Kultum Ramadhan #21: Dua Hal yang Terbaik dan Terburuk dalam Diri Oleh Ammar Syarifuddin (Staf Pengajar Ma’had Aly An-Nuur)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Dalam kitab an-Nawadir, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi menukilkan kisah Luqman an-Naubi al-Hakim bin Anqa’ bin Baruq.
Seorang ahli hikmah yang namanya diabadikan oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an.
Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Luqman al-Hakim menerima seekor kambing dari tuannya. Sang tuan meminta Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengantarkan bagian paling buruk, paling kotor, dari tubuh kambing itu.
Kemudian Luqman menyembelih kambing tersebut, mengulitinya, dan memotong daging demi daging sesuai kebutuhan.
Kemudian dia mengambil bagian lidah dan hati kambing tersebut lalu mengantarkannya kepada sang tuan.
Di hari berikutnya sang tuan memberinya seekor kambing dan memintanya untuk menyembelihnya lagi. Kali ini sang tuan meminta bagian yang paling bagus, paling menyehatkan.
Luqman menyembelih kambing tersebut dan membawakan untuk sang tuan lidah dan hati lagi.
Sang tuan bertanya, kenapa ia memberi bagian yang sama dengan kemarin. Padahal yang diminta kali ini adalah bagian yang paling bagus.
Maka Luqman menjawab, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati bila keduanya buruk, dan tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.”
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Apa yang disampaikan oleh Luqman al-hakim benar adanya. Bahwa dua hal tersebut sangat berpengaruh pada diri seseorang.
Rasulullah ﷺ juga telah mengabarkan hal tersebut. Beliau mengabarkan kepada kita urgensi keduanya, dan bagaimana cara menjaganya dengan baik.
Menjaga Hati
Dalam hadits riwayat Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari, 52)
Jama’ah shalat tarawih yang dirahmati Allah ﷻ.
Hadits di atas secara tegas menjelaskan bahwa hati sangat berpengaruh terhadap peribadi seseorang.
Oleh karena itu sebagian ulama menyebut bahwa hati adalah malikul a’dha’ (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). (Lihat Jami’ul ‘Ulum, 1/210)
Karena posisi hati begitu penting, maka kita harus menjaganya agar tetap baik, membersihkannya dan menyiramnya agar tetap subur.
Di antara cara terbaik untuk menjaga, membersihkan dan menyuburkan hati adalah dengan belajar ilmu agama.
Sebab dengan belajar, insyaAllah kita akan menjadi pribadi yang taat beribadah dan jauh dari maksiat.
Taat beribadah adalah obat yang dapat menyuburkan hati, sementara maksiat adalah adalah noda yang akan mengotori hati.
Selain itu kita juga memohon kepada Allah ﷻ agar hati kita senantiasa dijaga oleh-Nya. Sebagaimana doa Nabi ﷺ
Lisan adalah salah satu anugerah besar yang Allah ﷻ berikan kepada manusia. Melalui lisan, manusia dapat berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan perasaan.
Namun, di balik itu semua, lisan juga bisa menjadi sumber kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana cara menggunakannya.
Dalam Islam, menjaga lisan merupakan hal yang sangat ditekankan.
Rasulullah ﷺ menyebut orang yang pandai menjaga lisan dari hal-hal tidak bermanfaat sebagai orang yang baik keislaman dan kepribadiannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari, 1903)
“…Dan sesungguhnya hamba berbicara dengan ucapan yang menyebabkan kemurkaan Allah, yang tidak diperdulikannya, yang menjerumuskannya ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari, 6478)