Kultum Ramadhan #3: Dua Macam Husnudzan Oleh Ashabul Yamin
Jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan Allah ﷻ.
Dzan atau prasangka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari tanpa disadari, kita menilai, menafsirkan, dan menyimpulkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita.
Ketika melihat seseorang terlambat datang ke tempat kerja, ketika mendengar potongan cerita tentang orang lain, bahkan ketika menghadapi ujian hidup, hati kita spontan membangun sebuah prasangka (dzan).
Pada dasarnya, prasangka lahir dari ketidaktahuan akan fakta sebenarnya. Manusia jarang memiliki informasi yang benar-benar utuh. Ia hanya melihat sebagian kecil realitas, lalu merasa cukup untuk menarik kesimpulan.
Dari celah inilah prasangka tumbuh. Jika celah ini diisi dengan kebijaksanaan lahirlah husnudzan (baik sangka), jika diisi dengan kecurigaan, lahirlah su’udzan (buruk sangka).
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mematikan prasangka itu, sebab mustahil. Tapi Islam mengajarkan bagaimana cara mengelolanya.
Ketidaktahuan harus disikapi dengan adab. Minim informasi harus disikapi dengan kebijaksanaan, agar tak ada problem di kemudian hari.
Dua Macam Husnudzan
Husnudzan dalam Islam terbagi menjadi dua: kepada Allah ﷻ dan kepada manusia. Keduanya saling berkaitan dan membentuk karakter keseharian seorang mukmin.
Husnudzan kepada Allah ﷻ adalah keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah ﷻ mengandung hikmah, meskipun tidak selalu mudah dipahami. Ketika doa belum terkabul, misalnya, atau ketika usaha belum membuahkan hasil, ketika hidup terasa sempit.
Orang yang berhusnudzan tidak tergesa-gesa menyalahkan takdir. Ia percaya bahwa Allah ﷻ lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Husnudzan kepada Allah ﷻ melahirkan ketenangan. Ia membuat seseorang tidak mudah putus asa, tidak tenggelam dalam keluh kesah, dan tidak kehilangan harapan.
Husnudzan kepada Allah ﷻ bukan berarti menutup mata dari realitas, bukan pula kepolosan yang tanpa dasar. Tapi itu adalah optimisme yang berakar pada iman dan ilmu.
Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah ﷻ berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.
Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)
Mengenai makna hadits di atas, Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sebagian ulama mengatakan maknanya adalah, Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan.
Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat, dan Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan.” (Syarh Shahih Muslim, 17/3)
Sebaliknya, su’udzan kepada Allah ﷻ adalah awal dari kegelisahan batin. Ketika seseorang mulai merasa bahwa Allah tidak adil, tidak peduli, atau sengaja menyulitkannya, saat itulah imannya mulai rapuh.
Ia mudah marah kepada keadaan, mudah iri kepada orang lain, dan perlahan menjauh dari ibadah. Padahal, masalahnya bukan pada takdir, melainkan dari cara pandangnya terhadap takdir.
Jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan Allah ﷻ.
Husnudzan Kepada Manusia
Selain kepada Allah ﷻ, husnudzan juga harus dibangun kepada sesama manusia. Dalam kehidupan sosial, prasangka sering menjadi sumber utama konflik.
Banyak hubungan rusak bukan karena kesalahan nyata, tetapi karena dugaan-dugaan yang tidak pernah diklarifikasi. Pesan Whatsapp yang terlambat dibalas bisa ditafsirkan sebagai sikap meremehkan.
Sebuah wajah yang tampak murung dianggap sebagai tanda kebencian. Padahal, bisa jadi orang tersebut sedang lelah, sakit, atau menghadapi masalah pribadi.
Dengan bersikap husnudzan kepada manusia berarti sejatinya kita sedang memberi ruang bagi kemungkinan-kemungkinan baik tidak tergesa-gesa menghakimi seseorang.
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
“Apabila sampai kepadamu tentang saudaramu sesuatu yang engkau benci, maka carikanlah untuknya alasan (uzur). Jika engkau tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah pada dirimu: ‘Barangkali ia memiliki alasan yang aku tidak tahu.”
Jama’ah shalat tarawih yang dimuliakan Allah ﷻ.
Ketika seseorang mampu memelihara sikap husnudzan dalam hubungannya dengan Allah ﷻ dan manusia, sebenarnya dia sedang membangun ketenangan dan kedamaian dalam dirinya.
Ketenangan itu nantinya akan memancar dalam tutur kata, sikap, dan caranya menjalani hidup. Inilah buah yang diharapkan dari sikap husnudzan itu.
Ramadhan hadir sebagai madrasah hati yang mengajarkan manusia untuk husnudzan kepada Allah ﷻ dan sesama manusia. Dalam lapar dan dahaga, kita belajar berharap pada ampunan-Allah dan percaya bahwa setiap amal ibadah sekecil apapun tak akan sia-sia.
Ibadah puasa juga mensyaratkan untuk menjaga prasangka dan memperbaiki interaksi sesama manusia; menahan emosi, kata-kata kasar, marah, menipu, dan semisalnya, serta menggantinya dengan empati dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Jika kita melanggar larangan itu, puasa kita meskipun dalam fikih hukumnya tetap sah (dalam arti tidak harus mengqadha’), tapi bisa jadi tidak memperoleh pahala yang sempurna dari ibadah puasa kita. Wallahu a’lam bish-shawab.