Kultum Ramadhan #11: Dua Hal yang Menjadikan Puasa Tak Sempurna Oleh Satrio Kusumo
Hari ini, Allah ﷻ kembali menakdirkan kita untuk bisa bertemu bulan suci Ramadhan. Bulan yang semua dari kita sudah sangat memahami keutamaan-keutamaan di dalamnya. Semua itu, tak lain dan tak bukan adalah agar takwa dalam diri kita semakin meningkat kualitasnya.
Hal itu, sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang juga sudah sangat kita hafal.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
Namun demikian, tidak selalunya puasa ini menjadikan seseorang meningkat ketakwaannya. Tentu bukan salah puasanya, tetapi manusianya yang kurang memahami, memaknai, dan meresapi kenapa dia harus berpuasa.
“Boleh jadi, seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar.” (HR. Ibnu Majah, 3249)
Maka sepatutnya kita menunaikan ibadah dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Hadits tersebut bukan berarti kemudian secara hukum batal puasanya. Bisa jadi secara fikih, puasanya sah karena sudah dijalani sesuai tuntunan.
Akan tetapi, pahalanya bisa berkurang atau bahkan hilang karena melakukan hal-hal yang tidak baik. Oleh sebab itu, yang dimaksudkan puasa adalah menahan lapar dan dahaga, sekaligus juga menahan diri dari perbuatan tercela.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah ﷻ sesungguhnya tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Abu Dawud, 2362, Al-Bukhari, 1903)
Salah satu yang semestinya kita jaga setiap hari, terlebih di bulan Ramadhan, adalah lisan. Selain makan dan minum, menahan agar lisan tidak berucap sembarangan, atau dalam konteks saat ini adalah jari yang mengetik sesuka hati bukanlah hal yang mudah.
Betapa banyak orang yang mampu untuk tidak berbuka hingga matahari tenggelam, tetapi lisannya tidak terjaga dengan baik. Kalimat kasar, menyakiti hati orang lain, membicarakan keburukan kawan, hingga dusta yang dibuat-buat, sering muncul tanpa terkendali.
Sungguh ironis, ketika kita menahan diri agar hanya mengonsumsi yang halal, tetapi apa yang keluar dari lisan adalah sesuatu yang justru dicela.
Nabiyullah Muhammad ﷺ dalam satu kesempatan pernah mengingatkan,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh… (HR. Bukhari, 1894)
Maka, sejatinya puasa menjadi penahan tidak hanya rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan agar tidak berbicara sembarangan.
Puasa lisan jauh lebih berat daripada puasa perut. Jika perut hanya perlu menahan godaan aroma makanan, lisan harus menahan ego, amarah, dan keinginan untuk merasa lebih benar dari orang lain.
Jama’ah yang dirahmati Allah ﷻ, ada sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad rahimahullah tentang dua wanita di masa Nabi ﷺ yang sedang berpuasa. Meski hadits ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama, tetapi kita bisa mendapatkan hikmah yang luar biasa.
Dikabarkan bahwa ketika itu, kedua wanita yang berpuasa ini sedang menahan rasa lapar yang sangat hingga membuat keduanya hampir pingsan. Dengan kondisi tersebut, akhirnya mereka mengutus seseorang kepada Nabi ﷺ untuk meminta izin berbuka.
Rasulullah ﷺ, tidak secara langsung memberikan jawaban. Alih-alih, Beliau ﷺ kemudian meminta agar wanita tersebut datang menghadap. Selain itu, Beliau ﷺ juga meminta sebuah bejana.
Setelah wanita itu datang, seketika Nabi ﷺ meminta mereka untuk memuntahkan sesuatu di tubuh mereka. Meski dengan rasa penuh heran, karena bagaimana mungkin di tengah rasa lapar dan dahaga tersebut mereka bisa muntah?
Hanya saja, seketika keluar dari mulut mereka darah dan daging segar yang membuat orang-orang terkejut. Beliau ﷺ kemudian menjelaskan bahwa keduanya demikian karena puasanya hanya menahan makan dan minum saja, tetapi kegemarannya untuk membicarakan orang lain (memakan daging saudaranya) masih terus dilakukan.
Allah ﷻ berfirman di dalam QS. Al-Hujurat: 12,“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?…”
Secara lahir menahan lapar, tetapi secara batin ibadahnya rusak karena perbuatan yang tercela. Maka mari kita juga menahan diri dari lisan atau jari yang sibuk mengetik komentar tajam, menyebarluaskan kabar tanpa verifikasi kebenarannya, atau membicarakan keburukan orang lain.
Jama’ah yang dirahmati Allah ﷻ. Pesan kedua dari Nabi Muhammad ﷺ agar puasa kita bisa sempurna dan tak sia-sia adalah berusaha menjauhi perbuatan dusta atau maksiat.
Sehingga, puasa tidak hanya menuntut lisan yang bersih, tetapi juga perilaku yang lurus dan berbudi. Demikian, karena ketika kita menahan lapar tetapi maksiat tetap jalan, maka tujuan dari ibadah puasa tidaklah tercapai.
Sebagian salaf bahkan menasihatkan
صُمْ الدُّنْيَا وَاجْعَلْ فِطْرَكَ الْمَوْتَ
“Berpuasalah dari dunia, dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbukamu.
الدُّنْيَا كُلُّهَا شَهْرُ صِيَامِ الْمُتَّقِينَ
Seluruh kehidupan dunia adalah bulan puasa bagi orang-orang yang bertakwa.
Maka apabila kematian datang kepada mereka, sungguh telah berakhir bulan puasa mereka, dan mereka pun menyambut hari raya berbuka mereka.”
Demikianlah puasa mendidik kita agar konsisten dan istiqamah. Menahan diri dari syahwat, menahan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak baik. Ramadhan datang setiap tahun untuk memperbaiki kita.
Jika setelah sebulan penuh nantinya kita berlatih menahan diri, namun kemudian lisan tetap tajam dan perilaku tetap kasar, maka sesungguhnya puasa hanya menjadi ritual tahunan yang tak berbekas.
Mungkin tetap berpahala, hanya tujuan utamanya tidak tercapai dengan baik.
Jama’ah shalat tarawih rahimakumullah. Hadits Nabi ﷺ di atas sangat jelas. Dua hal yang menjadikan puasa tidak bernilai sempurna adalah perkataan dusta dan perbuatan maksiat.
Maka mari sempurnakan puasa kita agar tidak sia-sia. Semoga Allah ﷻ menerima sepenuhnya, bukan hanya mencatat lapar dan haus kita. Semoga Ramadhan membentuk akhlak kita, bukan sekedar mengubah jadwal makan kita. Amin.