“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Ini menunjukkan bahwasannya siapa saja yang menjadi bagian dari kelompok tersebut adalah orang-orang mulia yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan Islam. Sekaligus menjadi bukti bahwa dua gelar tersebut, Muhajirin dan Anshar adalah gelar yang mulia untuk mereka yang menjadi panutan bagi generasi setelahnya.
Namun, apapun kaum Muhajirin dan Anshar, mereka tetaplah manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan ataupun ketergelinciran. Meski demikian, mereka tetap golongan beriman yang patut dijadikan sebagai panutan, bukan dalam kesalahan ataupun hal negatifnya, tapi pada tindakan dan sikap untuk memperbaiki diri setelah sadar pada kesalahan yang dilakukan.
Pada bagian inilah kebanyakan manusia zaman sekarang kurang memperhatikan. Seringnya fokus hanya pada masalah dan kasus yang terjadi pada sahabat. Bahkan, ada yang menjadikan kesalahan yang dilakukan para sahabat sebagai pembenaran atas kesalahan dan kekeliruan yang mereka lakukan.
Ini adalah cara berpikir yang salah, bahkan sesat, karena seharusnya yang dicontoh dari para sahabat ketika melakukan kesalahan adalah cara mereka memperbaikinya, dan cara mereka berusaha untuk terus membenahi diri.
Kisah Zaid bin Arqam
Ada satu kejadian menarik berkaitan tentang gelar Muhajirin dan Anshar, dan bagaimana ketika musuh-musuh Islam berupaya untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kejadian ini terjadi setelah perang Bani Musthaliq, lebih tepatnya ketika pasukan kaum muslimin sedang beristirahat di tengah perjalanan pulang menuju Madinah.
Saat itu, ada dua orang dari kaum muslimin yang sedang memberikan minum kepada unta mereka. Pada awalnya terjadi perbincangan sederhana di antara mereka, kemudian berlanjut menjadi senda gurau, lalu berubah menjadi pembicaraan yang emosional.
Salah satu di antara keduanya berasal dari golongan Muhajirin, dan yang lainnya berasal dari Anshar. Pembicaraan di antara keduanya semakin menegang, hingga puncaknya, orang yang berasal dari golongan Muhajirin berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin” hal ini menyebabkan lawan bicaranya mengucapkan hal serupa, “Wahai orang-orang Anshar”.
Pada kondisi ini, pasukan kaum Muslimin mulai terpecah menjadi dua golongan besar, mereka terbawa suasana dan bekas-bekas kejahiliyahan yang menyebabkan mereka hampir berperang.
Musibah ini diperparah dengan adanya gembong Munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadinya. Dia mulai menghembuskan propaganda-propaganda yang menyatakan bahwa kaum Muhajirin adalah hama yang mengganggu kehidupan damai orang-orang Madinah.
Berita ini pun didengar oleh seorang sahabat yang bernama Zaid bin Arqam, beliau langsung melaporkan tindakan Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah ﷺ. Beliau yang sudah mengetahui keadaan genting yang menimpa pasukan beliau, berniat untuk tidak memperparah keadaan dengan menghukum Abdullah bin Ubay bin Salul secara langsung.
Hal ini disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah sahabat Zaid bin Arqam adalah seorang yang masih belia, Rasulullah ﷺ beranggapan mungkin saja apa yang disampaikan oleh beliau adalah kesalahpahaman yang biasa dilakukan oleh anak muda.
Namun, Rasulullah ﷺ tetap memanggil Abdullah bin Ubay bin Salul dan mengambil sumpah darinya, apakah dia benar-benar telah mengucapkan propaganda yang memecah belah kesatuan umat ataukah tidak.
Tentu saja, Abdullah bin Ubay bin Salul berani bersumpah di hadapan Rasulullah ﷺ bahwa dirinya bersih dari tuduhan tersebut, walaupun sejatinya sumpah yang diucapkan adalah sebuah kebohongan.
Karena itu, Rasulullah ﷺ menolak laporan Zaid dan menerima pengakuan Abdullah bin Ubay. Hal ini membuat Zaid bin Arqam bersedih karena laporannya ditolak, namun ini tidak berlangsung lama karena Allah ﷻ kemudian menurunkan surat Al-Munafiqun ayat 1-8.
Yang intinya adalah, membenarkan apa yang telah dilaporkan oleh sahabat Zaid dan mendustakan sumpah orang-orang munafik, yaitu Abdullah bin Ubay dan gerombolannya.
Dengan selesainya kasus ini, Rasulullah ﷺ bisa fokus menyelesaikan masalah perpecahan yang menimpa pasukannya. Beliau mengumpulkan semua pasukan, dan memastikan semua kerusuhan yang hampir berubah menjadi perang saudara terhenti.
Beliau bersabda, yang kurang lebih berbunyi, “Apakah kalian ingin kembali kepada seruan-seruan jahiliyah, sementara aku ada di antara kalian? Tinggalkan lah, karena itu adalah kesia-siaan yang merugikan.”
Para sahabat yang mendengar hal ini seketika tersadar, bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan jahiliyah yang dapat menghancurkan kesatuan yang telah mereka bangun atas dasar Islam.
Akhirnya, sebelum memasuki kota Madinah, seluruh pasukan sudah berada dalam satu kata, satu formasi, satu kesatuan. Konflik yang terjadi sebelumnya telah sirna dari hati para sahabat dan yang tersisa hanyalah kesatuan atas dasar Islam.
Sebuah Renungan
Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut, di antaranya yang paling mencolok dan sangat penting untuk diperhatikan adalah, seruan-seruan kejahiliyahan dapat menghancurkan kesatuan.
Jelas kita lihat, seruan yang digunakan kedua kubu adalah gelar yang langsung diberikan oleh Allah ﷻ, “Wahai kaum Muhajirin, wahai kaum Anshar” akan tetapi hal itu justru menjadi seruan jahiliyah dan menjadi salah satu sebab utama dari retaknya kesatuan kaum Muslimin karena kesalahan manusia itu sendiri.
Maka dapat kita ambil pelajaran, bahwa semulia apapun gelar, sebagus apapun nama, sebaik apapun julukan yang kita miliki, bila digunakan atau dipakai untuk memisahkan antara golongan Islam maka itu adalah seruan jahiliyah.
Walaupun niatnya baik dan tujuannya mulia, bila slogan-slogan yang dibawa justru memecah belah umat maka kemudaratan yang lebih besar akan menimpa umat Islam.
Kita lihat, seruan-seruan yang digunakan para sahabat adalah gelar yang mulia, tapi tetap saja slogan tersebut malah menjerumuskan mereka ke dalam kekeliruan. Apalagi slogan yang kita rumuskan sendiri, yang kita sendiri saja belum tentu layak berdiri di bawah naungan nama tersebut.
Maka tentu, wajib bagi diri kita untuk menjaga lisan dan ucapan dari seruan-seruan jahiliyah, seruan-seruan yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan.
Serta wajib pula bagi diri kita pribadi untuk bertaubat dan menyesali seluruh tindakan yang mengarah kepada tindakan jahiliyah, tindakan yang memecah belah persatuan umat, tindakan yang merendahkan golongan lain dan menyombongkan diri sendiri.
Taubat yang kita lakukan bukan hanya karena seruan yang salah, tetapi juga atas kesadaran penuh bahwa mungkin persatuan umat menjadi terhalang adalah karena kita, mungkin kemenangan yang dijanjikan oleh Allah menjadi ditunda karena kita, mungkin banyak saudara-saudara yang tertindas oleh kezaliman orang-orang musyrik bisa jadi karena kita.
Para sahabat telah menujukan sikap mereka terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Dengan kembali kepada persatuan dan membuang jauh-jauh setiap seruan ataupun slogan yang dapat memecah belah mereka. Inilah fokus kita, inilah yang seharusnya kita ambil sebagai pelajaran, bahwa sahabat memang melakukan kesalahan, tapi mereka dengan cepat sadar dan memperbaiki kesalahan yang telah mereka kerjakan. Wallahu a’lam bishshawab.