Menjadi Guru Berdedikasi
Oleh: Muhammad Dzulfikar Fadhil (Mahasantri Ma’had Aly An-Nuur)
Guru adalah profesi mulia. Mereka mengajar, mendidik, dan mencerdaskan anak bangsa. Suatu negara akan mengalami kemajuan apabila sistem pendidikannya baik dan pendidikan itu akan semakin baik dengan guru-guru yang kompeten dalam mengajar.
Sangat memprihatinkan keadaan suatu negara ketika seorang guru yang tugasnya adalah mengajar dan mendidik justru menjadi sebab terbukanya pintu-pintu kebodohan. Baru-baru ini, dunia maya sedang digegerkan dengan berita yang tidak senonoh dan tidak patut dilakukan oleh seorang guru, padahal guru adalah pendidik yang bertanggung jawab atas pendidikan murid-muridnya.
Ketika seorang guru sudah kehilangan jati dirinya, maka dampak yang terjadi adalah kurangnya etika, budi pekerti, dan akhlak yang baik terhadap anak-anak didiknya. Bagaimana bisa seorang murid terdidik dari guru yang tidak bertanggung jawab?
Dalam Islam, hakikat seorang guru bukan hanya sekedar mengajarkan suatu ilmu, tetapi juga dituntut untuk menjadi teladan dan sosok yang harus diikuti dalam kepribadiannya, keilmuannya, dan bahkan aktivitasnya. Maka seorang guru harus memiliki kepribadian yang baik, akhlak yang baik, dan memiliki berbagai aktivitas yang pantas untuk dicontoh oleh anak-anak didik.
Sejarah telah membuktikan adanya peradaban yang maju beriringan dengan majunya pendidikan Islam. Dimulai dari zaman Nabi Muhammad ﷺ seorang nabi sekaligus guru terbaik sepanjang zaman, kemudian dilanjutkan oleh zaman Khulafa’ ar-Rosyidun, pendidikan Islam terus berkembang hingga puncaknya pada era Khilafah ‘Abbasiyah yang membangun perpustakaan terbesar di dunia bernama Baitul Hikmah.
Berhasilnya suatu pendidikan adalah bukti adanya guru yang teladan, mereka menjadi contoh terbaik dalam setiap aktivitas, mereka mengamalkan akhlak yang baik, disiplin dalam mengajarkan ilmu, membentuk karakter dan kepribadian islami kepada para murid.
Tentulah para guru-guru hebat itu tidak melakukan sesuatu kecuali didasari oleh syari’at Islam, mereka mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah sehingga mereka mampu untuk menjadi guru-guru terbaik.
Sumber utama teladan terbaik dari seorang guru tentu adalah Rasulullah ﷺ beliau mendidik para sahabat dengan pendidikan Al-Qur’an, menanamkan benih-benih Islam dengan Sunnah Nabawiyah sehingga mereka menjadi lulusan terbaik madrasah islamiyah yang dibangun atas dasar iman dan takwa.
Berikut beberapa contoh teladan dari Rasulullah ﷺ di dalam mendidik para murid-muridnya sebagai acuan agar para pendidik bisa menjadi guru berdedikasi.
-
Menegur seseorang dengan santun.
Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu ia berkata, ‘Sungguh aku akan memperlambat diri saat mendatangi shalat Subuh karena si fulan biasa memanjangkan bacaannya saat mengimami kami.
Abu Mas’ud menuturkan, “Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ marah dalam memberi nasehat melebihi kemarahan beliau saat itu”.
Beliau bersabda “Wahai manusia, sungguh di antara kalian ada orang yang membuat orang lain lari (dari ibadah), oleh karena itu siapapun di antara kalian yang mengimami hendaknya mempersingkat sholatnya, karena di belakangnya ada orang tua, orang yang memiliki kebutuhan, dan orang yang lemah.” HR. Bukhari (7159)
Titik poin yang bisa diambil dari kisah di atas adalah cara Rasulullah ﷺ dalam menegur orang yang melakukan kesalahan dengan santun. Beliau tidak langsung menunjuk orang yang bersalah, akan tetapi beliau menggunakan kalimat yang lebih umum (يأيها الناس) atau wahai manusia.
Beliau tidak ingin menyakiti hati orang yang melakukan kesalahan, sehingga menggunakan kalimat yang lebih umum untuk menasihati dengan santun sekaligus menjadi pelajaran bagi yang mendengarkannya (yang tidak melakukan kesalahan).
Guru yang bijak dan berdedikasi apabila mendapati kesalahan muridnya adalah menegur dengan cara yang santun, tidak menegur di depan teman-temanya, dan teguran tersebut hendaknya mengandung bobot nilai yang bisa dipahami oleh murid-murid selainnya.
-
Memotivasi untuk melakukan amal kebaikan.
Ada sejumlah orang dari sahabat Nabi ﷺ mengadu kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah mendapatkan pahala yang banyak. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bisa bersedekah dengan harta yang mereka miliki.”
Beliau menjawab, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih, takbir, tahmid, tahlil adalah sedekah, melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah benarkah jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya) mendapatkan pahala?”, kemudian beliau menjawab dengan mengkiaskan apabila hal tersebut dilakukan untuk suatu yang haram. HR. Muslim (1006)
Kisah ini menunjukkan betapa semangatnya para sahabat untuk beramal kebaikan. Mereka senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Nabi ﷺ pun tentu sangat memahami para sahabatnya, alih-alih beliau memberikan nasihat yang melemahkan semangat mereka, justru Nabi ﷺ memotivasi para sahabat tersebut untuk beramal sebisa yang mereka lakukan.
Beliau memberikan semangat kepada para sahabat tersebut untuk melakukan sedekah meskipun mereka tidak diberikan kecukupan harta, sehingga mereka semakin semangat dalam beramal kebaikan.
Demikianlah seorang guru, harus senantiasa memotivasi muridnya untuk melakukan kebaikan, menunjukkan kepada mereka betapa pentingnya berbuat baik, dan hal tersebut akan mudah dilakukan apabila Sang Guru juga memiliki kepribadian suka melakukan kebaikan.
-
Bersikap lembut kepada siapapun.








Comments 1