Kultum Ramadhan #18: Dua Hal yang Menolong Hamba
Oleh Satrio Kusumo
Jama’ah shalat tarawih yang semoga senantiasa dirahmati Allah ﷻ. Kesulitan hidup, konflik batin, kekurangan finansial, dan berbagai ujian lainnya, merupakan suatu keniscayaan yang pasti dirasakan oleh manusia.
Siapapun dia. Mulai dari orang yang paling kaya, paling tinggi jabatannya, paling cerdas pemikirannya, semua yang dikira tanpa masalah, nyatanya juga merasakan kesulitan hidup dan kegundahan.
Hidup ini, sejatinya tidak pernah benar-benar ringan. Setiap dari kita memikul sesuatu yang tidak selalunya terlihat oleh orang lain. Tampaknya bahagia, tetapi terselip dalam relung hati beban yang amat berat.
Perjuangan yang kita sembunyikan dengan rapat agar tidak turut membebani orang lain, terkadang akhirnya meluap dan tak terbendung lagi.
Di titik tertentu, lelah sudah cukup menyesakkan dan di sisi lain, seolah hanya ada jalan buntu yang menghadang. Pada kondisi seperti itu, biasanya kita akan bersegera mencari pertolongan.
Ada yang mencari pada manusia lain. Ada yang mencari pada jabatan. Ada yang mencari pada harta. Ada pula yang mencari pelarian dalam kesibukan.
Namun, itu semua seringkali hanya menenangkan sementara. Setelahnya kegelisahan kembali memenuhi hati. Mencari pertolongan pada apa yang ada di sekitar kita tentu bukan suatu kesalahan.
Seperti orang yang tenggelam, ia akan secara naluri menggapai apa saja yang bisa dia jadikan pegangan.
Dan sebagai insan beriman, tentu kita sangat yakin bahwa sejatinya pertolongan itu ada (dengan berbagai bentuknya) tak lain adalah karena pertolongan dari-Nya.
Itulah sejatinya yang akan benar-benar menenangkan hati kita. Membuat diri tetap bertahan, meski masalah silih berganti datang bertubi-tubi.
Maka ada dua kunci yang Allah ﷻ ajarkan untuk meraih pertolongan dari-Nya. Allah ﷻ berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Sabar
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Hal pertama yang menjadi kunci untuk mendapat pertolongan dari Allah ﷻ adalah sabar.
Imam Mujahid, seperti yang dikutip oleh Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi, menjelaskan bahwa maksud sabar dalam ayat tersebut adalah shiyam atau puasa.
Maka, bulan suci Ramadhan, juga disebut dengan Syahru ash-Shabr, atau bulan sabar menahan diri dari hawa nafsu. Demikian karena puasa adalah latihan kesabaran tingkat tinggi—sabar menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu secara bersamaan dalam satu waktu.
Imam Ath-Thabari kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa sabar berarti menahan dan mengendalikan jiwa dari apa yang diinginkan. Sehingga tidak terbatas hanya pada makna puasa saja.
Sabar tentu bukan berarti bersikap pasif dan diam tanpa berusaha semaksimal mungkin. Jika demikian, maka sabar justru menunjukkan suatu kelemahan.
Padahal tidak demikian. Justru sabar itu merupakan kekuatan batin seseorang yang membuatnya tetap tegak dan berjuang meski badai datang membentang.
Maka saat seseorang sedang berjuang pada kesabaran, sejatinya ia sedang memantaskan diri agar bisa mendapat pertolongan dari Allah ﷻ. Dan kesabaran itu ada pada tiga hal:
-
Sabar dalam ketaatan.
-
Sabar dalam meninggalkan maksiat.
-
Sabar dalam menghadapi takdir yang menyakitkan.







