Kultum Ramadhan #5: Dua Hal yang Paling Banyak Memasukkan Orang ke Surga Oleh Satrio Kusumo
Hadirin rahimakumullah, dalam ajaran Islam yang kita anut, tak jarang kita akan temukan jawaban dari Nabi ﷺ yang ringkas tapi sarat akan makna.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh para Sahabat selalu beliau jawab dengan jelas. Ini kemudian disebut oleh para ulama dengan jawami’ul kalim atau kalam yang ringkas namun padat makna.
Selain menjawab pertanyaan dari para Sahabat, salah satu metode Nabi ﷺ dalam mendidik umatnya adalah dengan melempar pertanyaan. Suatu waktu Beliau bertanya kepada Sahabat,
“Tahukah kalian apa yang paling banyak memasukkanmanusia ke dalam surga?”
Mendengar pertanyaan dari Manusia yang paling dicintai tersebut, membuat Sahabat merenung dan menunggu-nunggu jawaban nasihat dengan adab terbaik. Mereka kemudian berkata,
قالوا : اللهُ ورسولهُ أعلمُ
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah ﷺ lantas menjelaskan kepada mereka bahwa
قال : فإن أكثرَ ما يُدخلُ الناسُ الجنةَ تَقْوى اللهِ وحُسْنُ الخلقِ
“Sesungguhnya yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”
Pada hadits tersebut, pesan utama yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah takwa kepada Allah ﷻ. Takwa tentu bukan hanya sekedar rasa takut saja, tetapi juga kesadaran penuh bahwa hidup kita, mati kita, hanyalah untuk Allah ﷻ.
Kita menyadari dengan segenap hati bahwa Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan akan mengganjar setiap amal kita.
Suatu ketika salah seorang tabi’in yang bernama Thalq bin Habib al-’Anazi sebagaimana dikutip oleh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam ditanya tentang makna takwa.
“Takwa adalah engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah ﷻberdasar petunjuk dari-Nya dengan mengharap rahmat dari-Nya. Serta engkau juga meninggalkan kemaksiatan kepada Allah ﷻ berdasar petunjuk dari-Nya karena takut terhadap azab-Nya.”
Artinya, bahwa takwa ini mencakup ilmu kita terhadap syariat dan petunjuk dari Allah ﷻ, amal perbuatan kita, rasa harap kita kepada rahmat-Nya, dan juga rasa takut akan hukuman dari-Nya.
Sehingga ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan ilmu yang dimiliki, amalan yang dikerjakan, rasa harap yang dimunculkan, dan juga rasa takut yang ada di hatinya.
Inilah yang menjadi pondasi seluruh ibadah kita. Tanpanya, ibadah hanya menjadi gerak fisik. Shalat ditegakkan, tetapi hati tidak hadir menyertai.
Puasa dilakukan, tetapi lisan sibuk menyakiti. Sedekah diberikan, tetapi rasa sombong terpatri dalam hati.
Hadirin yang dirahmati Allah ﷻ, Ramadhan yang hari ini alhamdulillah masih bisa kita temui bukan hanya masa untuk sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas takwa kita.
Allah ﷻ menegaskan bahwa tujuan puasa sebagaimana yang sudah sangat kita hafal adalah agar bertambah ketakwaan setiap manusia kepada Rabbnya.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa adalah rem batin yang bekerja saat hukum manusia tak mampu menjangkau. Ia ada di saat yang lain tidak tahu apa yang tersembunyi di relung hati dan ketika kesempatan berbuat dosa terbuka lebar.
Seseorang yang memiliki ketakwaan dalam hatinya akan menahan lisan, bukan karena takut pada manusia, tetapi takut kepada Allah ﷻ.
Ia akan berusaha jujur, meski tak ada satupun yang mengetahui kebenarannya. Pun, hari ini, kita berpuasa bukan karena malu atau pun karena orang lain berpuasa.
Kita beribadah hanya karena Allah ﷻ memerintahkannya demikian. Oleh sebab itulah takwa menjadi salah satu kunci surga sebagaimana yang telah dikabarkan oleh baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Akhlak yang Baik kepada Manusia
Pada pesan Rasulullah ﷺ tersebut, beliau tidak hanya menunjukkan kepada kita tentang pentingnya menjaga hubungan kepada Allah ﷻ, tetapi juga menerangkan utamanya berperilaku baik kepada sesama.
Demikian, sebab bisa kita temui di sekitar kita, mereka yang terlihat sangat rajin beribadah, tetapi keras sikapnya kepada manusia. Ada pula yang sangat ramah, tetapi kewajibannya kepada Allah ﷻ dengan ringannya dilalaikan begitu saja.
Padahal, jika kita melihat kepada sikap Rasulullah ﷺ, maka kita akan jumpai sosok sempurna yang berperangai baik.
Tak ada satupun manusia yang sanggup mencela akhlak beliau, kejujuran beliau, dan juga rasa kasih beliau. Kawan atau lawan, semua mengakui kemuliaannya.
Sekaligus dalam diri beliau akan kita temukan sosok yang luar biasa hubungannya kepada Allah ﷻ. Bagaimana luar biasanya ibadah yang Beliau lakukan hingga membuat kaki-kakinya bengkak, istighfar yang dilakukan sepanjang hari meski sudah diampuni.
Inilah keseimbangan sempurna antara hablum minallah dan hablum minannas. Meskipun tentu kita tidak akan pernah bisa mencapai seperti apa yang dilakukan Baginda Nabi, tetapi setidaknya kita terus berupaya mencontoh dan meneladani Beliau.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ, takwa akan menjaga hati tetap lurus dan akhlak akan menjaga hubungan kita kepada sesama tetap harmonis. Dengannya kita akan terbentuk menjadi insan yang shalih baik secara individu maupun sosial.
Maka jika kita ingin memantaskan diri agar mendapat karunia dari Allah ﷻ, mari bertanya pada diri sendiri.
Sudahkan ibadah yang kita kerjakan melahirkan ketakwaan? Dan apakah orang-orang di sekitar kita merasa terganggu dengan kehadiran kita di sisi mereka?
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita sebagai hamba yang bertakwa dan juga berakhlak mulia. Wallahu a’lam bish-shawab.