“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum : 54)
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia mengalami tiga fase kehidupan.
Pertama adalah fase lemah yaitu sejak cikal bakal seorang manusia terbentuk di dalam rahim seorang ibu hingga lahir dan sampai pada usia dewasa.
Fase kedua adalah fase kuat, yaitu ketika usia telah dewasa. Fase ketiga adalah fase lemah yang kedua kalinya, yaitu ketika manusia sampai pada usia tua.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Setiap orang secara umum pasti melalui setiap fase tersebut. Jika ditakdirkan berumur panjang maka dia akan memasuki fase ketiga.
Masa saat seseorang menua; rambut memutih, kulit keriput, tulang menjadi rapuh, badan tidak tegak lagi, daya ingat melemah dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Tapi, ada dua hal yang tidak pernah menua dari diri manusia. Dua hal itu adalah; kecintaan terhadap harta dan panjang angan-angan.
“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. al-Bukhari, 6420)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Hadits di atas merupakan peringatan dari Rasulullah ﷺ bahwa ada dua hal yang harus diwaspadai oleh manusia.
Pertama; cinta dunia.
Cinta dunia adalah tabiat manusia pada umumnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ﷻ dalam Surat Ali ‘Imran ayat 14.
Allah ﷻ berfirman, “Bahwa dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ﷻ lah yang menjadikan manusia cinta kepada dunia dan syahwat-syahwat lainnya.
Artinya, cinta terhadap dunia adalah perkara yang lumrah dan tidak tercela. Perkara mubah yang tidak mendatangkan dosa.
Selama kecintaan tersebut tidak berlebihan dan melalaikan manusia dari tugas utama; yaitu beribadah kepada Allah ﷻ.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Cinta kepada dunia secara berlebihan tidak diperbolehkan karena ia akan melahirkan banyak sifat tercela.
Di antaranya adalah; takut mati, panjang angan-angan, malas ibadah, hati senantiasa gelisah, sifat tamak terhadap harta dan lain-lain.
“Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi, 2376)
Sifat tamak ini sangat berbahaya. Ia akan menjadikan seseorang susah untuk bersyukur, pelit, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, curang, jahat kepada rekan kerja, jahat kepada keluarga, dan yang paling berbahaya adalah merusak agamanya.
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Kedua adalah panjang angan-angan.
Selain kecintaan terhadap dunia, hal yang senantiasa muda dalam diri seseorang adalah kecintaannya terhadap umur, hingga ia memiliki angan-angan yang panjang.
Pergantian tahun dan bertambahnya usia, semakin menambah keinginan untuk hidup lebih lama lagi.
Allah ﷻ mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ﷻ berfirman
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hadid: 16)
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih takut terhadap sifat panjang angan-angan daripada mengikuti hawa nafsu.
Karena hawa nafsu terkadang menjadikan seseorang berpaling dari kebenaran. Sementara panjang angan-angan menjadikan seseorang lupa dengan akhiratnya. (Hilyatul Auliya’, 1/76)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Semoga kita dijauhkan oleh Allah ﷻ dari penyakit panjang angan ini.
Karena penyakit ini akan menjadikan seseorang lupa terhadap nikmat Allah ﷻ, mudah menuruti hawa nafsu, lupa akhirat, melemahkan semangat ibadah, mudah maksiat, berbuat zalim kepada sesama dan masih banyak lagi akibat yang akan ditimbulkan oleh penyakit ini.
Mari kita perbaiki diri. Perbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Agar Allah ﷻ senantiasa memudahkan segala urusan kita. Jangan terlalu cinta terhadap dunia, jangan terlalu panjang angan-angan.
Jika dua penyakit ini terdeteksi ada pada diri kita, segera lakukan pengobatan dan terapinya. Salah satu obat dan terapi untuk mengobati penyakit ini adalah banyak mengingat kematian.
Itulah resep yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena jika kematian itu diingat oleh orang yang sedang berada dalam kesusahan hidup, maka hal itu akan bisa meringankan kesusahannya.
Dan jika diingat oleh orang yang sedang dalam kelapangan (senang), maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu (tidak membuatnya lalai).” (Lihat Shahih Al-Jami’, al-Albani, no. 1211)