yang jauh lebih menentukan.
Adapun, seorang yang bergelimang kenikmatan dan kemewahan yang tidak disertai iman, bahkan digunakan untuk kemaksiatan dan menerjang larangan Allah ﷻ.
Bisa jadi di dunia dia merasa nyaman, puas, bisa melakukan segala keinginan nafsunya. Tapi ketika Allah ﷻ kasih sekali celup di neraka, hilang semua memori kenikmatan itu.
Oleh karenanya, jama’ah sekalian.
Ketika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah ﷻ sedang tidak adil. Bisa jadi itu bagian dari perjalanan menuju satu “celupan” yang menghapus semua kesedihan.
Dan ketika hidup terasa sangat lapang, jangan pula terlalu percaya diri. Kenikmatan bukan bukti keselamatan, itu hanya ujian.
Hadits ini tidak mengajak membenci dunia, tetapi menempatkannya secara proporsional. Dunia itu penting. Betul. Tapi bukan penentu akhir.
Kenikmatan boleh dinikmati, kesusahan boleh dirasakan, tetapi keduanya tak boleh menjadi ukuran mutlak tentang nasib kita.
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ pernah memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.’
Ibnu Umar juga pernah berkata: ‘Bila engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi, dan bila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore.
Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu,’” (HR Al-Bukhari). Wallahu a’lam bish-shawab.