Kultum Ramadhan #16: Dua Betis yang Lebih Berat dari Gunung Uhud Oleh Satrio Kusumo
Salah satu efek negatif dari perkembangan teknologi dan dunia digital adalah pada standar penilaian manusia. Hari ini, bisa kita saksikan bagaimana media sosial menjadi tempat untuk mengolok-olok fisik seseorang.
Fisik seolah menjadi standar kunci bagi baik atau tidaknya seseorang. Beberapa waktu lalu, sempat ramai diperbincangkan tentang seorang tokoh politik yang sedikit kontroversial. Tetapi, bukan dibicarakan idenya, justru yang menjadi bulan-bulanan adalah fisiknya.
Seberapa pun tidak setujunya kita terhadap cara pandang dan perilaku orang lain, tentu menghina fisik dan kekurangan mereka bukanlah satu sikap yang bijaksana. Tubuh yang pendek dianggap tidak berwibawa, badan yang tidak ideal dianggap lemah, penampilan yang biasa-biasa saja dianggap tidak terhormat.
Media sosial yang berisi pikiran-pikiran manusia entah dari mana asalnya, membawa standar tersebut dan memaksa agar manusia harus menjadi sempurna fisiknya. Tentu hal ini menjadi satu hal yang perlu diwaspadai bersama.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, standar yang kita pakai mestinya adalah syariat yang telah diturunkan.
Bukan semata akal dan keinginan hawa nafsu saja. Sebab fungsi syariat adalah sebagai petunjuk, penuntun, dan standar untuk diikuti.
Terkadang, apa yang dilihat manusia sebagai sesuatu yang kurang sempurna, justru bernilai besar di hadapan Allah ﷻ. Apa yang tampak kecil dan tidak berguna bagi manusia, bisa menjadi agung di sisi-Nya.
Mari kita ingat kembali tentang satu peristiwa yang dialami oleh salah seorang Sahabat yang bernama Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Suatu hari, seperti yang dikisahkan oleh Ali bin Abi Thalib, Abdullah memanjat pohon hendak mengambil sesuatu (siwak, dalam riwayat dari Imam Ahmad) guna memenuhi permintaan Nabi ﷺ.
Saat memanjat itulah, Sahabat lain yang menunggu di bawah, melihat betis Abdullah yang kecil dan kurus. Seketika mereka tertawa karena hal itu. Mendengar tawa dari para Sahabat, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kedua betis itu lebih berat di timbangan (akhirat) daripada Gunung Uhud.” (HR. Ahmad, 3991)
Jama’ah yang dirahmati Allah ﷻ. Ketika Rasulullah ﷺ melihat dan mendengar sesuatu yang kurang baik, pertama yang Beliau ﷺ lakukan adalah mengkonfirmasikannya.
Beliau tidak serta merta menuduh atau menasihati Sahabat tanpa memastikan bahwa mereka telah bersikap keliru.
Setelah terkonfirmasi, baru kemudian Beliau ﷺ memberi tahu sikap yang mestinya Sahabat miliki. Yaitu bukan memandang rendah fisik orang lain, karena bukan itu ukuran kemuliaan hamba di sisi Allah ﷻ.
Beliau mengingatkan tentang kemuliaan Sahabat Abdullah bin Mas’ud, radhiyallahu ‘anhum ajmain.
Iman dan Takwa Ukuran Kemuliaan
Meski memiliki fisik yang akan dianggap biasa saja oleh kebanyakan manusia, Abdullah bin Mas’ud, memiliki keutamaan yang luar biasa. Ia termasuk salah seorang ulama di kalangan Sahabat.
Selain itu, ia juga termasuk dalam golongan asabiqunal awwalun, para Sahabat yang awal-awal masuk Islam.
Keutamaan itulah yang membuat beliau istimewa dan mulia. Sehingga, ketika dunia menilai hanya dari tampilan luar. Maka Allah ﷻ dan Rasul-Nya, menyatakan bahwa seseorang itu, bernilai dari apa yang ada di dalam hatinya.
Dalam satu kesempatan yang lain, Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
“Sesungguhnya, Allahﷻ tidak menilai kalian dari rupa dan banyaknya harta. Tetapi Allah ﷻ menilai hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim, 2654)
Ironisnya, hari ini bisa kita saksikan manusia berlomba-lomba untuk hanya memperindah tampilan luar saja, tetapi lupa mempercantik hatinya.
Bukan berarti tidak boleh berpenampilan indah, karena itu pun juga dianjurkan. Hanya saja, kita juga perlu memperhatikan apa yang ada dalam diri.
Jama’ah yang dimuliakan Allah ﷻ. Iman dan ketakwaan kita sejatinya juga perlu terus diperbaiki. Sebagaimana kita menjaga tubuh dan jasad dengan memperindahnya dengan pakaian-pakaian yang bagus, sepatu dan sandal yang baik.
Hati kita perindah dengan zikir, ibadah, shalawat, dan akhlak yang mulia. Termasuk di antaranya adalah tidak memandang rendah orang lain dan meremehkan mereka.
Tidak Meremehkan Orang Lain
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Terkadang, meski sudah sangat berhati-hati terhadap sikap sombong, kita masih bisa terjatuh padanya.
Kesombongan yang sangat halus, kadang menjangkiti kita ketika merasa lebih baik karena penampilan, latar belakang pendidikan, jabatan, ataupun harta.
Tidak terucap memang, tetapi dalam hati ada rasa lebih baik dari orang lain dan meremehkan mereka. Padahal, bisa jadi orang yang kita anggap biasa saja, ternyata luar biasa di sisi Allah ﷻ.
Bisa jadi orang yang tampak sederhana, ternyata lebih dekat kepada Allah ﷻ dari pada kita. Bisa jadi pula orang yang tak terpandang, justru dimuliakan di langit karena amalan mereka.
Maka kehati-hatian kita untuk tidak meremehkan siapapun menjadi hal yang harus terus dipupuk. Sebab Allah ﷻ telah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik dari mereka.”
Kisah Abdullah bin Mas’ud tersebut menjadi pelajaran tidak hanya bagi para Sahabat, tetapi juga bagi kita hari ini. Bahwa standar yang Allah ﷻ dan Rasul-Nya gunakan tidaklah sama dengan timbangan manusia.
Dunia hanya melihat soal keindahan fisik, tetapi Allah ﷻ menimbang dengan kadar keimanan dan kesungguhan dalam beramal shalih.
Demikian, kita bisa membayangkan bagaimana keadaan di hari kiamat kelak. Seperti yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Tidak ada lagi penampilan.
Tiada lagi gelar dan harta yang bergelimang. Semua berdiri sama rata dengan hati dan amal yang berbeda.
Ketika itulah kemuliaan dan kehinaan yang sesungguhnya akan ditampakkan.
Maka mari bersama perbaiki kualitas keimanan dan amal kita. Tidak usah terlalu risau dengan penilaian orang, jangan terlalu bangga pula dengan pujian dari mereka.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang sibuk memperberat timbangan di akhirat, bukan sekedar memperindah penampilan di dunia. Amin.