Kultum Ramadhan #9: Dua Hembusan Napas Neraka Oleh Ashabul Yamin
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Iman kepada hal ghaib adalah inti dari rukun iman. Allah, Malaikat, hari kiamat, alam akhirat, Surga dan Neraka adalah realitas yang tak kasat mata, tak bisa disentuh juga tak dapat dibuktikan oleh panca Indera.
Meski begitu, iman adalah dasar dalam beragama ia ibarat pondasi dalam sebuah bangunan. Tanpa ada pondasi tak akan ada bangunan yang tegak.
Iman adalah ujian bagi panca indra dan logika, karena iman menuntut untuk percaya pada sesuatu yang tak tampak. Padahal, secara naluriah manusia membangun keyakinannya dari apa yang dia lihat, dengar, sentuh, dan rasakan.
Sesuatu dianggap nyata jika bisa dibuktikan oleh indra. Sesuatu dianggap benar jika bisa dilihat langsung.
Sementara iman menuntut percaya pada semua yang berada di luar jangkauan indra manusia. Di situlah ujian keimanan itu berada.
Kita diminta percaya bahwa Allah, Malaikat, hari kiamat, alam akhirat, surga dan neraka, padahal indra kita belum bisa membuktikannya.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Maka, iman itu sebenarnya ada prosesnya; dimulai dari kesadaran akal akan keteraturan alam semesta, kehidupan yang berjalan rapi dan hukum sebab akibat yang konsisten. Semua itu sulit diterima sebagai sebuah kebetulan.
Dari sini akal sampai pada kesimpulan bahwa pasti ada zat yang Maha Pencipta, dan Maha Mengatur. Mau tidak mau, akhirnya akal kita sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, dan harus ada. Dia-lah Allah yang Maha Pencipta, Mengatur, dan Maha Segalanya. Ini yang pertama.
Kemudian yang kedua, setelah yakin Allah ﷻ itu ada, dan satu-satunya entitas di jagad raya ini yang Maha segalanya. Akal akan mempertanyakan bagaimana Allah itu membimbing manusia?
Maka manusia menemukannya dalam wahyu Al-Qur’an yang isinya konsisten, mendidik, dan relevan sepanjang masa. Al-Qur’an dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, Nabi yang kejujuran, amanah, dan akhlak terpujinya diakui oleh kawan maupun lawan.
Dari sini tumbuhlah keyakinan kita bahwa risalah wahyu yang beliau bawa benar-benar berasal dari Allah ﷻ.
Selanjutnya, ketika seseorang sudah yakin bahwa Allah ﷻ itu ada, dan Allah ﷻ menurunkan wahyu-Nya kepada seorang Nabi ﷺ yang diakui oleh semua kalangan tidak pernah berdusta sekalipun dalam hidupnya.
Maka konsekuensi logisnya, apapun yang dibawa, apapun yang disampaikan adalah benar dan dapat dipercaya. Termasuk urusan surga, neraka, dan perkara-perkara ghaib lainnya.
Dari titik inilah seyogyanya kita bicara surga dan neraka. Bicara surga dan neraka tanpa memperhatikan urutan berpikir di atas, agaknya surga dan neraka hanya sebatas informasi yang didengar ketika ustadz ceramah, atau bacaan lepas yang lewat begitu saja.
Kalaupun percaya sekedar kepercayaan yang rapuh. Tidak terpatri dalam hati, apalagi menjelma menjadi energi gerak dan laku dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin tinggi kepercayaan seseorang tentang adanya alam akhirat, akan adanya surga dan neraka, maka dia akan semakin serius dalam beramal.
Sebaliknya orang yang tidak percaya, atau kurang percaya akan akhirat, hidupnya akan berjalan seperti tanpa beban. Bebas sebebas-bebasnya berbuat apapun tanpa batas, asalkan nafsunya puas.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Neraka Allah ﷻ ciptakan agar manusia tidak meremehkan dosa, tidak bermain-main dengan perintah Allah ﷻ. Dan selalu sadar bahwa setiap perbuatan akan ada pertanggungjawabannya.
Selain itu, neraka menjadi bukti keadilan Allah ﷻ. Bahwa kezaliman, kesombongan, dan pembangkangan tidak dibiarkan tanpa balasan.
Berbicara lebih jauh tentang neraka, neraka memiliki bermacam jenis siksaan. Yang kesemuanya adalah sakit dan penderitaan yang tak berujung.
Salah satu bentuk siksaan yang sangat menyakitkan bagi penghuni neraka adalah rasa panas yang membakar dan rasa dingin yang mematikan, seperti yang disabdakan Rasul dalam hadits berikut:
“Neraka berkata; ‘Ya Rabbi, kami memakan satu sama lainnya, (maka izinkanlah kami untuk bernapas!)’ Maka Allah mengizinkan untuk bernapas dua kali, napas ketika musim dingin dan napas ketika musim panas. Hawa yang amat panas, itu adalah dari panasnya neraka. Hawa yang amat dingin, itu adalah dari dinginnya (dingin bekunya) neraka.” (HR. Bukhari-Muslim)
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah.
Gambaran neraka yang barangkali lekat di benak kita bahwa neraka itu panas. Tapi dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa neraka juga dengan seizin Allah ﷻ bisa berubah menjadi dingin yang super ekstrim dan mematikan.
Neraka yang dingin itu disebut dengan zamharir.
Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zamharir adalah;
ولا زَمْهَريراً ـ وهوَ الْبَرْدُ الشَّدِيْدُ ـ فَيُؤْذِيْهِمْ بَردُهَا
“Zamharira yaitu dingin yang sangat dan menyiksa, dan penduduk neraka merasa sangat tersiksa dengan dingin tersebut.”
Adapun terkait panasnya, api neraka itu tujuh puluh kali lipat dari api dunia, hal ini berdasar pada sabda Nabi:
“Ketika masuk bulan Ramadhan, maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup …,” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka mudah-mudahan kita termasuk hamba yang diampuni dosanya dan dijauhkan dari api neraka sejauh-jauhnya pada bulan Ramadhan kali ini. Wallahu a’lam bish-shawab.