Kultum Ramadhan #17: Dua Hal yang Mendatangkan Laknat Oleh Ashabul Yamin
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Islam sebagai agama peradaban sangat memperhatikan adab di ruang publik. Bahkan hal yang tampak sederhana seperti kebersihan dan etika buang hajat pun diatur dengan detail.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takutlah kalian terhadap dua perkara yang mendatangkan laknat: orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduh mereka.” (HR. Muslim, 269)
Sekilas, hadits ini terdengar sederhana. Ya, hanya soal adab buang air.
Namun jika kita masuk ke dalam konteks zamannya, kita akan menemukan bahwa Nabi ﷺ memandang bahwa ini adalah perkara besar.
Nabi ﷺ sedang meletakkan pondasi tentang etika sosial dan lebih dari itu adalah tanggung jawab publik.
Di masa Nabi ﷺ, Madinah belum mengenal toilet modern atau sistem sanitasi tertutup. Orang-orang biasanya buang hajat di tempat terbuka, yang jauh dari pemukiman.
Termasuk di jalan. Padahal jalan adalah urat nadi kehidupan: orang berdagang, bepergian, bersilaturahmi melintasinya setiap hari.
Sementara tempat berteduh dalam hadits di atas biasanya di bawah pohon atau sisi bangunan, menjadi ruang istirahat bagi musafir yang kepanasan di bawah terik matahari gurun.
Lantas apa yang dimaksud dengan al-la’anaini dalam hadits di atas?
Imam Nawawi menjelaskan bahwa kedua riwayat ini sama-sama shahih. Perbedaan redaksi tidak mengubah makna substansialnya.
Dalam menjelaskan riwayat Abu Dawud, beliau mengatakan: “Makna ‘ittaqu al-la‘inain’ adalah: jauhilah dua perkara yang pelakunya dilaknat.” (Syarh Shahih Muslim, 3/164)
Secara bahasa, kata (اللَّعَّانَيْنِ) adalah bentuk mutsanna (dua) dari (لعّان), yaitu صيغة مبالغة (bentuk hiperbolik). Ia menunjukkan dua perkara yang sangat kuat dalam mendatangkan laknat.
Laknat sendiri bermakna jauh dari kebaikan. Ada juga yang menyatakan, laknat adalah jauh dari Allah ﷻ.
Jika laknat itu dari manusia dan makhluk, yang dimaksud laknat adalah celaan dan doa.
Setiap yang terkena laknat Allah ﷻ, maka ia berarti jauh dari rahmat Allah ﷻ dan berhak mendapatkan siksa, akhirnya binasa. Demikian disebutkan dalam Lisanul ‘Arab, 13/387-388.
Menariknya, Rasul tidak mengatakan “Allah ﷻ melaknat”, tetapi “dua hal yang mendatangkan laknat.”
Artinya, perbuatan itu membuat pelakunya pantas mendapatkan doa buruk dari manusia. Orang yang terganggu akan mengumpat.
Orang yang dirugikan akan mencela. Dan semua itu akan menjadi sebab laknat dari Allah ﷻ.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Kalau kita tarik ke kehidupan hari ini, mungkin jarang orang yang buang hajat di tengah jalan.
Jika pun ada, biasanya karena terdesak dan tidak ada toilet di tempat terdekat, tapi itu bisa kita katakan jarang terjadi.
Karena hampir semua fasilitas umum, seperti masjid, musholla, toko, dan tempat-tempat semisalnya hampir dipastikan semua ada toiletnya.
Meski begitu, spirit dari hadits yang kita baca tadi akan terus relevan sepanjang masa; jangan jadikan dirimu sumber ketidaknyamanan orang lain.
Misal, membuang sampah sembarangan di selokan hingga menyebabkan banjir. Parkir motor di depan gang sempit sampai orang lain kesulitan lewat.
Meninggalkan sisa makanan dan gelas plastik di masjid setelah acara. Contoh lain, memutar musik keras larut malam tanpa memikirkan tetangga yang sedang istirahat.
Membakar sampah hingga asapnya masuk ke rumah orang lain. Menggelar acara hingga menutup akses jalan tanpa koordinasi, dan semisalnya.
Yang pada intinya adalah perbuatan yang menjadi sebab ketidaknyamanan orang lain.
Orang mungkin tidak langsung berkata kasar di depan kita, tetapi dalam hati mereka mengeluh. Bahkan bisa jadi mereka mendoakan keburukan.
Di situlah makna “mendatangkan laknat” yang disebut Rasul dalam hadits.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Kadang kita merasa sudah baik karena rajin beribadah. Tetapi ukuran akhlak juga terlihat dari hal-hal kecil: apakah kehadiran kita memudahkan orang lain atau justru menyulitkan?
Apakah kita meninggalkan jejak yang bersih atau masalah yang harus dibereskan orang lain?
Islam ingin membangun masyarakat yang saling mendoakan, bukan saling mengutuk. Saling memudahkan, bukan saling menyusahkan.
Karena itu Nabi ﷺmemulai dengan satu kata penting: اتقوا — bertakwalah.
Takwa ternyata bukan hanya soal hubungan dengan Allah, tetapi juga soal bagaimana kita menjaga hak orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.