Kamis, April 30, 2026
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
mahadannur.id
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

Satrio Kusumo by Satrio Kusumo
15/03/2026
in Ramadhan
0
Kultum Ramadhan: Dua Tingkatan Orang Berpuasa

Photo by Nataliya Vaitkevich

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Artikel lainnya

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

Kultum Ramadhan #26: Dua Tingkatan Orang Berpuasa
Oleh Ashabul Yamin

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Dalam kitab Latha’if al-Ma’arif (hlm. 295-299, cet. Dar Ibnu Katsir), Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam bab Puasa mengatakan bahwa ash-shaimunna ‘ala thabaqataini, orang puasa itu ada dua tingkatan, tingkatan pertama adalah:  

مَنْ تَرَكَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ لِلَّهِ تَعَالَى يَرْجُو عِنْدَهُ عِوَضَ ذٰلِكَ فِي الْجَنَّةِ

“Orang yang meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Allah ﷻ, dengan berharap Allah ﷻ menggantinya dengan kenikmatan itu di surga.”

Tingkatan puasa yang pertama ini bisa kita sebut dengan tingkatan puasa umum, artinya puasa yang umumnya orang Islam lakukan. 

Mereka sanggup meninggalkan al-mufaththirat, perkara-perkara lahiriyah yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan jima’ (hubungan suami istri). 

Dalam tinjauan fikih, puasa dalam tingkatan ini ketika dilakukan sesuai syariat maka hukumnya sah dan sudah menggugurkan kewajiban. 

Tapi sahnya ini bukan jaminan dia akan mendapat pahala sebagaimana yang diharapkan apabila tidak menjaga diri dari larangan Allah ﷻ yang lainnya. 

Apalagi sampai bisa masuk surga di derajat yang tinggi. 

Sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari, 1903)

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Sehingga puasa dalam tingkatan di atas (menjaga dari makan, minum, dan syahwat) adalah puasa standar minimal dalam menjalankan kewajiban shiyam Ramadhan. 

Mengapa demikian?

Sebab ada aspek lain dalam puasa yang harus diperhatikan. 

Aspek yang tidak disebutkan fuqaha’ sebagai pembatal puasa, akan tetapi jika dikerjakan berpotensi menghilangkan pahala puasa bagi pelakunya. 

Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaff, dalam kitabnya at-Taqrirat as-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah menyebut perkara tersebut dengan al-muhkbithath.

Yaitu perkara-perkara yang dapat merusak, bahkan menghapus pahala puasa seorang muslim. 

Lalu apa saja perkara-perkara yang termasuk dalam kategori al-mukhbithath itu? 

Pertama: ghibah. Ghibah dalam bahasa yang lebih populer disebut dengan menggunjing atau menggosip. 

Maknanya adalah membicarakan keburukan orang lain sementara orang yang dibicarakan sedang tidak ada di tempat tersebut, meski yang dibicarakan itu benar adanya.

Kedua: namimah. Perbuatan penghapus pahala puasa kedua adalah namimah atau adu domba dalam bahasa kita. 

Yaitu perbuatan menyampaikan atau memberitahukan rahasia seseorang kepada orang lain dengan tujuan buruk sehingga berpotensi merusak nama baiknya.

Praktik perbuatan namimah ini bisa melalui tulisan, isyarat, perbuatan, sindiran, dan lain sebagainya. Namimah adalah perbuatan yang berpotensi menimbulkan cekcok berkepanjangan.

Ketiga: berbohong. Penghapus pahala puasa ketiga adalah berbohong, yaitu mengabarkan sesuatu tidak sesuai dengan kejadian aslinya. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah!” (HR. Bukhari, 6018)

Keempat: melihat yang haram, atau halal namun disertai syahwat. Misalnya seperti melihat lawan jenis yang bukan mahram atau aurat wanita, baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui foto atau sosial media).

Adapun melihat yang halal namun disertai syahwat, contohnya dia melihat istrinya dengan sengaja dan menikmati hal tersebut. 

Apabila perbuatan ini dilakukan pada saat seseorang sedang berpuasa, pahala puasanya bisa hilang.

Kelima: marah. Rasulullah ﷺ mengajarkan, apabila dalam kondisi puasa kita terlibat pertengkaran, perselisihan, dihina atau dicaci, lalu timbul nafsu ingin marah atau berkata-kata kasar, maka beliau ﷺ memerintahkan untuk menahannya sembari mengatakan, “inni sha’imun (saya sedang berpuasa).”

Hal ini dilakukan agar setiap orang bisa menutup celah amarah atau emosi yang bisa timbul akibat adanya keinginan untuk membalas keburukan yang diterima dengan keburukan juga.

Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.

Orang-orang yang sanggup meninggalkan al-mukhbithath maka dalam klasifikasi Imam Ibnu Rajab al-Hambali masuk pada tingkatan puasa yang kedua, yaitu puasanya orang-orang yang khusus. 

Kata beliau terkait tingkatan ini: 

مَنْ يَصُومُ فِي الدُّنْيَا عَمَّا سِوَى اللَّهِ، فَيَحْفَظُ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى، وَيَحْفَظُ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى، وَيَذْكُرُ الْمَوْتَ وَالْبَلَى، وَيُرِيدُ الْآخِرَةَ فَيَتْرُكُ زِينَةَ الدُّنْيَا. فَهٰذَا عِيدُ فِطْرِهِ يَوْمَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَفَرَحُهُ بِرُؤْيَتِهِ

“Orang yang di dunia berpuasa dari segala sesuatu selain Allah ﷻ. Ia menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, menjaga perutnya dan apa yang masuk ke dalamnya.

Ia mengingat kematian dan kehancuran jasad, serta menginginkan akhirat sehingga meninggalkan perhiasan dunia. 

Maka bagi orang seperti ini, hari raya berbukanya adalah pada hari ia berjumpa dengan Rabbnya, dan kebahagiaannya adalah ketika ia melihat-Nya.”

Jama’ah rahimakumullah.

Ini adalah tingkatan puasa yang lebih tinggi dari tingkatan pertama.

Singkatnya, puasa pada level ini seseorang tidak hanya menahan perut dan syahwat saja, tetapi menjaga seluruh tubuh dari dosa. 

Mata dijaga dari yang haram, telinga dijaga dari mendengar hal-hal bathil, lisan dijaga dari segala bentuk ghibah atau celaan, tangan dan kaki dijaga dari kezaliman, dan hati dijaga dari iri, dengki serta niat buruk. 

Pada Ramadhan kali ini, mari kita berusaha dan memohon kepada Allah ﷻ untuk bisa mencapai tingkatan yang kedua sebagaimana yang disebut oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali di atas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Related

Tags: Kultum Ramadhan
Previous Post

Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua

Next Post

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Satrio Kusumo

Satrio Kusumo

Related Posts

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Mata yang Tak Tersentuh Api Neraka

by Satrio Kusumo
18/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Dosa yang Membawa ke Neraka

by Satrio Kusumo
17/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Mayit

by Satrio Kusumo
16/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Orang dalam Gua

by Satrio Kusumo
14/03/2026
Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 
Ramadhan

Kultum Ramadhan: Dua Macam Celupan di Akhirat 

by Satrio Kusumo
13/03/2026
Next Post
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merajut Harum Persaudaraan di Hari Kemenangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori

  • Aqidah
  • Doa
  • Fiqih
  • Hikmah
  • Kabar Ma'had
  • Khutbah
  • Kolom Mahasantri
  • Ramadhan
  • Tafsir
  • Tazkiyah
  • Tsaqafah
  • Udhiyah
  • Uncategorized
  • Unduhan
  • Uswah
  • Video
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
  • NASKAH KHUTBAH
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN
Menerangi Umat Dengan Cahaya Ilmu

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

No Result
View All Result
  • Home
  • PMB 2026/2027
  • ARTIKEL ISLAM
    • Aqidah
    • Fiqih
    • Tazkiyah
    • Hikmah
    • Tsaqafah
    • Doa
  • NASKAH KHUTBAH
    • Khutbah Jum’at
    • Khutbah Id
    • Ramadhan
  • KOLOM MAHASANTRI
  • KABAR MA’HAD
  • VIDEO KAJIAN

© 2021 mahadannur.id - Ma'had 'Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah mahadannur.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist