Jika diibaratkan sebuah pintu, maka kematian adalah pintu yang pasti dilewati oleh semua makhluk hidup. Tua, muda, dewasa, anak-anak, bahkan bayi yang baru menghirup udara sekalipun.
Jika saatnya tiba, tiada satupun yang bisa menolak untuk melewati pintu itu. Artinya, setiap dari kita pasti akan mengalami kematian pada waktunya. Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya,
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran : 185)
Jama’ah yang dirahmati Allah ﷻ.
Kematian adalah ambang batas terakhir bagi seorang hamba untuk berbekal dalam perjalanan panjang yang pasti dilaluinya. Ya, setiap kita sedang berjalan menuju Sang Pencipta.
Perjalanan yang sangat panjang. Perjalanan yang butuh banyak persiapan dan bekal. Adapun dunia ini, adalah tempat untuk mempersiapkan semua itu.
Sedangkan batas waktu persiapan dan pengumpulan bekal tersebut adalah sampai kematian datang menjemput.
Setelah kematian datang, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah bekal, tidak ada lagi kesempatan untuk beramal. Yang ada hanya hisab dan pembalasan.
Setelah kematian, seorang hamba akan berpindah ke alam barzakh. Pos pertama dari sekian pos yang akan dilewati dalam perjalanan menuju Sang Pencipta.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Sejak di alam barzakh, seorang hamba mulai mendapat balasan dari apa yang telah dikerjakan di dunia. Yang baik mendapat balasan kebaikan, yang buruk mendapat balasan keburukan.
Saat itulah, seorang hamba menyadari bahwa dunia yang telah dilaluinya terasa singkat. Bekal yang dibawanya teramat sedikit.
Hingga sebagian mereka ingin kembali ke dunia untuk kembali mengumpulkan bekal tersebut.
Ayat-ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah ﷺ telah mengabarkan kepada kita tentang bagaimana keinginan para penghuni alam barzakh.
Apa saja yang mereka inginkan jika diberi kesempatan untuk kembali ke dunia nyata.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Pertama, mendirikan shalat, meski hanya dua rakaat.
Salah satu hal yang diinginkan oleh penghuni kubur adalah kembali ke dunia untuk shalat. Bukan shalat yang panjang. Hanya dua rakaat shalat yang ringkas. Mereka begitu berharap dua rakaat tersebut bisa menambah timbangan amal kebaikannya.
Sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ melewati satu kuburan. Lalu beliau bertanya, “Siapakah yang dikubur di sini?”
“Dua rakaat lebih disukai penghuni kubur ini ketimbang apa yang tersisa dari dunia kalian.” (HR. Thabrani, 920)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Lihatlah, andaikan penghuni kubur diberi pilihan antara memilih segala macam pernak-pernik dunia yang masih tersisa hingga hari kiamat dengan mengerjakan shalat dua rakaat.
Mereka lebih memilih shalat dua rakaat.
Karena dia melihat, bahwa shalat dapat menggugurkan dosa-dosa, shalat adalah cahaya dunia akhirat, dan shalat dapat menghantarkan seorang hamba pada derajat yang tinggi di surga.
Oleh karena itu, selagi kita masih di dunia, selagi kita punya kesempatan untuk mengerjakan raka’at demi raka’at shalat tanpa batas.
Maka mari ambil kesempatan itu, untuk menegakkan shalat dengan sebaik-baiknya.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Kedua, bersedekah.
Hal kedua yang diinginkan oleh penghuni kubur adalah, kembali ke dunia untuk bersedekah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ﷻ di dalam surat Al-Munafiqun ayat 10. Allah ﷻ berfirman;
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu;
Lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’”
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Orang yang telah sampai ajalnya akan minta tangguh agar ajalnya diundur, bahkan yang telah wafat pun minta dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh.
Amal saleh yang dimaksud adalah sedekah.
Mengapa justru memilih bersedekah padahal banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya?
Mereka memilih sedekah, karena sedekah memiliki banyak sekali keutamaan. Beberapa di antaranya adalah:
Pertama, sedekah dapat meredam panasnya siksa kubur.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484).
Kedua, sedekah dapat menjauhkan seseorang dari siksa neraka.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah separuh butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, sedekah dapat menyelamatkan seseorang dari su’ul khatimah dan meredam murka Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR. Tirmidzi)
Juga sabda beliau ﷺ, “Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah.” (Shahih At-Targhib, 888)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersedekah. Allah dan Rasul-Nya tidak menyebutkan nominal untuk sedekah sunah.
Maka bersedekahlah sesuai dengan kemampuan. Sedikit banyak sedekah yang kita keluarkan tetap akan bernilai dan berpahala di sisi-Nya.
Karena Allah ﷻ tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hamba. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab.