Khutbah Jum’at: Jangan Jadi Pengkhianat Kemerdekaan
Penulis Ilyas Mursito (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur)
الحمدُ لِلهِ الَّذِي أَكْمَلَ لَنَا الدِّينَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِينَا رَسُولًا مِّنَّا يَتْلُوا عَلَيْنَا آيَاتِهِ وَيُزَكِّينَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً تَبْقَى وَسَلَامًا يَسْرِي
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللَّهَ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ، وَطَاعَتَهُ أَعْلَى نَسَبٍ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: ١٠٢)
وَقَالَ أَيْضًا: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. (العنكبوت: ٤٥)
وَقَالَ الرَّسُولُ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ
أَمَّا بَعْدُ
Khutbah Pertama
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Segala puji mari selalu kita panjatkan kepada Allah ﷻ atas nikmat yang masih diberikan kepada kita. Nikmat yang menjadikan kita masih bisa merasakan indahnya Islam sebagai jalan, Al-Quran sebagai pedoman, dan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ. Para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin.
Tak lupa khatib wasiatkan kepada diri pribadi dan jamaah sekalian. Jangan lupa untuk merencanakan aktivitas kesalehan setiap harinya, agar kita tidak melewatkan waktu dari pertambahan iman dan takwa kepada Allah ﷻ.
Sebab tiada bekal hidup yang lebih bermanfaat di akhirat nanti melebihi bekal takwa kepada-Nya.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Saat ini kita mendapati pemandangan yang berbeda di jalan-jalan yang dilewati. Pemandangan yang menandakan akan ada momen penting yang melibatkan seluruh masyarakat. Baik muda, tua, kecil, besar, baik pria maupun wanita.
Momen yang terjadi tiap tahunnya. Bahkan kali ini, sudah ke 80 kali momen itu terulang, melebihi usia dari sebagian besar jamaah yang hadir di sini.
Tidak hanya melibatkan umat Islam saja, kemeriahan hari kemerdekaan negeri tentu juga turut dirayakan oleh penganut agama lain sebagai bagian dari bangsa.
Hanya saja, kita umat Islam tentu memiliki aturan yang sedikit berbeda. Sebab Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Istimewa dengan keotentikan kitabnya. Istimewa dengan Nabi yang membawa risalah-Nya. Maka semestinya kita pandai dan tetap mensyukuri momen itu. Yaitu kemerdekaan Republik Indonesia.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Mayoritas kita, setua apapun usianya. Saya yakin tidak ada yang pernah menjumpai kondisi mengangkat senjata melawan penjajah sebagaimana para pahlawan kita terdahulu.
Barangkali itulah yang menjadi penyebab kurangnya sebagian dari kita dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan baik.
Oleh sebab itu mari kita coba menelisik sebuah ayat dalam Al-Qur’an, dengan mengutip kisah yang hampir mirip dengan apa yang dialami oleh bangsa Indonesia.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Dalam Al-Qur’an Allah ﷻ berfirman,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِـَٔايَٰتِنَآ أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ وَذَكِّرْهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5)
Dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
.بَيْنَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي قَوْمِهِ يُذَكِّرُهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ وَأَيَّامُ اللَّهِ بَلَاؤُهُ وَنَعْمَاؤُهُ
“Ada masa disaat Musa ‘alaihissalam mengingatkan kaumnya perihal hari-harinya Allah berupa ujian-ujian dan nikmat-nikmatnya.”
Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa hari-hari Allah ﷻ di sini adalah hari momen ketika Allah ﷻ menyelamatkan, memerdekaan, membebaskan mereka Bani Israel dari musuh-musuhnya.
Menolong mereka serta melimpahkan banyak kenikmatan kepada mereka di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. (Tafsir at-Tahrir wat Tanwir, 13/190)
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Mari kita lihat bagaimana penderitaan Bani Israil yang dulu dijajah oleh Fir’aun, sebagaimana dikatakan Imam at-Thabari. (Tafsir at-Thabari, 16/519)
Bisa dikatakan bahwa penjajahan yang dirasakan oleh kita masih begitu ringan dibandingkan dengan mereka kaum Bani Israil.
Mari kita bandingkan,
-
Bani Israil dahulu dijajah tanpa pengecualian.
Ada satu kejadian ketika Allah ﷻ menyebutkan kekejaman Fir’aun kepada Bani Israil. Bahkan, saat itu bayi yang baru lahir pun tidak lepas dari kebengisan dan kekejamannya.
Allah ﷻ berfirman,
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنجَىٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir’aun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, dan menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; pada yang demikian itu terdapat suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu’.” (QS. Ibrahim: 6)
Apakah kita pernah mendapati kejadian serupa di bangsa Indonesia? Dibantai bayinya habis-habisan? Tentu tidak kan.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
-
Mereka dijajah sehingga tidak memiliki kelayakan hidup.
Hal ini dipertegas dengan diperbudaknya Bani Israil tanpa kecuali. Imam ath-Thabari menyebutkan bahwa dahulu mereka diperbudak dan dihinakan. Fir’aun menguasai dan menjadikan Bani Israil semuanya sebagai budak. (Tafsir at-Thabari, 19/343)
Allah ﷻ menegaskan kekejaman Fir’aun.
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ
“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil).” (QS. Al-Qasas: 4)
Sementara kita lihat kisah di Indonesia. Ada para juragan tanah dan orang orang kaya yang masih dihormati di kala itu. Bahkan masih ada yang bisa sekolah meskipun terbatas. Sangat berbeda dengan Bani Israil.
-
Mereka dijajah hingga tidak bisa memilih antara berusaha melanjutkan hidup atau mati.
Sementara jika kita lihat di Indonesia. Kita mengenal ada istilah “londo ireng”. Artinya masih ada orang Indonesia yang diajak oleh penjajah untuk membantu penjajahan mereka.
Adapun Bani Israil tidak demikian, mereka semua dahulu dijajah secara merata.
Dari itu semua kita dapat melihat bahwa meskipun dijajah, dulunya kita masih beruntung dengan kondisi yang tidak semenderita Bani Israil.
Maka tidakkah seharusnya kita lebih layak untuk bersyukur?
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللَّهَ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah.
Di khutbah yang kedua ini, mari kita renungi kembali. Tersebab kita tidak pernah ikut berjuang melawan penjajah, mungkin masih ada sebagian dari kita kurang bisa merasakan begitu nikmatnya kemerdekaan ini.
Oleh sebab itu, mari coba kita bayangkan, kalaulah ada Pahlawan Nasional yang masih hidup. Tanyakan kepada mereka,
-
Apakah mereka dulu berjuang mengorbankan jiwa dan raga agar kita bebas berjudi?
-
Tanyakan kepada mereka, apakah mereka dulu berjuang mengorbankan jiwa dan raga agar kita bebas korupsi?
-
Tanyakan kepada mereka, apakah mereka dulu berjuang mengorbankan jiwa dan raga agar kita bebas bermaksiat?







