Kultum Ramadhan #23: Dua Teman di Alam Barzakh Oleh Satrio Kusumo
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Kematian adalah sesuatu yang pasti akan menjemput kita semua. Tanpa bisa ditunda, tanpa permisi, dan tanpa tapi.
“… maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”
Setelah kematian, satu perkara yang kita imani dan yakini sebagai seorang Muslim adalah alam barzakh. Di sanalah tempat manusia menunggu sebelum hari berbangkit tiba.
Di liang kubur yang sempit, sunyi, gelap, dan dingin itulah nantinya jasad kita semua terbujur kaku. Tiada yang menemani, dan tentu tidak akan ada yang mau menemani.
Keluarga yang ketika di dunia membersamai, mereka hanya akan mengantar sampai pemakaman. Harta yang dikumpulkan mati-matian, tertinggal di dunia untuk dibagi-bagikan.
Namun demikian, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita pahami bersama. Yaitu, apakah kita benar-benar sesendiri itu?
“Tiga perkara mengikuti mayit: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali pulang dan satu tetap bersamanya.
Yang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR. Bukhari, 6514)
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Jika di dunia ini, kita hidup bersama dengan keluarga, kerabat, tetangga, teman, serta makhluk Allah ﷻ yang lainnya, maka di alam kubur kita hidup bersama amal kita.
Ia akan selalu menemani, hingga hari pembalasan kelak. Di dunia kita beramal (baik maupun buruk), di alam barzakh, amal itu pun akan datang menemani.
Dalam sebuah hadits yang cukup panjang. Diceritakan oleh salah seorang Sahabat bernama Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, 4753 dan Nasai, 2001.
Ketika itu Bara’ melayat jenazah salah seorang Sahabat Anshar bersama Rasulullah ﷺ.
Setelah selesai proses pemakaman, Rasulullah ﷺ duduk sejenak dan semua Sahabat radhiyallahu ‘anhum terdiam di sekeliling Beliau ﷺ. Kemudian Beliau ﷺ berdoa meminta perlindungan dari azab kubur sebanyak tiga kali.
Teman Kebaikan
Singkat cerita, Beliau ﷺ mengabarkan tentang kondisi si mayit yang akan segera didatangi oleh Malaikat dalam rupa elok lagi menawan.
Arwahnya dibawa ke langit dan kemudian dikembalikan lagi di kuburnya untuk ditanya tiga hal.
Siapa rabbnya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Maka saat si mayit bisa menjawab pertanyaan tersebut, penyeru dari langit akan menyerukan firman Allah ﷻ.
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;...” (QS. Ibrahim: 27)
Kemudian datang kepadanya seseorang yang berwajah tampan, mewangi harum, dan berpakaian indah. Ia berkata kepadanya, “Wahai fulan, bergembiralah dengan keridhaan Allah ﷻ dan dengan surga-surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang kekal.”
Orang itu pun berkata, “Dan engkau juga, semoga Allah ﷻ memberimu kabar gembira dengan kebaikan. Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kabar baik. Siapakah engkau?”
“Aku adalah amal salehmu. Demi Allah ﷻ, aku mengetahui bahwa engkau dahulu cepat dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan lambat dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Maka semoga Allah ﷻ membalasmu dengan kebaikan.”
Lalu orang itu berkata, “Dan engkau juga, semoga Allah ﷻ membalasmu dengan kebaikan.”
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Demikianlah amal shalih kita kemudian berwujud menjadi sosok rupawan yang akan menemani di alam kubur.
Ia elok, wangi, dan betapa menyenangkannya ketika memiliki teman sebaik itu.
Namun sebaliknya, sebuah pemandangan yang amat memilukan akan terjadi pada mereka yang selama hidupnya berpaling dari ketaatan.
Bagaimana rupa teman yang menanti mereka di kesunyian liang kubur?
Teman Keburukan
Di dalam hadits tersebut di atas, Rasulullah ﷺ juga mengabarkan (sebagaimana dikisahkan oleh Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu) kondisi orang kafir yang menolak syariat Islam.
Maka ketika ia berada di ambang akhirat dan terputus dari dunia, turun kepadanya para malaikat yang berwajah hitam.
Mereka membawa pakaian dari tembaga dan kain dari api. Mereka dudukkan dia lalu mencabut ruhnya dengan keras hingga urat dan sarafnya ikut terlepas.
Ketika ruhnya keluar, semua malaikat antara langit dan bumi melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup baginya; tidak ada satu pun pintu yang mau menerimanya.
Saat ruh itu dibawa ke langit, ia dilempar kembali seraya dikatakan, “Wahai Tuhanku, ini hamba-Mu Fulan. Kami telah mencabut ruhnya, tetapi bumi dan langit tidak menerimanya.”
Allah ﷻ berfirman, “Kembalikan dia ke bumi, karena dari tanah Aku menciptakan mereka, ke sana Aku mengembalikan mereka, dan darinya pula Aku akan membangkitkan mereka.”
Ia pun mendengar suara langkah orang-orang yang meninggalkannya dari kubur. Lalu ia ditanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”
Ia menjawab, “Aku tidak tahu.”
Maka seorang penyeru dari langit berseru, “Engkau tidak tahu dan tidak pula mau mencari tahu.”
Kemudian datang kepadanya seseorang yang berwajah buruk, berbau busuk, dan berpakaian jelek. Ia berkata, “Wahai fulan, bersiaplah menerima kemurkaan Allah ﷻ dan azab yang kekal.”
Orang itu pun berkata, “Semoga Allah ﷻ membalasmu dengan keburukan. Wajahmu adalah wajah yang membawa kabar buruk. Siapakah engkau?”
Ia berkata, “Aku adalah amal burukmu. Demi Allah ﷻ, aku mengetahui bahwa engkau dahulu cepat dalam bermaksiat kepada Allah ﷻ dan lambat dalam menaati-Nya. Maka semoga Allah membalasmu dengan keburukan.”
Orang itu pun berkata, “Dan engkau juga, semoga Allah ﷻ membalasmu dengan keburukan.”
Dia pun meratap dan berharap, agar Allah ﷻ menunda datangnya hari Kiamat.
Sebab jika kengerian di alam kubur saja sudah sedemikian dahsyatnya, lantas bagaimana nasibnya kelak saat Allah ﷻ menetapkan neraka sebagai tempat kembalinya?
Naudzubillah min dzalik.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Sebagaimana amal shalih yang akan menemani kita, keburukan yang dilakukan di dunia, juga akan datang dalam rupa yang sangat mengerikan.
Dosa-dosa yang diperbuat, yang mungkin terasa indah di dunia, ia akan mewujud menjadi kebinasaan di alam barzakh. Maka kita berdoa semoga Allah ﷻ mengampuni segala dosa dan salah kita.
Dan di kesempatan yang berharga ini, selagi nyawa masih dikandung badan, mari perbanyak amal ketaatan dan kebaikan. Demikian agar kesendirian kita di alam kubur kelak, ditemani oleh amal yang berwujud rupawan.
Amal yang menjadikan kita berharap agar Allah ﷻ menyegerakan hari kiamat dan mempertemukan kembali kepada keluarga kita. Amal yang menjadikan kubur tidak lagi sunyi dan menakutkan.
Ya Allah ﷻ, terimalah shiyam kita, shalat kita, sujud kita, tilawah kita, dan seluruh amal kebaikan kita. Amin.