Kultum Ramadhan #8: Dua Doa yang Tak Tertolak Oleh Satrio Kusumo
Sebagai makhluk yang lemah, Allah ﷻ membekali manusia dengan satu keyakinan yang menjadi senjata di kala lapang maupun sempit. Hal itu adalah doa.
Selain untuk mendekatkan diri, doa menjadi penguat batin dan sarana ketenangan hati. Terlebih ketika Allah ﷻ mengijabahi apa yang kita minta sesuai dengan keinginan.
Meskipun kita sadar bahwa Allah ﷻ pasti mengabulkan setiap doa dengan berbagai bentuknya, akan tetapi kita pasti berharap doa tersebut dikabulkan sebagaimana permintaan yang kita lantunkan.
Rasulullah ﷺ sendiri telah mengajarkan kepada kita berbagai macam doa yang dengannya kita meminta kepada Allah ﷻ.
Berdoa sejatinya bukan hanya sekedar meminta, lebih dari itu, ia merupakan suatu bentuk ibadah dan penghambaan kita kepada Allah ﷻ. Bahkan, Allah ﷻ juga membuka waktu emas bagi manusia untuk bisa menjadi lebih dekat dengan-Nya.
Momen tersebut menjadi saat yang akan menjadi tali pengikat agar manusia tidak melalaikan tugasnya dan tetap peka terhadap kebersihan hatinya. Dari sekian banyak kesempatan tersebut, dalam satu kesempatan Nabi ﷺ menyebut dua secara khusus.
“Doa ketika adzan dikumandangkan dan doa ketika turun hujan.” (HR. Thabrani, 6/135, Abu Dawud, 2540)
Adzan; Momentum Seruan Langit
Lantunan yang kita dengar setiap hari selama lima waktu tanpa henti di negeri tercinta ini sebenarnya bukanlah satu hal yang biasa. Sebab adzan merupakan seruan tauhid dan saat itu manusia sedang diingatkan tentang siapa sejatinya dia.
Pada momen tersebut kalimat-kalimat thayyibah dikumandangkan dengan lantangnya ke seluruh penjuru. Menandakan bahwa saatnya manusia untuk kembali kepada Allah ﷻ. Saat itulah suasana hati seorang mukmin berubah.
Dunia berhenti sejenak, aktivitas ditunda sementara, dan hati kembali mengingat bahwa hidup bukan sekedar untuk mencari harta benda saja.
Pada saat itulah Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa doa akan dikabulkan. Di dalam riwayat yang lain Beliau menegaskan
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak. Maka berdoalah kalian.” (HR. Abu Dawud, 521)
Sabda Nabi ﷺ tersebut menegaskan makna hadits sebelumnya. Bahwa ada waktu di dunia ini yang berdoa ketika di dalamnya kemungkinan besar akan diijabah. Ketika adzan dan rentang waktu hingga shalat ditegakkan.
Para ulama menjelaskan bahwa saat itu istimewa karena seorang hamba sedang ada dalam suasana mempersiapkan diri menuju ibadah yang agung, yaitu shalat. Hatinya sedang tertunduk dan tersadar, pikirannya fokus pada apa yang semestinya.
Akan tetapi, kita juga harus memahami bahwa maksud terkabulnya doa tentu tidak selalu sesuai dengan harap dan keinginan kita. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal:
atau, dipalingkan darinya keburukan yang sepadan dengan doa tersebut.” (HR. Ahmad, 11133)
Lima kali sehari Allah ﷻ membukakan ruang untuk meminta kepada-Nya. Sesaat sebelum melaksanakan kewajiban, sesaat sebelum kita menundukkan diri dan kembali memasrahkan seluruh jiwa raga yang mungkin telah lalai dari-Nya.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Doa Saat Hujan Turun
Kebanyakan dari kita, mungkin akan mengeluh ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Pakaian yang basah kuyup, jalanan yang becek dan berair, perjalanan yang tertunda, dan berbagai hal lain yang biasanya dianggap sebagai gangguan.
Cara berpikir yang demikian, tentu sebaiknya kita hilangkan. Sebab, sesungguhnya hujan itu adalah rahmat bagi semesta. Dengannya tanah yang kering nan tandus, kembali hidup menghijau dengan izin Allah ﷻ. Tanaman tumbuh, sungai mengalir, dan kehidupan berlangsung.
Hujan sejatinya adalah wujud nyata kasih sayang Allah ﷻ kepada kita, manusia. Meskipun, kadang kita justru menganggapnya sebagai hal yang menyusahkan. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita untuk tidak bersikap demikian.
Bahkan beliau menyebutkan sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa saat turun hujan, saat itulah kesempatan untuk doa kita dikabulkan semakin besar.
Beliau ﷺ pun juga mengajarkan satu doa saat hujan. Bukan merutuk, bukan menggerutu, bukan berkeluh kesah. Tetapi kita membatin dan berdoa,
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
Demikianlah bagaimana kita diajarkan untuk selalu bersikap positif dan husnudzan kepada Allah ﷻ.
Akan tetapi, ketika kita mulai merasa khawatir dan melihat hujan berpotensi menimbulkan keburukan bagi manusia, Beliau ﷺ juga mengajarkan doa yang lain.
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan menimpa kami. Ya Allah, turunkanlah di bukit-bukit dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Maka, inilah akhlak terbaik yang Rasulullah ﷺ ajarkan kepada kita ketika hujan turun. Berdoa, memperbanyak untuk meminta ampunan dan kebaikan kepada Allah ﷻ.
Hujan mengajarkan kepada kita bahwa bumi yang tandus, bisa kembali hidup dengan rahmat dari Yang Maha Kuasa. Sebagaimana hati yang mati, ia bisa kembali hidup dengan mengingat Allah ﷻ.
Lantas, bagaimana dengan banjir? Bukankah hujan membawa bencana?
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah, mari kita renungi ayat berikut, yang menerangkan bahwa sesungguhnya, manusia lah yang membuat kerusakan di bumi.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Demikianlah sejatinya, hujan merupakan rahmat dan berkah, sedangkan akibat buruk yang terjadi setelahnya, tidak lain dan tidak bukan adalah dampak dari perbuatan buruk manusia yang semena-mena.
Hanya saja, terkadang manusia lupa diri dan mengutuk segala hal di luar dirinya sendiri. Buruk rupa, cermin dibelah dua.
Jamaah sekalian, maka mari perbanyak doa pada dua kesempatan berharga tersebut. Di kala adzan berkumandang sebelum shalat ditegakkan, dan ketika hujan turun membawa rahmat dari-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.